By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Kajian Dosen TRKI SV Undip, Penanganan Karhutla dengan Pati Singkong
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsPendidikan

Kajian Dosen TRKI SV Undip, Penanganan Karhutla dengan Pati Singkong

Last updated: 28 Agustus 2026 13:09 13:09
Jatengdaily.com
Published: 28 Agustus 2026 13:06
Share
Ilustrai. Foto: Humas Kemenhut
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)  yang semakin kompleks, inovasi tidak lagi cukup berhenti pada gagasan—ia harus mampu menjelma menjadi solusi yang ilmiah, aman, efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Perspektif inilah yang menarik dalam kajian Dr. Mohamad Endy Julianto, dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip), terhadap gagasan pemanfaatan pati singkong sebagai basis teknologi pemadaman kebakaran. Kajian tersebut tidak sekadar melihat singkong sebagai bahan sederhana yang mudah ditemukan, tetapi membedahnya dari perspektif teknik kimia, ilmu material, transport phenomena, process safety, hingga rekayasa pemadaman kebakaran.

Menariknya, kajian ini sekaligus memberikan perspektif ilmiah yang jauh lebih presisi terhadap istilah populer “ubi bombing”. Pati singkong bukanlah zat pemadam api secara alami.

Justru, pati merupakan material organik yang dapat terbakar. Karena itu, pendekatan yang lebih rasional adalah merekayasa pati singkong menjadi formulasi berbasis air, seperti water-enhancing agent, gel suppressant, atau hidrogel, sehingga air mampu melekat lebih lama pada vegetasi, menyerap panas, mempertahankan kelembapan, dan memperlambat penyebaran api. Dengan kata lain, yang menjadi kekuatan bukan sekadar tepungnya, melainkan rekayasa material yang mengubah pati menjadi sistem pemadam yang lebih fungsional.

Di sinilah keunggulan pendekatan rekayasa kimia terlihat. Pati singkong memiliki gugus hidroksil yang bersifat hidrofilik sehingga dapat berinteraksi dengan air. Melalui proses seperti gelatinisasi, modifikasi, grafting, dan cross-linking, pati berpotensi dikembangkan menjadi jaringan hidrogel yang mampu mempertahankan air lebih lama.

Konsepnya sederhana tetapi sangat kuat: pati singkong → rekayasa formulasi → hidrogel → air tertahan → adhesi meningkat → panas terserap → temperatur bahan bakar menurun → propagasi api terhambat.

Kajian Dr. Endy semakin menarik karena tidak berhenti pada konsep pemadaman, tetapi masuk ke persoalan bagaimana membuat teknologi tersebut benar-benar dapat bekerja di lapangan. Formulasi ideal harus memiliki keseimbangan antara viskositas, kemampuan menyerap air, adhesi, kemudahan dipompa, kemampuan disemprotkan, serta ketahanan terhadap evaporasi dan runoff. Bahkan karakter shear-thinning menjadi sangat penting: material cukup encer ketika dipompa dan disemprotkan, tetapi mampu menjadi lebih melekat setelah mencapai permukaan vegetasi. Inilah wilayah pertemuan antara rekayasa kimia, mekanika fluida, dan rheology.

Lebih jauh, gagasan tersebut membuka peluang pengembangan menuju cassava-starch-based biodegradable water-enhancing fire suppressant atau bahkan cassava-starch-based superabsorbent hydrogel for wildfire suppression.

Pengembangannya dapat diarahkan secara bertahap, mulai dari starch water enhancer, kemudian superabsorbent hydrogel, hingga formulasi multifungsi yang mengombinasikan cooling, wetting, adhesion, water retention, dan flame inhibition. Konsep inilah yang berpotensi menjadikan bahan lokal Indonesia sebagai bagian dari teknologi pemadaman karhutla generasi baru.

Namun, justru karena kajian ini berangkat dari perspektif ilmiah, Dr. Endy menempatkan keselamatan dan pembuktian sebagai fondasi. Tepung singkong kering tidak boleh begitu saja dianggap aman untuk “dijatuhkan” ke api karena pati dalam bentuk debu dapat memiliki risiko combustible dust. Parameter seperti minimum ignition energy, Kst, Pmax, particle-size distribution, dan moisture content perlu dievaluasi.

Karena itu, pendekatan yang lebih rasional adalah water bombing with cassava-starch-based suppressant formulation, bukan sekadar menjatuhkan tepung kering ke titik api.

Kajian ini juga menunjukkan bahwa teknologi tersebut harus melewati perjalanan pembuktian yang ketat: mulai dari uji laboratorium, small-scale fire test, hingga field trial. Parameter seperti swelling ratio, water retention, rheology, evaporation rate, flame spread, heat release rate, dan fuel mass loss harus diukur secara objektif. Bahkan efektivitas harus dibandingkan dengan air biasa dan commercial water enhancer, sehingga keunggulan teknologi dapat dibuktikan berdasarkan data, bukan sekadar klaim.

Pada akhirnya, kekuatan kajian Dr. Mohamad Endy Julianto terletak pada keberaniannya mengubah sebuah gagasan populer menjadi pertanyaan rekayasa yang dapat diuji secara ilmiah. Pati singkong tidak diposisikan sebagai “bahan ajaib” yang otomatis memadamkan api, melainkan sebagai platform biomaterial yang berpotensi direkayasa menjadi teknologi pemadam yang lebih efektif dan berkelanjutan. Bahkan untuk karakter karhutla gambut yang memiliki surface fire, smoldering fire, dan deep-seated fire, teknologi ini harus ditempatkan sebagai teknologi komplementer, bukan solusi tunggal.

Inilah wajah riset TRKI Sekolah Vokasi Undip yang sesungguhnya: melihat persoalan nasional dengan kacamata rekayasa, mengubah bahan lokal menjadi peluang teknologi, lalu mengujinya dengan standar keselamatan dan pembuktian yang ketat. Dari pati singkong menuju hidrogel pemadam, dari gagasan sederhana menuju inovasi berkelas, kajian Dr. Mohamad Endy Julianto memperlihatkan bahwa masa depan teknologi Indonesia dapat tumbuh dari bahan yang dekat dengan masyarakat—ketika ilmu pengetahuan, keberanian berinovasi, dan ketelitian engineering berpadu menjadi satu. she

You Might Also Like

Kerinduan Bertemu Guru Terobati Saat PTM
Idealnya Semua Warga NU di PKB
Senin Besok, Pemkot Semarang Gelar Pasar Murah
Sowan Ponpes Wali, Gibran Dorong Digitalisasi Pengelolaan Pesantren
Tingkatkan Kemandirian Ekonomi melalui Pelatihan Pemasaran Digital Kelompok Usaha di PPS Mardi Utomo Semarang
TAGGED:Dosen Vokasi Undip Penanganan Karhutla pati singkongkarhutlaPati Singkongsekolah vokasi UNDIP
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?