Ketika NU Kehilangan Suara Pelannya

9 Min Read

Catatan Percakapan dengan Gus Yusuf Chudlori

Oleh : Anis Maftukhin

Saya sowan beliau pada suatu malam yang basah di Pondok Pesantren API Tegalrejo. Gerimis turun pelan di halaman pesantren. Beberapa santri masih mondar-mandir di pelataran dengan sarung dinaikkan sedikit agar tak terkena cipratan air hujan. Dari arah komplek asrama santri terdengar suara sayup-sayup para santri melalar kitab Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah karya KH Muhammad Ma’shum bin Ali. Suara mereka naik-turun dalam irama yang khas, diselingi bunyi *klothekan*—tabuhan kecil ke meja kayu di depan mereka—yang terdengar teratur seperti detak malam pesantren itu sendiri.

Malam di pesantren selalu punya caranya sendiri untuk terasa teduh.

Saya dan seorang kawan diterima Gus Yusuf di ruang tamu lesehan yang sederhana. Karpetnya tidak baru. Di tengah ruangan ada asbak kaca, kopi hitam, dan beberapa piring kecil berisi kacang kulit, pisang goreng, dan singkong rebus yang mulai dingin. Di bagian dalam ndalem terlihat sebuah aquarium yang lumayan besar. Gemericik airnya terdengar pelan di sela percakapan, sementara ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang tenang di antara batu dan tanaman air, seperti ikut menjaga suasana malam tetap teduh. Beberapa wali santri masih tampak sowan. Ada yang meminta doa, ada yang bercerita tentang anaknya yang belum betah mondok, ada pula yang sekadar ingin mencium tangan lalu pulang dengan hati lega.

Gus Yusuf melayani mereka satu per satu tanpa tergesa. Sesekali beliau tertawa kecil. Sesekali hanya mengangguk sambil mengucap pelan, “nggih… nggih…”

Belakangan, nama Gus Yusuf memang mulai sering disebut dalam pembicaraan tentang Muktamar NU 2026. Sejumlah kiai muda dan beberapa kelompok pesantren diam-diam mendorongnya sebagai salah satu figur yang dianggap mampu menjembatani ketegangan di tubuh PBNU hari ini. Tapi malam itu ia tampak sama sekali tidak sedang bicara sebagai kandidat apa pun. Ia lebih mirip seorang santri tua yang sedang cemas melihat rumah besarnya sendiri mulai terlalu gaduh.

Setelah para tamu pamit dan suara langkah mereka hilang ditelan gerimis, percakapan kami mulai mengental. Sudah lewat tengah malam.

Gus Yusuf mengambil sebatang rokok kretek dari bungkus yang terlipat di dekat asbak. Beliau menyalakannya perlahan. Saya ikut menyalakan rokok. Sesaat ruangan dipenuhi aroma tembakau bercampur kopi dan udara dingin sesudah hujan.

Kami mulai berbincang tentang NU. Tentang keadaan PBNU yang beberapa bulan terakhir tampak gaduh. Tentang pernyataan-pernyataan terbuka. Tentang ancaman muktamar luar biasa. Tentang forum-forum konsolidasi yang saling mengklaim menjaga marwah organisasi.

Beliau diam cukup lama sebelum mulai bicara.

“NU itu dulu dibangun dengan suara pelan,” katanya akhirnya.

Saya tidak langsung mengerti.

Beliau tersenyum kecil sambil membuang asap rokok pelan ke samping.

“Bukan berarti dulu nggak ada konflik,” lanjutnya. “Ada. Kiai-kiai zaman dulu juga beda pendapat. Keras malah kadang. Tapi yang dijaga itu nadanya.”

Lalu Gus Yusuf bercerita tentang para kiai sepuh yang pernah dikenalnya. Tentang bagaimana keputusan-keputusan besar sering lahir bukan dari rapat panjang dengan mikrofon, melainkan dari obrolan malam yang sederhana. Kadang hanya beberapa orang. Kadang diselingi diam yang panjang.

“Kalau sekarang,” katanya pelan, “semua ingin cepat didengar.”

Di luar, suara hujan tinggal rintik-rintik kecil di genting pesantren. Dari kejauhan suara lalaran santri masih terdengar samar, memanjang bersama dingin malam.

“Dulu itu,” lanjut Gus Yusuf, “orang NU kalau ada masalah, pertama yang dijaga itu jangan sampai jamaah bingung. Sekarang yang terjadi kadang justru jamaah disuruh ikut bingung.”

Ia tertawa kecil sesudah mengucapkan itu. Tapi ada nada letih yang tak bisa disembunyikan.

Memang ada sesuatu yang terasa asing dalam konflik NU belakangan ini. Bukan konfliknya sendiri. NU terlalu tua untuk steril dari perbedaan. Dalam sejarahnya, organisasi ini berkali-kali melewati pertentangan besar: soal politik, kepemimpinan, hubungan dengan negara, bahkan soal arah perjuangan.

Tetapi kali ini yang terasa berbeda adalah cara konflik itu dipertontonkan.

Terlalu terbuka.

Terlalu cepat.

Terlalu bising.

Nama-nama kiai disebut di mana-mana. Pernyataan beredar tiap hari. Media sosial berubah menjadi gelanggang tafsir konstitusi organisasi. Orang-orang saling mengutip AD/ART dengan nada seperti sedang membacakan dakwaan di pengadilan.

