Oleh: Nurlaeli Ismilarsih
Statistisi Penyelia BPS Kabupaten Tegal
MEROKOK di Indonesia bukan lagi sekadar kebiasaan. Ia telah menjelma menjadi bagian dari budaya yang mengakar, melintasi usia, kelas sosial, bahkan tingkat pendidikan. Dari anak muda hingga lansia, dari desa hingga kota, rokok hadir dalam berbagai ruang kehidupan.
Padahal, kesadaran akan bahaya merokok terhadap kesehatan sudah bukan hal baru. Namun, pengetahuan itu tampaknya belum cukup kuat untuk menghentikan kebiasaan ini.
Sebagian orang menyebut perokok sebagai sosok yang “berani”.
Berani mengambil risiko, berani menantang penyakit, bahkan berani mengorbankan pengeluaran demi sebatang rokok. Tapi keberanian semacam ini justru menyingkap persoalan yang lebih dalam: bahwa fenomena merokok adalah masalah sosial yang kompleks, bukan sekadar pilihan pribadi.
Ketika Kenikmatan Mengalahkan Logika Ekonomi
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencatat bahwa 30,03 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Tegal merokok tembakau selama sebulan terakhir.
Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, terlihat bahwa 28,97 persen dari kelompok 40 persen terbawah tetap merokok. Angka yang hanya sedikit lebih rendah dari kelompok 20 persen teratas yang berada di 30,35 persen.
Fakta ini menunjukkan bahwa rokok bukanlah barang mewah yang hanya dikonsumsi oleh mereka yang berkecukupan. Sebaliknya, rokok telah menjadi pengeluaran rutin lintas kelas ekonomi.
Bahkan dalam kondisi ekonomi yang sempit, rokok tetap diusahakan. Ini menandakan bahwa bagi sebagian masyarakat, rokok memiliki nilai yang melampaui logika ekonomi.
Sayangnya, bagi kelompok berpendapatan rendah, kebiasaan ini justru memperberat beban pengeluaran yang seharusnya bisa dialihkan untuk kebutuhan yang lebih esensial.
Pendidikan Tinggi, Tapi Tetap Merokok?
Lebih menarik lagi, jika ditinjau dari sisi pendidikan.
Penduduk dengan tingkat pendidikan SMP ke atas justru memiliki persentase perokok yang lebih tinggi, yakni 33 persen, dibandingkan dengan mereka yang hanya berpendidikan SD ke bawah yang berada di angka 24,28 persen.
Temuan ini cukup kontras dengan asumsi umum bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula kesadaran akan kesehatan.
Bisa jadi, mereka yang berpendidikan lebih tinggi memiliki daya beli yang lebih besar untuk membeli rokok, atau berada dalam lingkungan sosial yang menjadikan rokok sebagai simbol gaya hidup, bukan sekadar kebutuhan.
Rokok sebagai Cermin Ketimpangan Sosial
Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku merokok tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Ia bukan hanya soal tahu atau tidak tahu bahayanya, bukan pula semata soal mampu atau tidak mampu membeli. Rokok adalah cermin dari ketimpangan sosial, tekanan hidup, dan konstruksi budaya yang belum sepenuhnya berubah.
Maka, pendekatan untuk mengurangi prevalensi merokok tidak cukup hanya dengan menaikkan cukai atau menyebar informasi bahaya kesehatan. Diperlukan strategi yang lebih menyentuh akar: edukasi yang kontekstual, kampanye yang membumi, serta intervensi sosial yang memahami realitas masyarakat.
Karena pada akhirnya, rokok bukan hanya asap yang menghilang di udara. Ia adalah jejak dari pilihan, tekanan, dan kebiasaan yang membentuk wajah masyarakat kita hari ini. Jatengdaily.com-st
0



