Oleh: Annisa Purbaning Tyas
Statistisi Muda BPS Kabupaten Tegal
JIKA saat ini kita membuka TikTok atau Instagram, kita mungkin akan dibombardir oleh sekumpulan anak muda yang melakukan hal aneh. Apa saja kah itu? Mereka diam menatap kamera, rahang dikencangkan atau yang mereka sebut mewing, tatapan mata dibuat tajam nan misterius, diiringi musik tertentu. Di kolom komentar, orang-orang tidak bertanya “kamu kerja di mana?” atau “IPK berapa?”. Tidak. Mereka lebih sibuk menghitung “Plus 1000 Aura points” atau “Minus Aura, bro.”
Selamat datang di era Aura Farming. Sebuah fenomena di mana karisma, vibe, dan pesona digital “diternakkan” selayaknya komoditas berharga.
Bagi generasi yang lebih tua atau yang sering kita sebut sebagai Boomers dan Gen X, ini mungkin terlihat seperti narsisme massal. Generasi yang dianggap “lembek” karena lebih peduli skincare dan angle kamera daripada kerja keras ala pekerja kantoran. Namun, sebelum kita terjebak dalam penghakiman klise “anak muda zaman now“, mari kita bedah datanya. Ada korelasi kuat antara statistik ekonomi makro dengan alasan mengapa Gen Z merasa memoles wajah jauh lebih masuk akal daripada sekadar mengandalkan ijazah.
Lahan Kami Bukan Sawah, Tapi Layar
Mari mulai dengan fakta dasar: di mana anak muda Indonesia hidup? Bukan di lokasi perkantoran, bukan pula di lahan pertanian.
Berdasarkan data Statistik Pemuda Indonesia 2024-2025 yang dirilis BPS, penetrasi internet di kalangan pemuda (usia 16-30 tahun) telah menembus angka 95,66 persen di tahun 2024 dan meningkat menjadi 96,69 persen di tahun 2025. Ini bukan lagi soal “siapa yang memiliki HP”, tapi “siapa yang tidak memiliki kehidupan digital”.
Fakta ini diperkuat oleh data Menteri Komdigi, Meutia Hafidz, dan We Are Social yang mencatat bahwa rata-rata durasi penggunaan internet harian masyarakat Indonesia menyentuh angka lebih dari 8 jam per hari pada tahun 2025. Artinya, sepertiga hidup mereka terjadi di layar.
Dalam ekosistem ini, terjadi migrasi massal ke “pertanian digital”. Ketika BPS mencatat pada tahun 2025, lapangan pekerjaan utama pemuda di sektor pertanian tersisa 18,84 persen, sektor jasa justru melonjak hingga 64,57 persen.
Aura Farming Aura Farming adalah cara mereka menggarap lahan baru ini. Jika panen atau dalam Bahasa kekiniannya yaitu viral, hasilnya nyata: endorsement, gift saat live streaming, atau setidaknya validasi sosial yang masif. Jadi, mereka tidak malas bertani. Mereka hanya pindah lahan dari sawah berlumpur ke algoritma internet yang licin.
Ijazah vs Realita Pengangguran Terdidik
Poin paling menyakitkan ada di sini. Kenapa ijazah seolah kehilangan “kesaktiannya”?
Mari kita bedah data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2025. Meski angka nasional terlihat stabil di bawah 5 persen, jika kita zoom in ke kelompok Gen Z (15-24 tahun), angkanya bertengger di 16,89 persen.
Lebih miris lagi jika kita melihat profil pendidikannya. Data BPS konsisten menunjukkan fenomena “Pengangguran Terdidik”. Lulusan SMK dan Diploma/Sarjana seringkali menyumbang persentase pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan lulusan SD.
Bayangkan Anda adalah Gen Z. Anda didoktrin bahwa sekolah tinggi jaminan sukses. Tapi data di lapangan menunjukkan bahwa ijazah S1 tidak menjamin Anda langsung dapat kerja. Persaingan di sektor formal sangat berdarah-darah.
