Oleh: Gunoto Saparie
Barangkali puisi selalu berangkat dari sebuah perjalanan.
BUKAN hanya perjalanan kata-kata menuju makna, melainkan juga perjalanan manusia menuju manusia lain. Dari sebuah kampung ke kota, dari sebuah pulau ke pulau lain, dari sebuah bahasa ke bahasa yang berbeda. Dalam perjalanan itulah puisi menemukan rumahnya yang paling sederhana: perjumpaan.
Kita tahu, tidak semua perjalanan menghasilkan tujuan. Ada perjalanan yang justru menemukan dirinya dalam proses berjalan itu sendiri. Barangkali puisi termasuk yang demikian. Ia tidak selalu menawarkan jawaban. Ia tidak selalu sampai pada kesimpulan. Ia kadang hanya mengajak manusia berjalan bersama keraguannya.
Maka ketika Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV akan digelar di Aceh pada 22–28 Juni 2026, kita sesungguhnya tidak sedang menyambut sebuah agenda kesenian biasa. Kita sedang menyambut sebuah peristiwa perjumpaan.
Perjumpaan adalah kata yang tampaknya sederhana. Tetapi sejarah kebudayaan sering bergerak dari sana.
Sebuah ide lahir karena dua orang duduk semeja. Sebuah gerakan bermula karena beberapa orang berbincang di sebuah sudut kota. Sebuah karya besar muncul karena seseorang mendengar pengalaman orang lain. Kebudayaan tumbuh bukan hanya dari bakat, melainkan juga dari percakapan.
Karena itu Aceh akan menjadi titik temu yang penting.
Dari sana akan berkumpul para penyair yang datang dari berbagai penjuru Nusantara dan mancanegara. Ada yang berangkat dari kota besar dengan bandara yang sibuk. Ada yang datang dari daerah yang harus ditempuh dengan perjalanan darat berjam-jam sebelum mencapai pelabuhan atau terminal. Ada yang membawa pengalaman hidup dari pesisir, ada yang membawa kenangan dari pegunungan. Ada yang menulis puisi tentang laut, ada yang menulis puisi tentang perang, tentang cinta, tentang kehilangan, tentang kemiskinan, tentang kemanusiaan.
Mereka datang dengan bahasa yang berbeda-beda, tetapi dengan kegelisahan yang sering kali sama.
Sebab manusia, di mana pun ia berada, selalu berhadapan dengan pertanyaan yang hampir serupa: bagaimana memahami hidup yang rapuh ini? Bagaimana menyikapi ketidakadilan? Bagaimana merawat harapan ketika kenyataan sering kali mengecewakan?
Puisi lahir dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Tema yang dipilih tahun ini terasa penting: “Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Menjadi Aksi.” Tema itu seakan mengingatkan bahwa puisi tidak berhenti sebagai rangkaian kata yang tersusun indah. Puisi adalah cara manusia memahami penderitaan manusia lain. Ia bukan sekadar bunyi. Ia bukan sekadar metafora. Ia adalah usaha untuk menjaga agar nurani tidak kehilangan suaranya.
Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi beredar begitu cepat, tetapi pemahaman sering berjalan lambat. Kita dapat mengetahui tragedi di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik, tetapi tidak selalu mampu merasakan penderitaan orang-orang yang mengalaminya.
Di tengah dunia yang makin gaduh oleh algoritma, angka statistik, perang dagang, dan pertarungan politik, puisi hadir dengan sesuatu yang tampaknya sederhana: empati.
Empati tidak mengubah dunia secara instan. Ia tidak membangun jalan tol. Ia tidak menaikkan indeks pertumbuhan ekonomi. Tetapi tanpa empati, peradaban kehilangan salah satu fondasi terpentingnya.
Karena itu, pertemuan para penyair dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Turki, Jepang, Tasmania, dan negara-negara lain yang terlibat dalam PPN XIV memiliki makna yang melampaui acara seremonial.
Ia adalah kesempatan untuk saling mendengar. Dan mendengar, dalam dunia yang penuh kebisingan hari ini, adalah tindakan yang semakin langka.
Kita hidup dalam masa ketika semua orang ingin berbicara, tetapi tidak banyak yang benar-benar mendengar. Media sosial mengajarkan kecepatan bereaksi, tetapi tidak selalu mengajarkan kesabaran memahami.
