By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Malam Selikur di MAJT: Dari Anak-Anak hingga Lansia Bersujud Menjemput Lailatul Qadar
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Malam Selikur di MAJT: Dari Anak-Anak hingga Lansia Bersujud Menjemput Lailatul Qadar

Last updated: 11 Maret 2026 13:02 13:02
Jatengdaily.com
Published: 11 Maret 2026 13:02
Share
Para jemaah memadati ruang shalat MAJT untuk mengikutui shalat malam selikur, memohon datangnya Lailatul Qadar. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Malam itu terasa berbeda di pelataran Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Gayamsari, Kota Semarang. Angin malam berembus lembut, lampu-lampu masjid menyala terang, dan langkah-langkah jamaah datang tanpa henti sejak petang hingga menjelang subuh, Selasa malam–Rabu dini hari (10–11/3/2026).

Malam itu adalah malam selikur, malam ke-21 Ramadan 1447 H—salah satu malam yang diyakini menyimpan kemungkinan hadirnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sejak matahari tenggelam, masjid kebanggaan warga Jawa Tengah itu perlahan berubah menjadi lautan manusia yang datang dengan harapan yang sama: beritikaf, menghidupkan malam, dan mengetuk pintu langit dengan doa-doa mereka.

Ruang utama masjid mulai dipenuhi jamaah bahkan sebelum azan Magrib berkumandang. Mereka duduk berkelompok di atas karpet, membuka bekal, atau menunggu waktu berbuka dengan tenang. Pengurus masjid menyediakan hidangan berbuka sederhana, yang dinikmati bersama oleh ratusan orang yang datang dari berbagai penjuru kota—bahkan dari luar daerah.

Malam terasa semakin hidup

Di antara kerumunan jamaah, terlihat rombongan sekitar 30 pelajar dari Sekolah Tahfidz Plus Khairu Ummah Ngaliyan. Mereka memilih tempat di lantai dua—tepat di atas area tempat wudhu—sebagai tempat beristirahat dan mengaji. Namun ketika waktu salat tiba, mereka naik bergabung dengan jamaah lain di ruang shalat utama.

Tak hanya para pelajar. Beberapa keluarga datang membawa anak-anak mereka, ingin merasakan suasana ibadah malam di rumah Allah. Ada pula yang datang sendirian, membawa sajadah dan mushaf, mencari ketenangan dalam sunyi malam Ramadan.

Setelah salat tarawih selesai, sebagian jamaah pulang. Namun tidak sedikit yang memilih bertahan. Mereka memanfaatkan waktu dengan salat sunah, membaca Al-Qur’an, berzikir, atau mengikuti pengajian melalui ponsel di tangan mereka. Suasana masjid tetap hangat oleh bisikan doa dan lantunan ayat suci.

Menjelang pukul 22.00 WIB, gelombang jamaah kembali berdatangan. Hal serupa terjadi menjelang pukul 02.00 WIB—bahkan jumlahnya lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Malam seakan tidak pernah benar-benar sepi.

Di antara jamaah yang datang bersama keluarga tampak Zaenuri (48), warga Kebonharjo, Semarang Utara. Ia duduk bersama istri dan tiga anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan TK.

Bagi Zaenuri, iktikaf di MAJT bukan sekadar kebiasaan sesaat. Ia telah melakukannya selama tiga tahun terakhir setiap Ramadan. “Kalau tanggal 1 sampai 20 saya datang sebelum Magrib dan pulang setelah tarawih. Tapi kalau sudah sepuluh malam terakhir, saya datang sebelum Magrib dan pulang setelah Subuh,” ujarnya.

Malam-malam itu ia habiskan bersama anak-anaknya di dalam masjid. Meski pengurus menyediakan hidangan berbuka dan sahur, ia tetap membawa bekal dari rumah untuk berjaga-jaga. “Kadang jamaahnya banyak sekali. Kalau ramai, makanan yang disediakan bisa kurang,” katanya sambil tersenyum.

Baginya, beribadah di MAJT selama Ramadan menghadirkan rasa nyaman yang sulit digambarkan. Setiap malam, salat tarawih 20 rakaat ditambah tiga rakaat witir dilaksanakan dengan bacaan satu juz Al-Qur’an.

Lantunan ayat suci yang menggema di bawah kubah besar masjid menciptakan suasana yang damai dan menenangkan. “Rasanya nikmat sekali mengikuti tarawih di sini. Suara imamnya merdu, fasih, bikin adem. Setelah itu kami iktikaf sampai Subuh,” katanya.

Anak-anaknya pun tidak sekadar menemani. Dua anaknya yang sedang mondok di pesantren tahfidz di Karanganyar—kebetulan sedang libur—memanfaatkan waktu iktikaf untuk murojaah atau mengulang hafalan Al-Qur’an.

Bagi Zaenuri, sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu untuk bersyukur. Ia sengaja menyumbangkan waktu datang ke masjid sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Allah setelah setahun bekerja.

