Oleh: Kolonel (Purn) Ir. Susanto M.Si
Dosen Pancasila, Kewarganegaraan dan Belanegara Stikes Kesdam IV/Diponegoro
BEBERAPA tayangan media mainstream memperlihatkan bagaimana nilai – nilai budaya bangsa yang adhi luhung terasa hilang dari fenomena kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Warisan nilai nilai adat ketimuran yang fundamental sebagai wujud masyarakat yang santun, andhap asor dan tepo seliro sudah luntur seiring dengan derasnya pengaruh budaya modern yang lebih mengedepankan gaya anak muda mas kini lebih mendominasi.
Fakta yang kemudian membuat kita merasa khawatir hampir dialami oleh sebagian besar merupakan orang tua. Bagaimana tidak, perilaku anak – anak muda khususnya yang masih mengenyam pendidikan dasar dan menengah telah menabrak rambu – rambu kepatutan bahkan menjurus kepada tindakan kriminal.
Kita tentu menyadari bahwa, sejatinya bangsa ini telah memiliki modal dasar berupa karakter bangsa yang kuat. Salah satu dari karakter yang menonjol adalah semangat kejuangan melawan penjajah selama lebih dari 350 tahun dan mampu merebut kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Oleh karena itu upaya menumbuhkan karakter generasi muda merupakan langkah mensesak dan strategis.
Menghadapi permasalahan bangsa yang kompleks tersebut, menjadi kewajiban bagi segenap komponen bangsa untuk saling memberikan literasi, edukasi dan pencerahan yang bermuara kepada upaya membangun dan menumbuh kembangkan kembali karakter kejuangan bela negara itu.
Karakter kejuangan dan karakter positif bela negara yang telah diwariskan oleh founding father bangsa harus dapat kita jadikan sebagai modal potensial untuk menghadapi tantangan, hambatan dan ancaman saat ini.
Karakter Bangsa dan Pemasalahannya di Era Milenial
Secara umum, karakter bangsa sering didefinisikan sebagai hal unik dan khas yang menjadi unsur pembeda dengan bangsa lainnya. Karakter bangsa memiliki peran penting dalam menentukan kekuatan dan kemampuan bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan.
Karakter bangsa adalah unsur penting bagi penyelenggaraan kehidupan berbangsa. Karakter bangsa umumnya bersifat kolektif yaitu akumulasi dari karakter pribadi seluruh warga bangsanya.
Komponen utama dari karakter bangsa adalah tata nilai yang dibangun dan ditumbuhkembangkan oleh para warga bangsanya. Oleh karena itu, keberhasilan atau kegagalan sebuah bangsa menjadi sangat tergantung pada upaya pembinaan dan pembangunan karakter warga bangsanya.
Bangsa-bangsa yang maju dan berhasil menjadi negara terkemuka, umumnya memiliki warga bangsa yang mempunyai karakter positif, serta tampil sebagai pribadi militan, tangguh dan mandiri serta mencintai tanah airnya (perwujudan dari nilai-nilai bela negara).
Karakter bangsa yang mencintai Ibu Pertiwi juga umumnya tercermin dari pola sikap warga bangsanya yang memahami sepenuhnya bahwa sebuah bangsa yang besar akan tercermin dari seberapa tinggi kecintaan mereka kepada tanah airnya.
Dengan mencintai tanah airnya secara otomatis mereka akan rela mengutamakan kepentingan bangsa, mendukung setiap proses perjalanan bangsa dengan memberikan kontribusi positif demi eksistensinya negara dan bangsanya.
Pola pembinaan karakter yang baik akan mendorong terbangunnya karakter positif menuju pada kemajuan dan keunggulan bangsa. Tentu saja, keberhasilan suatu bangsa dalam membangun karakter warga bangsanya melalui pewarisan nilai-nilai positif bela negara tidak cukup hanya dengan menerapkan tatanan dan peraturan hukum yang kuat di kalangan masyarakatnya, akan tetapi juga harus ditopang oleh aplikasi dalam melestarikan tata-nilai positif tersebut di tengah masyarakat.
Di sisi lain, ketidak sanggupan sebuah bangsa dalam melakukan pembinaan karakter warga bangsanya tercermin dalam sikap dan perilaku mereka yang tidak mencintai bangsanya sebagai salah nilai positif dari bela negara. Hal ini akan berpotensi menghadirkan beragam masalah dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa.