Puisi mengajarkan sesuatu yang berbeda. Puisi meminta kita berhenti sejenak. Membaca perlahan. Menimbang makna. Mendengarkan suara yang tersembunyi di balik kata-kata.
Mungkin karena itu puisi selalu tampak melawan arus zamannya.
Kita sering berbicara tentang pentingnya diplomasi. Tetapi diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang konferensi yang penuh jas dan dasi. Kadang-kadang diplomasi justru lahir dari pembacaan puisi di sebuah panggung sederhana. Dari percakapan santai seusai diskusi sastra. Dari secangkir kopi yang diminum bersama sambil memperbincangkan masa depan kebudayaan.
Hubungan antarmanusia sering kali dibangun bukan oleh perjanjian resmi, melainkan oleh saling pengertian. Dan saling pengertian tumbuh dari percakapan.
Di sana para penyair bertukar informasi mengenai perkembangan perpuisian di wilayah masing-masing. Mereka membicarakan komunitas sastra yang tumbuh di daerah. Mereka berbagi cerita tentang penerbitan buku yang semakin sulit. Mereka bertukar pengalaman mengenai cara menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan layar gawai daripada halaman buku.
Mereka juga berbagi cerita tentang perjuangan yang hampir serupa. Tentang ruang kesenian yang semakin sempit. Tentang minimnya dukungan penerbitan. Tentang komunitas sastra yang bertahan hidup dengan gotong royong. Tentang penyair yang harus membagi waktu antara pekerjaan sehari-hari dan kesetiaan kepada dunia kata-kata. Sastra, sebagaimana kebudayaan pada umumnya, tumbuh melalui percakapan.
Karena itu forum seperti PPN mempunyai arti yang tidak kecil. Ia menjadi ruang belajar bersama. Menjadi tempat saling menguatkan. Menjadi arena bagi kreativitas yang selama ini berkembang dalam kesunyian masing-masing daerah.
Dalam sejarah kebudayaan, kemajuan sering lahir bukan dari lembaga besar, melainkan dari perjumpaan kecil yang memungkinkan gagasan bertukar arah.
Kita ingat banyak gerakan sastra lahir dari kelompok-kelompok kecil. Dari diskusi sederhana. Dari perdebatan yang panjang hingga larut malam. Dari orang-orang yang percaya bahwa kata-kata masih mempunyai daya untuk mengubah cara manusia memandang dunia. Mungkin itulah sebabnya mengapa pertemuan penyair selalu penting.
Tetapi di titik inilah muncul sebuah ironi.
Para peserta yang akan hadir di Aceh bukanlah orang-orang yang datang begitu saja. Mereka telah melalui proses seleksi. Puisi-puisi mereka dibaca dan dipilih. Mereka dianggap layak mewakili daerah atau komunitasnya. Mereka membawa hasil kerja kreatif yang tidak lahir dalam semalam.
Sebuah puisi sering lahir dari proses yang panjang. Dari pengamatan yang tekun. Dari pengalaman yang mengendap. Dari kegagalan, kesedihan, dan harapan yang perlahan berubah menjadi bahasa. Tetapi hasil kerja kreatif itu ternyata belum cukup untuk menjamin kemudahan perjalanan mereka. Sebagian besar peserta masih harus memikirkan ongkos perjalanan sendiri.
Panitia memang menyediakan akomodasi dan konsumsi selama kegiatan berlangsung. Itu patut diapresiasi. Tetapi biaya transportasi dari daerah asal menuju Aceh tidak ditanggung. Akibatnya, tidak sedikit penyair yang harus menghitung ulang kemampuan keuangannya sebelum memutuskan hadir.
Puisi akhirnya bertemu dengan kenyataan yang sangat konkret: harga tiket.
Kita mungkin tersenyum mendengar kalimat itu. Tetapi sesungguhnya ada sesuatu yang menyedihkan di dalamnya. Sebab di balik harga tiket itu tersembunyi sebuah pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana negara memandang penting kebudayaan?
Negara sering berbicara tentang pentingnya kebudayaan. Dokumen perencanaan pembangunan berkali-kali menyebut kebudayaan sebagai fondasi karakter bangsa. Para pejabat dengan mudah mengutip nama-nama sastrawan besar dalam pidato mereka.
