By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Membeli Antibiotik Seperti Membeli Permen: Menanti Bom Waktu
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Membeli Antibiotik Seperti Membeli Permen: Menanti Bom Waktu

Jatengdaily.com
Published: 9 Oktober 2026 07:35
Share
SHARE

Oleh: apt. Tiara Dewi Salindri Pratama, M. Clin. Pharm

Dosen Fakultas Kedokteran, Program Studi Apoteker, Universitas Sebelas Maret (UNS)

SEBUAH Pemandangan di Pinggir Jalan

“Mbak, beli Amoksisilin satu strip, ya. Sama Parasetamolnya lima tablet.”
Kalimat di atas tentu tidak asing di telinga kita. Pemandangan ini terjadi hampir setiap hari di berbagai pelosok Indonesia. Di etalase apotek, toko obat, bahkan toko kelontong di sudut pemukiman, obat berlabel lingkaran merah dengan huruf “K” di tengahnya itu berpindah tangan begitu mudahnya.

Tanpa lembar resep dari dokter, tanpa pemeriksaan medis, dan sering kali tanpa pertanyaan sedikit pun dari si penjual.
Antibiotik—sebuah mahakarya sains yang dahulu berhasil menyelamatkan peradaban manusia dari kepunahan akibat infeksi—kini telah mengalami devaluasi makna yang tragis. Di mata sebagian besar masyarakat kita, antibiotik telah mengalami pergeseran fungsi dari “obat keras pemungkas” menjadi tak ubahnya “permen penawar segala penyakit”.

Sedikit saja tenggorokan terasa gatal, langsung menelan antibiotik. Badan meriang sehabis kehujanan, antibiotik kembali dicari. Bahkan saat anak demam karena flu, tak jarang orang tua secara mandiri membelikan antibiotik sisa dari persediaan lama.

Tanpa sadar, kebiasaan yang dianggap sepele, praktis, dan hemat ini sedang menuntun kita menuju jurang bencana kesehatan terbesar abad ke-21. Kita sedang secara kolektif merawat sebuah “bom waktu” yang siap meledak kapan saja: sebuah bencana global yang dikenal sebagai Antimicrobial Resistance (AMR) atau Resistensi Antimikroba. Dunia medis menyebutnya sebagai The Silent Pandemic—Pandemi Senyap.

Mitos “Obat Segala Penyakit” dan Miskonsepsi yang Membudaya
Mengapa masyarakat begitu keranjingan mengonsumsi antibiotik? Jawabannya berakar pada kurangnya pemahaman mendasar mengenai perbedaan antara bakteri dan virus.

Secara ilmiah, obat-obatan memiliki spesifikasi tugas yang sangat ketat. Antibiotik diciptakan khusus hanya untuk membunuh atau menghentikan pertumbuhan bakteri. Antibiotik sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membunuh virus.

Padahal, mayoritas penyakit harian yang paling sering menggejala di tengah masyarakat—seperti flu, batuk, pilek, demam biasa, radang tenggorokan akibat musim pancaroba, hingga diare ringan—sebagian besar (lebih dari 80-90%) disebabkan oleh infeksi virus.

Ketika seseorang terserang flu lalu meminum antibiotik dan merasa tubuhnya membaik tiga hari kemudian, ia sering mengambil kesimpulan yang salah. Ia mengira antibiotik itulah yang menyembuhkannya.

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sistem imun tubuhnya sendiri yang berhasil mengalahkan virus flu tersebut seiring berjalannya waktu. Kesalahan dalam menarik kesimpulan inilah yang melanggengkan mitos bahwa “setiap sakit demam atau batuk harus diobati dengan antibiotik agar cepat sembuh”.

Lebih parah lagi, sebagian masyarakat menganggap antibiotik sebagai obat pereda nyeri (analgesik) atau penurun panas (pemberi rasa nyaman). Jika mengonsumsi antibiotik tidak sesuai dengan penyebab penyakitnya, bukan saja obat tersebut mubazir, tetapi tubuh kita sedang dipaksa menerima senyawa kimia keras yang justru mengganggu keseimbangan mikroflora alami di dalam usus.

Anatomi Bom Waktu: Bagaimana Bakteri Menjadi “Superbug”?
Lantas, apa sebetulnya bahaya terbesar dari membeli dan mengonsumsi antibiotik secara asal-asalan? Jawabannya terletak pada cara hidup dan kemampuan adaptasi mikroorganisme bernama bakteri.