Di tengah ketidakpastian ini, Aura menjadi aset diferensiasi. Ketika ada 1.000 pelamar kerja dengan IPK 3.5, apa yang membedakan satu kandidat dengan lainnya? Personal Branding. Atau dalam bahasa gaulnya Aura.
Anak muda menyadari secara intuitif bahwa di tahun 2026, soft skill dan presence seringkali dinilai lebih tinggi daripada kemampuan teknis yang bisa digantikan oleh AI. Jadi, memoles wajah dan melatih karisma bukan sekadar gaya-gayaan,itu adalah strategi survival di pasar tenaga kerja yang saturasi.
Ekonomi Informal dan Ilusi “CEO of My Own Life”
Struktur ekonomi kita pun mendukung tren ini. Hingga Agustus 2025, porsi pekerja informal di Indonesia masih mendominasi sebesar 57,80 persen. Mayoritas kita tidak bekerja di gedung bertingkat dengan gaji tetap, melainkan menjadi freelancer, pedagang mandiri, hingga content creator.
Dalam ekonomi informal, Anda adalah produknya. Wajah Anda adalah etalasenya.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebutkan bahwa pada tahun 2025, ekonomi kreatif menyumbang 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional (sekitar 27,40 juta jiwa). Gen Z melihat peluang emas di sini: seorang influencer lulusan SMA bisa meraup penghasilan setara Manajer BUMN hanya bermodal konten yang relatable.
Membangun persona misterius di TikTok adalah investasi modal kerja untuk masuk ke sektor lukratif ini. Mereka sedang membangun portofolio, bukan sekadar narsis.
Coping Mechanism di Tengah Inflasi Biaya Hidup
Kita tidak bisa melepaskan fenomena ini dari tekanan ekonomi makro. Data inflasi, terutama inflasi pangan dan biaya tempat tinggal (properti), membuat impian “mapan” ala orang tua mereka terasa mustahil.
Ada istilah ekonomi menarik: Lipstick Effect. Teori ini menyatakan bahwa ketika ekonomi sulit dan konsumen tidak mampu membeli barang mahal (seperti rumah atau mobil), mereka akan beralih membeli barang mewah yang “kecil” dan terjangkau, seperti lipstik mahal, untuk tetap merasa “berdaya”.
Aura Farming adalah Lipstick Effect versi digital dan gratisan
Ketika data BPS menunjukkan daya beli kelas menengah sedang mantab (makan tabungan), dan kepemilikan rumah bagi Gen Z makin sulit (berdasarkan backlog perumahan), apa yang tersisa yang bisa mereka kontrol? Tubuh mereka. Wajah mereka. Citra mereka.
Mengontrol “aura” memberikan ilusi kendali di tengah dunia yang chaos. “Mungkin gue belum bisa beli rumah di pinggiran Jakarta, tapi setidaknya di TikTok, gue terlihat seperti CEO muda yang sukses dan misterius.” Ini adalah mekanisme pertahanan psikologis (coping mechanism) untuk menjaga kewarasan mental—sebuah aspek yang juga tercermin dalam Indeks Kebahagiaan di mana dimensi perasaan dan makna hidup menjadi krusial.
Jangan Remehkan “Petani Aura”
Jadi, apakah Gen Z dangkal karena lebih sibuk glowing daripada study hard? Aura Farming, mewing, dan segala tren memoles diri itu adalah respon adaptif. Mereka sedang berteriak bahwa sistem meritokrasi lama (“belajar rajin = sukses”) sedang rusak.
Alih-alih nyinyir melihat mereka berjoget atau menatap kamera dengan wajah sok garang, mungkin kita perlu bertanya: Sudahkah kita menyediakan “lahan” ekonomi yang cukup subur sehingga mereka tidak perlu mati-matian “bertani aura” hanya untuk merasa dihargai?
Hingga “lahan” nyata itu tersedia, biarkanlah mereka memanen like dan comment. Karena bagi Gen Z di tahun 2026, aura is the new currency, and business is booming. Jatengdaily.com-st
-st
0



