JAKARTA (Jatengdaily.com)- Sistem pemakaian galon guna ulang mampu menjadi salah satu solusi efektif untuk menekan dampak lingkungan dari industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sistem kemasan yang digunakan berulang kali itu disebut dapat mengurangi emisi karbon hingga 83 persen dibandingkan kemasan sekali pakai.
Chief Operating Officer Danone, Vikram Agrawa mengatakan bahwa tidak hanya menekan emisi, penggunaan galon guna ulang juga mampu menghemat 90 persen konsumsi air dalam proses produksi. Dia melanjutkan, pemakaian galon tersebut juga mengurangi 78 persen penggunaan plastik murni (virgin plastic) yang menjadi bahan untuk membuat kemasan baru.
“Kami tidak melihat bisnis dan keberlanjutan sebagai dua hal yang terpisah. Ketika kami tumbuh, kami percaya pada pertumbuhan yang berkelanjutan. Praktik yang kami jalankan saat ini di pabrik akan terus diperluas seiring dengan ekspansi bisnis,” kata Vikram Agrawal.
Dia melanjutkan, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjalankan operasional yang lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan pertumbuhan bisnis. Artinya, galon yang telah dikembalikan konsumen tidak langsung dibuang.
Agrawal menjelaskan, kulitas galon yang dikemblikan konsumen itu bakal menjalani pemeriksaan kualitas, pencucian hingga sterilisasi sebelum diisi ulang dan diedarkan kembali ke masyarakat. Dia melanjutkan, kemasan tersebut selanjutnya dihancurkan dan didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku galon baru saat sudah mencapai batas masa pakainya.
Dia mengungkapkan, rata-rata satu galon dapat dipakai sekitar 40 hari dan bisa 20 kali digunakan ulang sebelum dihancurkan dan diolah menjadi material daur ulang. Dia mengatakan, sistem tersebut memastikan kemasan bisa
dengan kualitas yang tetap terjaga dan dipakai lebih lama dibandingkan galon sekali pakai.
Hal ini, sambung dia, sekaligus mengurangi kebutuhan produksi plastik atau galon baru. Data operasional Danone menunjukkan bahwa galon guna ulang tidak hanya berfungsi sebagai kemasan air minum, tetapi juga menjadi bagian dari sistem ekonomi sirkular.
Agrawal mengatakan, selain menerapkan sistem guna ulang, seluruh kemasan produk Danone juga dirancang agar dapat didaur ulang. Dia mengungkapkan, sekitar 96 persen kemasan perusahaan telah memenuhi prinsip tersebut sebagai bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah plastik.
Dia mengatakan, keberhasilan sistem galon guna ulang tidak hanya bergantung pada desain kemasan, tetapi juga pada mekanisme pengumpulan kembali kemasan dari konsumen. Dia melanjutkan, sistem tersebut membuat perusahaan mampu menarik kembali sekitar 31.500 ton plastik setiap tahun untuk dimanfaatkan kembali dalam rantai produksi.
“Model bisnis ini membuktikan bahwa sains operasional dapat mengubah cara jutaan masyarakat Indonesia mengakses air minum tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan secara masif,” katanya. she