Bayangkan bakteri sebagai pasukan tentara mikroskopis. Ketika kita mengonsumsi antibiotik sesuai dosis dan aturan yang tepat dari resep dokter (misalnya harus dihabiskan selama 5 atau 7 hari), seluruh pasukan bakteri jahat di dalam tubuh akan dimusnahkan hingga tuntas tanpa sisa.

Namun, apa yang terjadi jika kita membeli antibiotik sendiri, lalu meminumnya hanya selama dua hari? Biasanya, pada hari kedua, demam mulai turun dan tubuh terasa enakan. Karena merasa sudah sembuh, kita mendadak menghentikan konsumsi obat tersebut. Di sinilah bencana itu bermula.

Pemberian antibiotik yang tidak tuntas atau tidak tepat dosis sama seperti menembak pasukan bakteri dengan peluru hampa. Bakteri-bakteri yang terkuat tidak mati, melainkan hanya “pingsan” atau terluka.

Dalam kondisi terdesak tersebut, bakteri yang bertahan hidup akan melakukan proses adaptasi alami. Mereka mempelajari struktur kimia antibiotik yang menyerangnya, lalu bermutasi untuk merancang “baju zirah” baru atau senjata penawar.

Bakteri yang berhasil bermutasi ini kini berubah menjadi bakteri kebal—atau dalam istilah medis disebut sebagai Superbug. Ketika bakteri kebal ini berkembang biak dan menular ke orang lain (anak, suami, istri, atau tetangga kita), maka saat mereka sakit nanti, antibiotik jenis lama tidak akan mempan lagi untuk menyembuhkan mereka.

Ibarat peperangan, kita secara sukarela sedang melatih dan menyuplai senjata canggih kepada musuh tubuh kita sendiri.

Dunia Tanpa Obat: Bayangan Mengerikan Masa Depan
Mengapa ancaman ini disebut sebagai Pandemi Senyap? Berbeda dengan COVID-19 yang menyebar secara masif, gejalanya langsung terlihat, dan membuat gempar seluruh dunia dalam hitungan bulan, resistensi antibiotik bekerja secara diam-diam. Ia tidak berisik, tidak langsung menghentikan aktivitas kota, namun membunuh manusia secara perlahan namun pasti.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengategorikan resistensi antimikroba sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan global paling berbahaya bagi kemanusiaan. Diperkirakan pada tahun 2050 mendatang, jika pola penggunaan antibiotik tidak diubah secara radikal, kematian akibat bakteri kebal obat bisa mencapai 10 juta jiwa setiap tahunnya.Angka ini melebihi jumlah kematian akibat penyakit kanker.

Kita mungkin merasa aman hari ini karena merasa sehat. Namun, ketika kelak kita atau anggota keluarga kita membutuhkan perawatan medis kritis dan bakteri di tubuh tidak lagi merespons obat apa pun, pada saat itulah kita menyadari bahwa “bom waktu” itu telah meledak di dalam rumah kita sendiri.

Antara Keuntungan Dagang, Kepatuhan, dan Tanggung Jawab Moral

Fenomena “membeli antibiotik seperti membeli permen” tidak muncul di ruang hampa. Ini adalah hasil komplikasi dari berbagai masalah yang saling terkait: ketidaktahuan masyarakat, lemahnya penegakan hukum, serta adanya pembiaran dari oknum penyedia fasilitas kefarmasian.

Di satu sisi, ada desakan ekonomi dan persaingan bisnis. Masih ada toko obat atau apotek nakal yang memilih memanjakan konsumen ketimbang menegakkan etika keselamatan pasien. Ketika konsumen datang meminta antibiotik tanpa resep, penjual memberikan begitu saja karena takut kehilangan pembeli, tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

Di sisi lain, peran profesi Apoteker menjadi sangat krusial di garda terdepan. Apoteker bukan sekadar pedagang atau kasir yang bertugas menyerahkan obat di balik meja apotek. Apoteker adalah penanggung jawab keselamatan terapi obat (pharmacist care).

Apoteker memiliki kewajiban moral dan profesional untuk berani berkata “TIDAK” ketika ada masyarakat yang memaksa membeli antibiotik tanpa resep dokter. Keberanian menolak dan ketelatenan dalam memberikan edukasi adalah benteng pertahanan terakhir kita dalam menahan laju pandemi senyap ini.

