Menyusuri Sunyi Goa dan Hikmah Masjid Samin, Wisata Religi Majelis Taklim As-Sakinah Menyegarkan Jiwa dalam Kebersamaan

5 Min Read
Para peserta Wisata Religi Majelis Taklim As-Sakinah berfoto bersama di depan Masjid Samin Baitul Muttaqin, Bojonegoro. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) –  Semangat kebersamaan dan kerinduan untuk menyegarkan jiwa sudah terasa sejak fajar belum sepenuhnya merekah. Di depan bekas Hotel Dibyapuri, Jalan Pemuda, Semarang, Selasa pagi, 27 Januari 2026, sekitar 40 anggota Majelis Taklim As-Sakinah Juang Kencana Komisariat BKKBN Jawa Tengah berkumpul dengan wajah-wajah penuh harap. Mereka siap menempuh perjalanan wisata religi—sebuah ziarah batin—menuju dua destinasi sarat makna: Goa Terawang di Kabupaten Blora dan Masjid Samin Baitul Muttaqin di Kabupaten Bojonegoro.

Tepat pukul 06.00 WIB, rombongan yang terdiri dari keluarga besar pensiunan BKKBN Jawa Tengah dan BKKBN Kota Semarang berangkat. Hangatnya suasana langsung terasa. Doa perjalanan mengalun khusyuk di dalam bus, disusul tawa ringan dan obrolan akrab yang mencairkan jarak. Rasa lelah seolah tak mendapat tempat, tergantikan oleh keakraban dan rasa kekeluargaan yang menyelimuti perjalanan panjang itu.

Ketua Majelis Taklim As-Sakinah, Sujarno, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelesir.
“Wisata religi ini kami maknai sebagai perjalanan spiritual untuk memperdalam iman, sekaligus refreshing bagi para anggota,” tuturnya. “Kami ingin menikmati keindahan dan keunikan ciptaan Allah, baik melalui rumah-Nya di Masjid Samin Baitul Muttaqin maupun melalui keajaiban alam Goa Terawang.”

Destinasi pertama, Goa Terawang di Blora, menyambut rombongan dengan sunyi yang meneduhkan. Gua alam yang dikenal sebagai salah satu terpanjang di Jawa Tengah ini memamerkan stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun. Saat rombongan menyusuri lorong-lorongnya, cahaya lampu memantul di dinding batu kapur, menghadirkan suasana hening yang sarat ketakziman.

Di dalam perut bumi itu, langkah kaki terasa lebih pelan, suara menjadi lebih lirih. Bagi sebagian peserta, Goa Terawang bukan sekadar objek wisata alam, melainkan ruang kontemplasi. Kesunyian gua mengajak mereka merenungi kebesaran Allah yang menciptakan alam dengan detail dan keseimbangan yang menakjubkan. Beberapa mengabadikan momen dengan kamera ponsel, namun tetap menjaga ketertiban dan kekhusyukan.

Dari Blora, perjalanan dilanjutkan menuju Kabupaten Bojonegoro. Di sanalah berdiri Masjid Samin Baitul Muttaqin—dahulu bernama Masjid An-Nadlah—yang menyimpan nilai historis dan kultural yang kuat. Masjid ini berdiri di tengah komunitas Samin, masyarakat adat yang dikenal teguh memegang nilai kejujuran, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam.

Di masjid tersebut, rombongan menunaikan salat berjamaah. Suasana religius terasa kental, seolah mengalirkan ketenangan ke relung hati. Seusai salat, para peserta diajak mengenal sejarah masjid dan filosofi hidup masyarakat Samin. Nilai-nilai kearifan lokal yang disampaikan memperkaya pengalaman spiritual, mengingatkan bahwa iman dapat tumbuh seiring kesederhanaan hidup.

Sujarno menjelaskan, wisata religi ini sejalan dengan kegiatan rutin Majelis Taklim As-Sakinah. Selama ini, majelis secara konsisten menggelar kajian Al-Qur’an dan hadis, serta khataman Al-Qur’an secara daring. Kajian dilaksanakan sebulan sekali di Masjid As-Sakinah, Jalan Pemuda, Semarang, dengan menghadirkan Ustadz Asnawi dan Ustadz Muhammad Munir.

Majelis Taklim As-Sakinah sendiri telah berjalan sejak 2015. Bahkan, pada 8 November 2025 lalu, majelis ini merayakan satu dekade perjalanannya di Ruang Vasektomi BKKBN Jawa Tengah.
“Sepuluh tahun ini adalah amanah,” ujar Sujarno. “Semoga kegiatan seperti wisata religi semakin menguatkan ukhuwah dan semangat belajar agama di antara anggota.”

Sementara itu, Ketua Panitia Wisata Religi, Erna Sulistyowati, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya atas kelancaran acara.
“Saya berterima kasih atas partisipasi seluruh peserta. Melihat semua tampak ceria dan bahagia adalah kebahagiaan tersendiri,” ujarnya sambil tersenyum. Ia pun berseloroh tentang suasana bus yang sempat riuh oleh lantunan karaoke peserta dengan “suara emas” masing-masing.

Dengan rendah hati, Erna juga menyampaikan permohonan maaf jika masih ada kekurangan selama penyelenggaraan.
“Semoga hal-hal kecil itu tidak mengurangi niat baik kita untuk beribadah, bersilaturahmi, dan menyegarkan diri,” tuturnya.

Perjalanan panjang akhirnya berakhir sekitar pukul 22.30 WIB. Bus kembali berhenti di titik awal, depan bekas Hotel Dibyapuri, Semarang. Meski raga terasa lelah, wajah para peserta memancarkan kepuasan. Mereka pulang membawa lebih dari sekadar foto dan kenangan—ada ketenangan batin dan kesegaran jiwa yang ikut dibawa pulang.

Wisata religi Majelis Taklim As-Sakinah kali ini menjadi bukti bahwa perjalanan iman dapat dikemas dalam kebersamaan yang hangat dan penuh makna. Menyusuri keajaiban alam Goa Terawang dan bersujud di Masjid Samin Baitul Muttaqin menjelma sebagai ziarah batin—pengingat bahwa kebesaran Allah hadir di setiap sudut ciptaan-Nya, dari gelapnya perut bumi hingga sunyinya rumah ibadah di pedesaan.

Lebih dari sekadar refreshing, perjalanan sehari ini meneguhkan kembali langkah Majelis Taklim As-Sakinah untuk terus berjalan dalam dakwah, persaudaraan, dan cinta kepada ilmu agama—sebuah jejak panjang yang tertinggal di hati para pesertanya. st

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.