Padahal, kata Gus Yusuf malam itu, NU sebenarnya lahir dari tradisi menahan diri.

“Di pesantren,” katanya, “santri itu diajari bahwa suara keras di depan guru saja sudah dianggap kurang adab. Lah ini sekarang semuanya teriak.”

Beliau lalu mengutip pelan satu bagian dari Muqaddimah Qānūn Asāsī: tentang larangan bercerai-berai dan perintah berpegang pada tali Allah bersama-sama.

“Itu bukan sekadar ayat tempelan,” katanya. “Hadratussyaikh itu sedang membangun akhlak berjamaah.”

Di titik itu saya mulai merasa bahwa yang sedang beliau khawatirkan bukan semata konflik organisasi. Melainkan perubahan watak.

NU, menurut Gus Yusuf, perlahan sedang bergeser dari budaya musyawarah pesantren menuju logika organisasi modern yang terlalu sibuk menghitung kekuatan material. Dan dalam dunia seperti itu, segala sesuatu akhirnya sering diukur dari:

–  seberapa besar akses kekuasaan,

–  seberapa kuat sumber dana organisasi,

–  seberapa luas pengaruh ekonomi yang dimiliki.

Beliau lalu menyinggung, tanpa menyebut terlalu banyak nama atau peristiwa, tentang dorongan agar NU ikut masuk terlalu jauh ke wilayah-wilayah ekonomi praktis yang selama ini asing dari watak dasar jam’iyyah.

“Sekarang ini,” katanya pelan, “NU kadang dipaksa merasa harus besar secara materi supaya dianggap kuat.”

Beliau menghembuskan asap rokok perlahan.

“Misalnya soal tambang itu,” lanjutnya. “Seolah-olah NU baru dianggap mandiri kalau mengelola tambang, punya usaha besar, punya kekuatan ekonomi raksasa.”

Ia lalu diam sebentar.

“Padahal NU ini sejak dulu kuat bukan karena tambang.”

Kalimat itu meluncur tenang, tapi terasa dalam.

Menurut Gus Yusuf, kekuatan NU justru lahir dari sesuatu yang tidak selalu bisa dihitung secara ekonomi:

–  keikhlasan para kiai kampung,

–  doa-doa santri,
– jamaah kecil yang istiqamah menjaga pengajian,

– dan kepercayaan masyarakat yang tumbuh pelan selama puluhan tahun.

“NU itu organisasi spiritual,” katanya. “Dari dulu bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. Yang membuat NU bertahan hampir satu abad itu bukan modal materi. Tapi barakah, kepercayaan, dan khidmah.”

Beliau khawatir, ketika NU terlalu sibuk mengejar simbol-simbol kekuatan modern, jam’iyyah ini justru perlahan kehilangan sesuatu yang paling pokok: kesederhanaan batinnya sendiri.

“Kalau semua diukur untung-rugi,” katanya, “lama-lama orang lupa bahwa ada hal-hal yang dijaga bukan karena menguntungkan, tapi karena itu amanat.”

Lalu ia berhenti sejenak. Seolah sedang menimbang apakah kalimat berikutnya perlu diucapkan atau tidak.

“Kalau nanti NU ingin kembali teduh,” katanya pelan, “yang pertama harus dibangun itu bukan strategi politiknya. Tapi kepercayaan antarorang NU sendiri.”

Ia mulai bicara tentang sesuatu yang terdengar seperti gagasan, sekaligus kegelisahan.

Bahwa PBNU ke depan, menurutnya, perlu lebih banyak mendengar wilayah dan cabang, bukan hanya sibuk di pusat. Bahwa hubungan Syuriyah dan Tanfidziyah harus dikembalikan menjadi hubungan saling menjaga, bukan saling mengunci legitimasi. Bahwa para kiai sepuh mesti kembali difungsikan sebagai peneduh, bukan sekadar simbol yang dipanggil saat konflik membesar.

“NU ini terlalu besar kalau diurus dengan ego kelompok,” katanya. “Harus ada yang mau mengalah dulu untuk menyelamatkan jamaah.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru karena sederhana, ia terasa berat.

Kepercayaan, kata Gus Yusuf, lahir dari hal-hal kecil:

–  kiai yang tak suka mempermalukan orang,

–  pengurus yang tahu kapan harus diam,

– ulama yang lebih takut fitnah daripada kehilangan jabatan.

Beliau kembali terdiam cukup lama.

Asbak mulai penuh. Kopi tinggal separuh. Malam terasa makin dalam.

Lalu dengan suara yang hampir seperti gumaman, Gus Yusuf berkata:

“Kalau NU kehilangan suara pelannya, nanti lama-lama NU kehilangan pendengarannya juga.”

Saya tidak menjawab.

Entah kenapa, malam itu saya merasa sedang mendengar lebih dari sekadar keluhan seorang kiai tentang konflik organisasi. Ada semacam harapan yang disampaikan pelan-pelan: bahwa NU masih mungkin kembali menjadi rumah yang teduh, asalkan ada yang bersedia mengembalikan adab ke tengah gelanggangnya.

*Pengasuh Ponpes Wali, Salatiga, Pegiat Literasi Islam (IG : @gus_anies). Jatengdaily.com-st

Share This Article