Pemerintah melalui Badan POM dan Kementerian Kesehatan juga memegang peranan kunci untuk memperketat pengawasan rantai distribusi obat keras, memberikan sanksi tegas kepada pelaku usaha kesehatan yang melanggar, serta memasifkan kampanye edukasi penggunaan obat secara bijak hingga ke level masyarakat paling bawah.

Apa yang Harus Kita Lakukan Sekarang?
Menjinakkan “bom waktu” ini tidak bisa hanya mengandalkan dokter, apoteker, atau pemerintah. Perubahan terbesar justru harus dimulai dari meja makan dan kotak obat di rumah kita masing-masing.

Masyarakat harus bertransformasi menjadi konsumen kesehatan yang cerdas dan bertanggung jawab. Berikut adalah langkah-langkah nyata yang harus diubah mulai hari ini:

Berhenti Membeli Antibiotik Tanpa Resep Dokter: Jangan pernah lagi memaksa petugas apotek atau toko obat untuk menjual antibiotik secara bebas. Pahami bahwa tindakan tegas mereka untuk menolak adalah bentuk perlindungan demi keselamatan Anda sendiri.

Jangan Gunakan Antibiotik untuk Sakit

Akibat Virus: Batuk, pilek, flu biasa, dan demam ringan tidak membutuhkan antibiotik. Cukupi istirahat, minum air putih yang banyak, dan konsumsi makanan bergizi untuk memperkuat sistem imun tubuh.

Patuhi Petunjuk Aturan Pakai Hingga Tuntas: Jika dokter meresepkan antibiotik untuk penyakit infeksi bakteri Anda, minumlah secara teratur sesuai jadwal jamnya, dan wajib dihabiskan sesuai durasi yang ditentukan, meskipun gejala sakit Anda sudah terasa hilang di pertengahan jalan.

Jangan Pernah Menyimpan dan Membagikan Sisa Antibiotik: Jangan pernah menyimpan sisa antibiotik di rumah dengan alasan “untuk persediaan jika sakit lagi nanti”. Jangan pula sekali-kali merekomendasikan atau membagikan antibiotik milik Anda kepada tetangga atau kerabat hanya karena gejalanya terlihat mirip.

Terapkan Gerakan “Tanya 5O”: Sebelum menerima obat dari fasilitas kesehatan, selalu pastikan Anda menanyakan lima hal mendasar kepada Apoteker:
Apa Obat ini dan apa khasiatnya?
Berapa Dosis obat ini?
Bagaimana Aturan pakai obat ini?
Apa Efek samping yang mungkin timbul?
Bagaimana Cara menyimpan obat ini dengan benar?

Pilihan di Tangan Kita
Setiap kali kita melangkah ke apotek dan tergiur untuk membeli antibiotik tanpa resep, atau setiap kali kita menghentikan konsumsi antibiotik secara sepihak, ingatlah bahwa kita sedang memetik satu benang dari jaring pengaman kesehatan dunia.

Antibiotik adalah warisan sains berharga yang tak ternilai harganya. Ia diciptakan bukan untuk dihamburkan tanpa perhitungan, melainkan untuk diselamatkan agar tetap ampuh saat nyawa manusia benar-benar berada dalam bahaya.

Membiarkan kebiasaan “membeli antibiotik seperti membeli permen” terus berlanjut adalah bentuk pengabaian terhadap masa depan anak cucu kita. Jangan sampai kelak kita menangis meratapi kepergian orang-orang yang kita cintai hanya karena infeksi sepele yang tak lagi dapat disembuhkan, hanya karena kita terlalu abai hari ini.

Mari menjadi bijak. Pahami obatnya, kenali risikonya, dan bersama-sama kita matikan sumbu “bom waktu” pandemi senyap ini sekarang juga. Sebab, keselamatan pengobatan masa depan berawal dari keberanian kita untuk menolak kebiasaan yang salah hari ini. JATENGDAILY.COM

You Might Also Like

Turbulensi Transisi di “Jepangnya Indonesia”: Ketika Laki-Laki Tegal Mulai Terpinggirkan
Masyarakat Jateng Tetap Bahagia di Masa Pandemi
LPPOM-MUI Dukung BI-MES: Wujudkan Gaya Hidup Halal & Berdayakan Ekonomi Jateng
Vaksinasi Mandiri dan Harapan Pertumbuhan Ekonomi
Implikasi Pelaksanaan Jaminan Fidusa Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2029 Terhadap Akta-akta Notaris
TAGGED:Membeli Antibiotik Seperti Membeli PermenMenanti Bom Waktu
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?