SEMARANG (Jatengdaily.com) – Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) meneguhkan perannya sebagai pusat kajian dan simbol Islam Nusantara.
Pengurus MAJT, Drs H Istajib AS, mengatakan masjid yang dibangun pada tahun 2002 dan diresmikan pada 2006 itu mengusung sikap moderat dan toleran dalam mengemban misi dakwah, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Tengah.
Istajib dalam dialog Kurma (Kupasan Ramadan Penuh Makna) di MAJT, Senin 2 Maret 2026 menjelaskan, bahwa Islam Nusantara merupakan konsep ajaran Islam yang dipadukan dengan budaya lokal Jawa.
Ia menuturkan, pada masa awal perkembangan Islam di tanah Jawa, dakwah dilakukan para Wali Songo yang kemudian dilanjutkan para kiai dan tokoh Islam hingga terbentuk corak Islam Nusantara.
Ia menegaskan, Islam Nusantara bukanlah agama baru. “Ini adalah sebuah pemahaman dan cara berpikir. Islam Nusantara dengan Islam yang lahir pertama kali di Arab, di Mekkah dan Madinah, pada dasarnya sama. Hanya terdapat perbedaan kecil dalam aspek amaliah,” ujar Istajib dalam dialog dengan topik “MAJT Simbol Islam Nusantara” yang disiarkan MAJT TV.
Istajib menambahkan, sebelum masuknya Islam, masyarakat Indonesia telah memeluk agama Hindu dan Buddha.
Menurutnya, Islam berkembang di Indonesia melalui pendekatan yang toleran terhadap budaya dan tradisi setempat. Para wali mengedepankan cara dakwah yang moderat.
Ciri khas Islam Nusantara, lanjutnya, adalah moderat, seimbang, adil, dan toleran, tanpa meninggalkan prinsip kemurnian ajaran Islam.
Ia menjelaskan, Islam Nusantara memadukan ajaran agama dengan budaya lokal tanpa mengubah nilai-nilai dasar Islam. Sebagai contoh, tradisi selamatan yang dahulu dilakukan di tempat-tempat yang dianggap keramat kemudian diarahkan menjadi kegiatan doa bersama dengan membaca Surah Yasin dan Al-Qur’an.
“Dengan cara itu, masyarakat yang sebelumnya menjalankan tradisi Hindu-Buddha dapat menerima Islam karena melihat keluwesan ajarannya,” ungkapnya.
Ciri lain Islam Nusantara, kata Istajib, adalah berwawasan kebangsaan dan berkomitmen menjaga keutuhan bangsa dengan mempertahankan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, serta NKRI.
Ia menegaskan, Indonesia merupakan negara yang majemuk dengan beragam agama yang harus saling dihormati.
MAJT sebagai simbol Islam Nusantara juga tercermin dari keberagaman tamu yang berkunjung. Ia menyebutkan, setiap 1 Syawal atau Idulfitri, para tokoh lintas agama hadir untuk bersilaturahmi dan saling bermaafan dengan para kiai di MAJT.
Dalam sesi interaktif, seorang mahasiswa Undip, Ihwan, menanyakan apakah Islam Nusantara dapat menyatukan pemikiran berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia, termasuk dalam penentuan awal Ramadan dan Idulfitri.
Menanggapi hal itu, Istajib menyatakan perbedaan merupakan rahmat selama tidak menyentuh persoalan mendasar, yakni Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam.
“MAJT memandang perbedaan sebagai hal yang wajar. Bahkan, perbedaan dapat menjadi ruang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan menggelorakan semangat Islam,” pungkasnya.
Di akhir dialog, Istajib kembali menegaskan bahwa Islam yang didakwahkan di MAJT adalah Islam yang universal, toleran, moderat, dan adil. St


