Oleh: Ahmad Rofiq
MARI kita terus bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, hari ini kita berada di tanggal 23 Ramadhan 1447 H dalam keadaan sehat afiat dan dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh kekhusyu’an dan keikhlasan. Iman dan taqwa kita adalah kenikmatan dan keutamaan dari Allah yang terbesar, yang tidak bisa kita nilai dengan apapun.
Shalawat dan salam terus kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau, semoga meluber pada kita semua, dan kelak kita mendapat syafaat tokoh yang kita cintai dan idolakan Bersama. Amin.
Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmah dan maghfirah ini, hanyalah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Allah memberi kesempatan dengan hadirnya bulan suci Ramadhan ini, agar kita sebagai hamba-Nya mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, mensucikan hati dan pikiran, dari segala macam dosa.
Seberapa hati dan pikiran kita bergembira menerima dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan? Apabila hati dan fikiran kita sehat, maka kita dapat dengan mudah merasakan manis dan lezatnya iman.
Allah SWT berfirman : 1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan;
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
Malam kemuliaan dikenal dengan malam Lailatul Qadr, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.
Tidak ada keragu-raguan lagi bagi kita, bahwa pada malam lailatul qadar tersebut Allah menurunkan para malaikat untuk membawa rahmat dan kasih saying Allah, dilimpahkan kepada hamba-hamba Allah yang memanfaatkan untuk mendekatkan diri bertaqarrub dan bermunajat kepada-Nya.
Nabi saw bersabda, “pintu langit dibuka di malam Lailatul qadar, tidak ada seorang hamba yang shalat di dalamnya, kecuali Allah menjadikan baginya, pada setiap takbir, laksana menanam pohon di surga, sekiranya dia berjalan seseorang yang mengendarai dalam bayangan keteduhannya 100 tahun, sungguh tidak mampu melewatinya.
Pada setiap rakaat, dinilai satu rumah di surga dari intan, permata, batu permata seperti zamrud, dan mutiara, dan pada setiap ayat bacaannya dalam shalat ibarat mahkota di surga, dan pada setiap duduk, adalah derajat dari ketinggian surga, dan pada setiap salam perhiasan dari perhiasan surga” (Zubdah al-Wa’idhin).
Allah juga berjanji akan mengabulkan seluruh doa dan permohonan kita. Karena itu pula Allah memerintahkan kepada kita untuk berdoa dan memohon kepada-Nya. Empat hari lagi kita memasuki malam ganjil di sepuluh hari terakhir (al-‘Asyr al-awakhir).
Beberapa riwayat shahih, Rasulullah saw menganjurkan untuk berjihad meraih kemuliaan Lailatul Qadar di Malam ganjil, yang dinantikan oleh hamba-hamba Allah dan kekasih-Nya yang ingin bermanja-manja dan bermesra-mesra dengan penuh ketawadlu’an dan kekhusyu’an kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah, 2:186).
Kapan malam kemuliaan itu tiba, tampaknya dirahasiakan oleh Allah. Para Ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan, malam pertama Ramadhan, ada tanggal 17 Ramadhan, ada yang berpendapat 10 hari terakhir.
Namun mayoritas Sahabat dan Ulama menyatakan 27 Ramadhan. Seorang Ulama Sufi menyatakan pengalamannya, bahwa selama hidupnya dia menjumpai malam lailatul qadar itu pada malam 27 Ramadhan.
Ada yang menghitung bahwa huruf lailatul qadar terdiri dari 9 huruf, dan disebut sebanyak 3 kali dalam al-Qur’an, maka tanggal 27 Ramadhan. Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra. mengatakan:
Nabi saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir bersungguh-sungguh menyingkirkan selimut beliau, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarga beliau”.
Yang jelas kesepakatan Ulama menjelaskan, bahwa “kerahasiaan” tersebut dimaksudkan, agar hamba-hamba Allah agar berusaha dan bekerja keras, untuk meraihnya dengan memperbanyak ibadah di malam-malam tersebut, sebagaimana dirahasiakannya saat-saat mustajabah di hari jumat, sebagaimana shalat wustha dari shalat lima waktu, dan nama yang Agung dari sekian banyak nama, dan untuk meraih ridha-Nya agar kita berjuang untuk meraihnya di semua malam-malam kemuliaan itu”.
Mengakhiri khutbah ini mari kita tadabburi firman Allah QS Al-Fathir: 32: “Kemudian kitab suci itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang mendzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar”.
Riwayat Ibnu Abbas, tentang Umat Muhammad yang dipilih itu, kepada yang mendzalimi diri sendiri diampuni oleh Allah, kepada pertengahan dihisab dengan mudah, dan yang lebih dulu berbuat kebaikan, akan masuk surge tanpa hisab.
Semoga momentum bulan puasa ini, dapat membawa pengaruh positif bagi para diri kita sesuai profesi masing-masing, setidaknya masuk golongan yang menengah, syukur kita masuk dalam kelompok yang sabiqun bi l-khairat, sehingga akan masuk surge tanpa hisab. Amin.
Semoga kita diijinkan oleh Allah SWT, dan meraih kemuliaan lailatul qadar, meraih kebahagiaan saat mengakhiri puasa,membayar zakat fitrah dan mal, dan diijinkan berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Anggota Dewan Pakar Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah, alumnus Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com-St