“Kalau berdoa di sini rasanya lebih mantap. Kita yakin Allah akan mengabulkan apa yang kita rindukan,” ujarnya.

Di sudut lain masjid, Mustofa (60), warga Medoho Raya, juga tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah malam. Ia mengaku hampir selalu datang ke MAJT pada malam-malam ganjil, meski sesekali juga beribadah di Masjid Kauman Semarang.

Ia sengaja datang sekitar pukul 22.00 WIB untuk mengikuti salat sunah tasbih berjamaah gelombang pertama. “Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu yang berharga, eman kalau terbuang. Rasanya rugi kalau tidak dimanfaatkan untuk datang ke masjid,” ujarnya.

Kepala Bagian Humas MAJT, Benny Arief Hidayat, mengatakan selama sepuluh malam terakhir Ramadan pengurus masjid menyiapkan berbagai kegiatan ibadah bagi jamaah. Salah satunya salat tasbih berjamaah yang dilaksanakan dalam dua gelombang.

Gelombang pertama dimulai pukul 22.30 hingga pukul 24.00 WIB dan dipimpin oleh KH Amjad Al-Hafidz, ulama yang dikenal sebagai penulis nazam Asmaul Husna yang populer di kalangan Nahdlatul Ulama dan madrasah di Indonesia.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembacaan selawat, dilanjutkan salat tasbih empat rakaat, salat hajat dua rakaat, dan salat taubat dua rakaat. Setelah itu jamaah membaca wirid Asmaul Husna dan berdoa bersama.

Tadi malam sekitar 150 jamaah putra dan putri mengikuti rangkaian ibadah tersebut. “Setelah gelombang pertama selesai, sebagian jamaah pulang, tetapi banyak juga yang tetap bertahan di masjid,” kata Benny.

Gelombang kedua digelar pukul 02.00 WIB dan dipimpin KH Hanief Ismail. Dalam rangkaian ini jamaah melaksanakan salat hajat empat rakaat dilanjutkan wirid, zikir, dan doa hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Sekitar 200 orang mengikuti rangkaian ibadah ini.

Menurut Benny, salat tasbih gelombang pertama dilaksanakan setiap malam hingga akhir Ramadan. Sementara gelombang kedua hanya diadakan pada malam-malam ganjil.“Malem selikur, telulikur, selawe, pitulikur, dan songolikur,” jelasnya.

Di luar rangkaian salat berjamaah itu, banyak jamaah memilih beribadah secara mandiri. Ada yang membaca Al-Qur’an berjam-jam, ada yang berzikir dalam diam, ada pula yang beristirahat sejenak di sudut masjid sebelum kembali menengadahkan tangan memohon ampunan.

“Malam ini kami menyediakan 250 boks nasi, teh, kopi, dan air putih. Nasi kami letakkan di dekat pintu masuk utama masjid dan dibagikan setelah salat gelombang kedua selesai,” kata Benny.

Ia menambahkan, animo masyarakat untuk beritikaf di MAJT terus meningkat setiap tahun. Bahkan tahun ini pengurus juga membuka program khusus iktikaf yang difasilitasi dengan penginapan di hotel kompleks masjid.

“Saat ini sudah ada enam orang yang mengikuti program tersebut. Kebetulan semuanya perempuan, satu ibu rumah tangga dan lima siswa, ada yang dari Semarang maupun luar kota,” ujarnya.

Menariknya, jamaah yang datang tidak hanya kalangan usia lanjut. Banyak pula anak muda, pelajar, dan remaja yang hadir bersama keluarga.

Sebelum memimpin salat tasbih, KH Amjad Al-Hafidz mengingatkan jamaah bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan adalah kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Banyak orang belum memanfaatkan waktu ini karena belum tahu keutamaannya. Kalau tahu, pasti mereka akan datang ke masjid,” ujarnya.

Ia mengajak jamaah menghidupkan malam Ramadan bersama keluarga, meski hanya sebentar. “Datanglah ke masjid bersama anak-anak dan keluarga. Ini juga bentuk syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan,” katanya.

Di bawah kubah megah Masjid Agung Jawa Tengah, ratusan manusia bersujud, berdoa, dan menumpahkan harapan. Masjid tidak sekadar berdiri sebagai bangunan, tetapi benar-benar hidup—dipenuhi bisikan doa, harapan, dan kerinduan umat untuk bertemu dengan malam paling mulia: Lailatul Qadar. St

You Might Also Like

BCA dan Kemendag Gelar Pelatihan Perdagangan Ekspor bagi UMKM di Yogyakarta dan Semarang
Ganjar Singgung Poster Demo, ‘Ada yang Bernada Porno’
Produktivitas Pangan Jawa Tengah 2025 Capai Target Nasional
ASN Pemprov Jateng Ikrar Jaga Netralitas di Pemilu 2024
Tujuh Jam Belajar Daring, Anak-anak Butuh Nutrisi Seimbang
TAGGED:Dari Anak-Anak hingga Lansia Bersujuddi MAJTMalam SelikuranMenjemput Lailatul Qadar
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?