Sejumlah kasus dimana pembangunan karakter suatu bangsa mengalami kegagalan, timbunya masalah dengan meningkatnya angka kriminalitas sebagai ancaman terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pewarisan/Pelestarian Nilai Positif Bela Negara
Kita tentunya sepakat bahwa untuk membangun karakter bangsa yang kuat perlu didukung oleh optimalnya indikator kemampuan awal bela negara yang meliputi : memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan dalam bertahan hidup atau mengatasi kesulitan; senantiasa memelihara kesehatan jiwa dan raganya; ulet dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan.
Selain itu, perlu juga dipahami dan senantiasa diamalkannya nilai-nilai positif sebagai nilai dasar Bela Negara, yang meliputi : Cinta Tanah Air; Sadar Berbangsa dan Bernegara; Setia Kepada Pancasila sebagai Ideologi Negara; Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara; serta Mempunyai Kemampuan Awal Bela Negara pada kehidupan sehari-hari.
Apabila semua aspek tersebut lemah maka secara otomatis akan menurunkan tampilan karakter bangsa kita. Bangsa kita hanya akan menjadi obyek dalam percaturan global tanpa pernah menjadi subyek.
Upaya memperkuat karakter bangsa melalui pengamalan nilai-nilai postif Bela Negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah ada semenjak diproklamirkannya Republik ini pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah Indonesia telah, sedang dan akan terus bersama semua elemen masyarakat lainnya terus berupaya membangun karakter bangsa Indonesia, khususnya bagi generasi muda agar Indonesia menjadi bangsa yang mandiri di era global.
Karakter suatu bangsa berperan besar dalam mempertahankan eksistensi dan kemerdekaannya. Cukup banyak contoh empiris yang membuktikan bahwa karakter bangsa yang kuat berperan besar dalam mencapai tingkat keberhasilan dan kemajuan atau progress pembangunan.
Oleh karena itu pembangunan karakter bangsa harus menjadi prioritas yang perlu diperhatian oleh pengambil kebijakan. Arah pembinaan moral dan karakter bangsa seyogyanya dimulai dari pewarisan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam perwujudan tumbuhnya rasa cinta tanah air serta bangga sebagai bangsa Indonesia dan inilah yang merupakan manifestasi tumbuhnya kemampuan bela negara.
Pembinaan karakter dan moral bangsa melalui upaya pewarisan nilai-nilai positif bela negara akan memperkokoh tiga landasan fundamental bangsa yang maju yaitu: meningkatkan kemandirian bangsa, meningkatkan daya saing bangsa, dan mampu memberikan kontribusi pada pembangunan peradaban dunia.
Tiga landasan fundamental itu diperlukan untuk menghadapi tantangan pembangunan di era milineal yang dicirikan dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, telekomunikasi, dan transportasi.
Dalam rangka memperkuat Karakter Bangsa, bisa dilakukan melalui penguatan Bela Negara baik dalam sikap maupun perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pengamalan nilai-nilai positif Bela Negara perlu diajarkan sejak dini, khususnya kepada generasi muda calon pemimpin masa depan. Dengan memahami nilai-nilai positif Bela Negara secara komprehensif serta sekaligus melestarikan melalui aktualisi dalam kehidupan sehari-hari akan memperkuat karakter sebuah Bangsa.
Selain itu, penguatan karakter bangsa bisa juga dilakukan melalui pegamalan nilai-nilai positif Bela Negara dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang di berbagai lingkungan, melalui perilku dan tindakan: Menciptakan suasana rukun, damai, dan harmonis dalam keluarga; Membentuk keluarga yang harmonis; Meningkatkan iman dan takwa serta iptek (lingkungan akademis); Kesadaran untuk mentaati dan mematuhi segala perundang-undangan, peraturan serta hukum yang berlaku; Menciptakan suasana rukun, damai, dan aman dalam lingkungan masyarakat; Menjaga keamanan wilayah bersama-sama; dan juga mendukung setiap kebijakan pemerintah.
Jika proses pelestarian dan pengamalan nilai -nilai positif bela negara berlangsung dengan baik maka akan memberikan kontribusi bagi penguatan pembentukan karakter bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini.
Penutup
Akhirnya menjadikan nilai-nilai positif bela negara sebagai kekuatan penggerak untuk menguatkan pembentukan karakter bangsa akan menjadi modal utama pembangunan dan tentunya harus diikuti dengan komitmen, tekad dan dedikasi seluruh warga bangsa, khususnya generasi muda termasuk generasi muda.
Oleh karenanya dapat disimpulkan, bahwa Indonesia kedepan harus dipimpin oleh generasi manusia Indonesia dengan karakter kejuangan dan kepahlawanan yang unggul, yang sanggup merancang skenario masa depan bangsanya, menuju bangsa yang mandiri dan bermartabat. Jatengdaily.com-St
0