Namun ketika kebudayaan membutuhkan dukungan yang nyata, perhatian itu sering kali mengecil. Kesenian seolah berada di ruang tunggu yang panjang.
Ia tidak pernah benar-benar ditolak. Tetapi juga tidak pernah sungguh-sungguh diprioritaskan.
Ada semacam penghormatan simbolik yang melimpah, tetapi dukungan praktis yang terbatas. Sastra dipuji, tetapi jarang didanai secara memadai.
Penyair dihormati dalam sambutan resmi, tetapi sering dibiarkan berjuang sendiri ketika harus berangkat menghadiri forum kebudayaan.
Bandingkan dengan olahraga. Tidak ada yang salah dengan perhatian besar terhadap olahraga. Prestasi olahraga memang membanggakan. Atlet yang bertanding membawa nama bangsa. Mereka layak memperoleh dukungan.
Tetapi mengapa ukuran perhatian itu terasa begitu berbeda ketika diterapkan kepada kesenian?
Atlet yang mewakili daerah atau negara lazim memperoleh fasilitas perjalanan, akomodasi, pelatihan, bahkan bonus. Sementara penyair yang mewakili komunitas budaya sering harus merogoh kantong sendiri untuk hadir dalam forum yang juga membawa nama Indonesia.
Di sini persoalannya bukan soal iri hati antara dunia seni dan dunia olahraga. Persoalannya adalah cara pandang.
Kita masih terlalu sering mengukur manfaat kebudayaan dengan angka yang kasatmata. Kita lebih mudah menghitung medali daripada menghitung pengaruh sebuah puisi. Kita lebih cepat memahami skor pertandingan daripada memahami dampak sebuah karya sastra terhadap kesadaran masyarakat.
Padahal sejarah bangsa ini menunjukkan hal yang berbeda. Bangsa Indonesia tidak dibangun hanya oleh para petarung di medan perang. Ia juga dibangun oleh para penulis, penyair, seniman, dan pemikir yang membentuk imajinasi kolektif tentang Indonesia.
Tanpa imajinasi kolektif, sebuah bangsa hanyalah kumpulan penduduk yang tinggal di wilayah yang sama. Kebudayaanlah yang membuat mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Para penyair membantu merumuskan perasaan itu. Mereka mungkin tidak mencetak gol. Mereka mungkin tidak berdiri di podium juara. Tetapi mereka membantu sebuah bangsa memahami dirinya sendiri.
Karena itulah Pertemuan Penyair Nusantara XIV penting. Bukan semata karena akan dihadiri penyair dari 14 negara. Bukan semata karena akan ada pembacaan puisi, peluncuran antologi, gelar wicara, atau pertunjukan seni lintas disiplin.
Yang lebih penting adalah kenyataan bahwa forum ini mempertahankan sebuah keyakinan lama: bahwa manusia masih perlu bertemu untuk berbicara tentang kata-kata, tentang pengalaman, tentang luka, tentang harapan.
Bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, tetapi juga oleh percakapan yang bermakna. Bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan manusia menjaga nuraninya.
Dan selama keyakinan itu masih ada, puisi akan tetap hidup. Aceh akan menjadi saksi perjumpaan itu.
Tanah yang pernah mengalami konflik, bencana, dan rekonsiliasi itu akan menjadi ruang bagi kata-kata untuk kembali mencari maknanya. Di sana para penyair akan datang membawa naskah, kenangan, dan kegelisahan masing-masing. Mereka akan membaca puisi di hadapan sesama manusia yang memahami arti sebuah larik dan kesunyian di antara dua kata.
Mereka mungkin datang dengan ongkos perjalanan yang harus ditanggung sendiri. Tetapi mereka tetap datang.
Mereka datang karena percaya bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan anggaran. Mereka datang karena percaya bahwa perjumpaan selalu lebih berharga daripada keterpisahan. Mereka datang karena percaya bahwa puisi, betapapun sering dianggap tidak praktis, tetap memiliki tempat dalam kehidupan manusia.
Sebab mereka tahu bahwa ada perjalanan yang nilainya tidak bisa diukur oleh harga tiket. Perjalanan itu bernama kebudayaan. *Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-st

