Sehatnya Pertanian, Sejahteranya Petani (Hari Tani 24 September 2021)

Oleh: Moh Fatichuddin
ASN BPS Provinsi Bengkulu

BANYAK pakar ekonomi mengungkapkan di berbagai media bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang mampu bertahan terhadap gejolak akibat merebaknya pandemi COVID-19 dua tahun terakhir. Sektor pertanian masih mampu tumbuh positif di saat sektor lain mengalami konstraksi.

Perkekonomian Jawa Tengah selama ini didominasi oleh Industri dan perdagangan, sangat merasakan dampak pandemi. Namun pada saat yang bersamaan itu, sektor pertanian masih tumbuh positif. Seperti layaknya wilayah provinsi lainnya, kemampuan tumbuh di tengah pandemi sangat dipengaruhi oleh karakter usaha petani yang minimal dalam berinteraksi dengan manusia.

Pandemi yang telah memaksa masyarakat untuk tetap di rumah dan menjaga jarak, rasanya tidak signifikan berpengaruh terhadap proses bisnis pertanian. Meski petani relatif lebih lama di rumah, namun tanaman tetap dapat tumbuh. Mungkin kurangnya perhatian petani terhadap tanaman karena “terkalahkan” oleh COVID-19 menjadikan secara kualitas berkurang.

Baca Juga: API Jateng Gelar Istighotsah Sambut Hari Tani; Berharap Reforma Agraria Dipercepat

Namun kondisi di atas seakan terbalik pada triwulan 2 Tahun 2021 ini. BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat pertanian Jawa Tengah pada triwulan 2 Tahun 2021 kemarin mengalami pertumbuhan (y o y) negatif hingga -5,81 persen pada saat ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,66 persen dan sektor lainnya mengalami pertumbuhan positif.

Kontraksi di sektor pertanian ini akan terjelaskan saat membaca keadaan tanaman pangan di triwulan I Tahun 2020 dan 2021. Tanaman pangan merupakan subsector dominan di sektor pertanian, sehingga saat kondisi tanaman pangan mengalami kondisi ekstrem maka akan berpengaruh langsung terhadap pertanian.

Berdasar pengamatan KSA, pada triwulan I tahun 2020 puncak panen padi terjadi di bulan April yaitu mencapai 1,94 juta ton GKG, sedangkan di 2021 puncak panen padi terjadi di bulan Maret dengan angka produksi 2,47 juta ton GKG. Sehingga sangatlah wajar pada triwulan 2 Tahun 2021 sektor pertanian Jawa Tengah mengalami kontraksi.

Faktor yang mungkin mendominasi keadaan ini adalah cuaca, puncak musim hujan di awal 2020 terjadi di bulan Februari-Maret, sehingga panen raya terjadi dibulan April. Sementara pada Tahun 2021 hujan dengan intensitas tinggi sudah terjadi di bulan Desember 2020 dan mengalami puncak musim hujan terjadi di Januari-Februari, sehingga panen raya terlaksana di bulan Maret (triwulan I).

Optimistis
Meski di triwulan II Tahun 2021 pertanian mengalami konstraksi cukup dalam, tapi pertanian masih mungkin untuk tetap optimistis di triwulan berikutnya akan tumbuh positif. Ada beberapa hal yang mungkin menjadi faktor optimisme itu terwujud.

Pertama cuaca, menurut BMKG pada bulan-bulan di triwulan III Tahun 2021 yang biasanya dikenal musim kemarau, namun Jawa Tengah di bulan tersebut masih mengalami hujan dengan sifat hujan di atas rata-rata. Sifat hujan di atas rata-rata tersebut sangat mungkin menguntungkan untuk melakukan penanaman. Lahan pertanian tidak perlu waktu lama untuk dilakukan pengolahan sebagai persiapan penanaman.

Buletin Hujan Bulanan-Update September 2021 yang diterbitkan BMKG menyebutkan beberapa lokasi di Jawa Tengah yang menjadi objek tercatat di BMKG mengalami curah hujan di atas normal, wilayah tersebut adalah Cilacap, Tegal dan Semarang Klimat. Curah hujan di atas normal di bulan-bulan triwulan 3 tersebut sangat memungkinkan membantu proses tumbuh dan produksi tanaman pangan.

Kedua harga, harga komoditas pertanian di pasar sangat berpengaruh terhadap kinerja produksi pertanian. Tanaman pangan sebagai sektor dominan di Jawa Tengah sangat perlu mendapat perhatian dalam pergerakan harga di pasar. Kondisi harga pertanian di pasar dibandingkan dengan harga yang harus dibayarkan petani digambarkan oleh sebuah indikator Nilai Tukar Petani (NTP).

