By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: ​Kala Wastra, Musik Jazz, dan Kuliner Nusantara Menghidupkan Kembali Jejak Kolonial SKOLA Semarang
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

​Kala Wastra, Musik Jazz, dan Kuliner Nusantara Menghidupkan Kembali Jejak Kolonial SKOLA Semarang

Jatengdaily.com
Published: 6 September 2026 14:42
Share
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, S.E., M.A.P menikmati hidangan di SKOLA. Foto: dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Di balik dinding berarsitektur klasik Jalan Merak Nomor 29, Tanjung Mas, nostalgia masa lalu dan kehangatan tradisi melebur menjadi satu.

Bangunan yang kini dikenal sebagai SKOLA Courtyard & Restaurant ini dahulunya merupakan gedung sekolah zaman kolonial Belanda.

Nama “SKOLA” sendiri dipetik dari kata skola (sekolah), sebuah bentuk penghormatan mendalam terhadap sejarahnya sebagai ruang belajar di masa lampau. Namun, pada Sabtu malam itu, suasana SKOLA terasa jauh berbeda dari biasanya.

​Para tamu hadir dalam balutan wastra terbaik dari berbagai penjuru Nusantara. Helai demi helai kain tradisional hingga busana bernuansa etnik yang dikemas elegan berkelebat di bawah pendar lampu, menghadirkan atmosfer hangat nan megah layaknya sebuah gala dinner.

Para tamu hadir dalam balutan wastra terbaik dari berbagai penjuru Nusantara. Foto: dok

​Malam istimewa tersebut merupakan bagian dari Moderne Rijsttafel: Semaja Take Over SKOLA, sebuah perayaan kuliner yang menjadi agenda meriah dalam rangkaian Festival Kota Lama Semarang 2026.

Melalui konsep Rijsttafel yang diinterpretasikan secara modern, para tamu diajak bertualang melintasi ragam rasa Indonesia—cukup dari satu meja makan.

​Dalam gelaran Festival Kota Lama tahun ini, SKOLA mendapat kehormatan untuk menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar memanjakan lidah, melainkan juga merayakan sejarah, budaya, dan keberagaman.

Berkolaborasi dengan Semaja Indonesia, perjalanan rasa ini dikurasi secara presisi oleh Chef Glenn Erari lewat sentuhan teknik kuliner modern tanpa merusak jiwa tradisinya.

​“Yang membedakan Moderne Rijsttafel dengan yang biasa adalah teknik memasaknya, dengan berbagai hal yang lebih kompleks, tetapi bisa kita buat lebih modern tanpa harus menghilangkan akar budaya dari makanan itu sendiri,” tutur Chef Glenn Erari di sela-sela acara.

​Sentuhan unik terlihat dari alur perjalanan rasanya. Petualangan justru diawali dari Indonesia bagian Timur melalui sajian gurih roti abon khas Papua, lalu beranjak perlahan menyusuri wilayah Indonesia Tengah hingga bermuara di Sumatra.

Sebanyak 14 hidangan disajikan bergantian, masing-masing membawa cerita dan identitas dari sudut-sudut Nusantara.

​Lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi pembuka yang khidmat, disusul sambutan hangat dari Ketua Pelaksana Festival Kota Lama Semarang, Agus Suryono; perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, S.E., M.A.P.; serta Ketua OEN Foundation sekaligus pemilik Toko Oen Semarang, Jenny Megaradjasa.

​General Manager SKOLA, Ricky Meidhyantara, mengungkapkan visi besar di balik tempat bersejarah ini. Baginya, SKOLA kini telah bertransformasi dari sekadar tempat singgah untuk bersantap menjadi ruang hidup bagi masyarakat.

​“Kami ingin memperkenalkan SKOLA bukan hanya sebagai sebuah restaurant dan courtyard untuk berkumpul, tetapi juga sebagai sebuah community space—tempat di mana berbagai komunitas, kreativitas, budaya, dan kuliner dapat bertemu dan dirayakan bersama,” jelas Ricky.

​Kekayaan tradisi malam itu kian hidup lewat Wastra Show. Para penggiat wastra Indonesia melangkah anggun di atas catwalk, memamerkan koleksi kain dan busana tradisional daerah sebagai pementasan pembuka sebelum perjalanan kuliner dimulai.

Suasana semakin intim dan elegan saat alunan jazz klasik dari maestro Nita Aartsen mengalir lembut, menemani para tamu menikmati tiap suapan.

Suasana semakin intim dan elegan saat alunan jazz klasik dari maestro Nita Aartsen mengalir lembut. Foto: dok

​Bagi Jenny Megaradjasa, dinamika seperti ini adalah nafas bagi pelestarian kawasan bersejarah Kota Lama.

​“Harapannya, di tahun-tahun selanjutnya Festival Kota Lama akan terus ada dan bisa menggandeng teman-teman pengusaha yang ada di kawasan Kota Lama agar budaya dan sejarahnya dapat terus terjaga melalui event seperti ini,” ungkap Ketua OEN Foundation tersebut.

​Melalui Moderne Rijsttafel, SKOLA tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga merawat memori kolektif sebuah gedung tua. SKOLA berharap dapat terus menjadi bagian penting dari ekosistem kreatif dan budaya Kota Lama Semarang—menjadi rumah hangat tempat masyarakat merayakan Indonesia melalui kuliner, musik, busana, dan kebersamaan. St

You Might Also Like

Semarang Punya Potensi Hasilkan Penulis Berprestasi
Larangan Mudik Langkah Tepat Cegah Penyebaran Covid-19
Meskipun Sedang Hamil, Tengku Dewi akan Gugat Cerai Andrew Andika
Lebaran, Pemerintah Janji Stok Beras Aman
Penyelamatan Pilot Susi Air Berfokus di Kabupaten Nduga
TAGGED:Jejak Kolonial SKOLA Semarang​Kala WastraKuliner NusantaraMenghidupkan KembaliMusik Jazz
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?