By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Waspadai Hujan Lebat Awal Oktober di Tengah Kemarau yang Masih Dominan
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Waspadai Hujan Lebat Awal Oktober di Tengah Kemarau yang Masih Dominan

Jatengdaily.com
Published: 5 Oktober 2026 08:56
Share
Ilustrasi hujan. Foto: Pixabay.com
SHARE

JAKARTA (Jatengdaily.com)– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat dan angin kencang pada awal Oktober 2026. Meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia, dinamika atmosfer tetap dapat memicu cuaca ekstrem secara lokal.

Prakirawan BMKG Dendi R.Purnama dalam InfoBMKG yang dikutip Sabtu (3/10/2026) menjelaskan, kondisi atmosfer Indonesia saat ini masih dipengaruhi fenomena El Nino sangat kuat dan nilai Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi tersebut turut mempertahankan cuaca kering di sejumlah wilayah.

Dilansir dari laman Infopublik, berdasarkan pemantauan hari tanpa hujan hingga Dasarian II September 2026, masih banyak wilayah mengalami hari tanpa hujan kategori panjang hingga ekstrem panjang. BMKG mencatat sebanyak 1.474 titik berada dalam kategori ekstrem panjang.

Kondisi kering tersebut juga berlangsung bersamaan dengan masih tingginya titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah. Pada 30 September 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi sebanyak 159 titik di Sumatra, 193 titik di Kalimantan, serta 322 titik di Papua dan Maluku. “Hal ini menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah dengan periode kering berkepanjangan,” ujar Dendi.

Di sisi lain, hujan lebat hingga sangat lebat tetap terjadi secara lokal pada 28–30 September 2026. Curah hujan harian tinggi antara lain tercatat di Papua Tengah sebesar 102 milimeter, Papua 97 milimeter, Jawa Barat 96 milimeter, Sumatra Utara dan Banten masing-masing 70 milimeter, serta Jambi dan Papua Barat masing-masing 53 milimeter.

Untuk wilayah Jabodetabek, hujan lebat tercatat di Kabupaten Bogor sebesar 96,1 milimeter per hari dan Kota Tangerang Selatan 70 milimeter per hari.

Menurut Dendi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun periode kering masih dominan, dinamika atmosfer skala regional dan lokal tetap aktif sehingga pembentukan awan hujan dapat menghasilkan hujan lebat hingga sangat lebat secara lokal.

Potensi Cuaca Sepekan ke Depan

Pada periode 2–4 Oktober 2026, cuaca Indonesia umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan.

Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Sementara itu, pada 5–8 Oktober 2026, kondisi cuaca secara umum masih didominasi cerah berawan hingga hujan ringan.

BMKG juga mengingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Papua Pegunungan. Adapun angin kencang berpotensi terjadi di Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

Menghadapi kondisi kemarau yang masih berlangsung, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kesehatan, menghemat penggunaan air, serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah.

Masyarakat juga diminta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG melalui aplikasi Info BMKG, laman bmkg.go.id, serta media sosial @infobmkg.

Kewaspadaan tetap diperlukan karena kondisi kemarau dan potensi cuaca ekstrem dapat berlangsung secara bersamaan di wilayah yang berbeda. Masyarakat diharapkan melakukan langkah antisipasi sesuai kondisi lingkungan masing-masing untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan. she 

You Might Also Like

Sambut Kemerdekaan, PLN Perkuat Ekonomi Kampung Siroto lewat Program TJLS
Presiden Jokowi Resmikan Jalan Bypass Balige Toba
Perda Berkualitas Diawali Naskah Akademi Tanpa ‘Kopas’
RUPST: Indosat Bagikan Dividen Rp2,7 Triliun, Tunjuk Nezar Patria Komisaris Utama
Penerapan Contraflow-One Way di Tol Berjalan Kondusif
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?