Nilai NTP di atas 100 dapat diinterpretasikan bahwa harga komiditas pertanian relatif baik jika dibandingkan dengan harga yang harus dibayarkan. NTP juga dapat digunakan sebagai informasi awal kondisi kesejahteraan petani.

Bulan Agustus 2021 BPS Jawa Tengah menyebutkan bahwa NTP tanaman pangan berada pada angka 99,48 persen. Mengalami kenaikan 2,01 persen jika dibandingkan dengan angka NTP Juli 2021. Angka NTP tanaman pangan kurang dari 100 perlu kiranya menjadi perhatian para pihak yang berkecimpung di pertanian tanaman pangan. Terutamanya pada komoditas padi, indek harga yang diterima petani padi (It) masih di bawah It palawija dan Indeks harga yang dibayar petani (Ib).

Ketiga pasca panen, setelah petani dapat menghasilkan produk pertanian yang maksimal selanjutnya diperlukan penanganan pasca panen yang optimal sehingga produk pertanian dapat terserap habis oleh pasar. Pascapanen berkaitan erat dengan harga, kebutuhan dan teknologi. Harga pertanian yang menguntungkan petani dan dapat terjangkau oleh konsumen akan menunjang terserapnya produk pertanian.

Untuk kebutuhan komoditas pangan di era pandemi sekarang ini sangatlah tinggi. Keharusan masyarakat untuk meningkatkan dan atau mempertahankan imun tinggi sebagai banteng dari pandemi menjadi salah satu penyebab tingginya kebutuhan pangan.

Teknologi panen dan pascapanen dalam era industry 4.0 sangatlah mungkin menjadi pendorong peningkatan kualitas pasca panen. Dengan teknologi tepat guna tingginya penyusutan hasil panen pada saat proses pasca panen dapat dihindari. Teknologi juga dapat melahirkan kreasi untuk melakukan proses lanjutan pasca panen, produk pertanian diolah dengan teknologi untuk mendapatkan produk olahan yang bisa dikonsumsi langsung dan menarik dari sisi bentuk.

Keempat kebijakan pemerintah, saat produk pertanian sudah dihasilkan dan masyarakatpun membutuhkan maka selanjutnya adalah perlunya sistem distribusi yang tepat. System distribusi meski sangat tergantung pada pasar, namun pemerintah dapat mengintervensi guna terjaminnya kepentingan petani/produsen dan masyarakat sebagai konsumen. Mata rantai distribusi pangan yang selama ini disinyalir sebagai pemicu ketidakstabilan harga dapat diwarnai oleh kebijakan pemerintah.

Selain kebijakan mekanisme pasar, pertanian tetap memerlukan perhatian dalam menjaga kinerja pertanian. Kebijakan pemerintah terkait permodalan sangat dibutuhkan, dengan adanya kebijakan permodalan sangat mungkin fenomena tengkulak/pengijon dapat diminimalkan.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam siaran pers nomor HM.4.6/130/SET.M.EKON.3/06/2021 menuliskan Menko Airlangga menjelaskan, secara khusus stimulus dan insentif yang dikeluarkan untuk tetap menjaga kinerja di sektor pertanian dan perikanan, antara lain: 1) program padat karya pertanian; 2) program padat karya perikanan; 3) banpres produktif umkm sektor pertanian; 4) subsidi bunga mikro/kredit usaha rakyat; 5) dukungan pembiayaan koperasi dengan skema dana bergulir. https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/3044/strategi-pemerintah-mendorong-ketahanan-pangan-dan-kesejahteraan-petani

Sinerginya petani dengan para pihak yang berkaitan akan mengasilkan energi yang tinggi guna menghadapi tantangan pertumbuhan dan peranan pertanian dalam perekonomian. Keberlanjutan keberhasilan pertanian sebagai sektor yang mampu bertahan dari gempiuran pandemic dapat terjadi. Optimisme pertanian menjadi faktor keberhasilan ekonomi dan penunjang kesejahteraan petani adalah bukan hal yang mustahil.

Akhirnya Selamat Hari Tani 24 September 2021, dengan semangat hari tani yakinlah Percepatan Penyelesaian Konflik Agraria dan Penguatan Kebijakan Reforma Agraria untuk Menegakkan Kedaulatan Pangan dan Memajukan Kesejahteraan Petani dan Rakyat Indonesia dapat terwujud.

Sehatnya pertanian akan menghasilkan sejahteranya petani. Jatengdaily.com-yds