FK Unissula Gelar Sumpah Dokter ke-134, Dekan Soroti Tantangan dan Transformasi Pendidikan Kedokteran ke Depan

6 Min Read
Dekan FK Unissula, Dr. dr. Setyo Trisnadi menyerahkan tanda kelulusan kepada sumpahwan terbaik, dr Muhammad Bassam Farkhan. Foto: Siti KH

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menggelar Sumpah Dokter ke-134 dengan meluluskan 37 dokter baru, Sabtu (17/1/2026). Dengan penambahan tersebut, total dokter lulusan FK Unissula hingga saat ini mencapai 6.387 dokter yang telah mengabdi dan tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

Dekan FK Unissula, Dr. dr. Setyo Trisnadi, SH, MH, SpKF, CMe, Adv, menyampaikan bahwa sumpah dokter bukan hanya seremoni kelulusan, tetapi juga peneguhan komitmen moral dan profesional di tengah tantangan dunia kedokteran yang semakin kompleks.Menurutnya, tahun 2025 menjadi momentum penting bagi pendidikan kedokteran nasional dengan diberlakukannya sejumlah regulasi baru, yang menekankan pada penciptaan mutu pendidikan serta penguatan peran dan kualitas dosen.

“Ke depan, institusi pendidikan kedokteran harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyesuaikan dengan regulasi terbaru. Ada perubahan signifikan, mulai dari sistem penjaminan mutu, kebijakan dosen, hingga penyesuaian kurikulum yang mengarah pada standar internasional,” ujar Setyo Trisnadi.

Ia menjelaskan, FK Unissula terus melakukan pengembangan kurikulum yang adaptif, termasuk membuka dan mengembangkan Program Studi Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, hingga Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Hal ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus tantangan persaingan antar institusi pendidikan kedokteran.Dalam konteks nasional, FK Unissula juga berperan aktif dalam pembinaan fakultas kedokteran baru.

Saat ini, Unissula membina tiga fakultas kedokteran, yakni FK Udinus Semarang, FK Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal dan FK Duta Bangsa Surakarta.

“Tantangan ke depan tidak ringan. FK-FK baru memiliki laju perkembangan yang cepat, sehingga pimpinan institusi harus mampu memperkuat sumber daya manusia, pendanaan, sarana prasarana, serta tata kelola agar mutu pendidikan tetap terjaga,” jelasnya.

Di usia FK Unissula yang telah berusia 62 tahun, Setyo Trisnadi menilai tantangan tersebut justru menjadi peluang untuk terus berbenah dan berinovasi demi melahirkan dokter yang profesional, beretika, dan berdaya saing global.Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi kepada insan media atas kerja sama yang terjalin selama ini dalam menyampaikan informasi kemajuan FK Unissula kepada masyarakat.

Tercatat sebagai sumpahwan terbaik, Muhammad Bassam Farkhan dengan IPK 3,52. Sedangkan para dokter yang telah disumpah diserahkan ke pemerintah, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng yang dalam kesempatan ini, diwakili oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Jateng Riptieni Tri Lutiarsi SKM MKes.

Pesan Wakil Rektor

Sementara itu Wakil Rektor II Unissula Dr Dedi Rusdi SE MSi Akt CA, memberikan pesan mendalam kepada para dokter baru dalam momentum sumpah dokter Fakultas Kedokteran Unissula. Ia menegaskan bahwa profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah pengabdian sepanjang hayat yang menuntut integritas, empati, dan kerendahan hati.

Dalam sambutannya, Dr. Rusdi menyampaikan ucapan selamat kepada para orang tua yang telah berhasil memuliakan putra-putrinya melalui pendidikan di Fakultas Kedokteran Unissula hingga resmi menyandang gelar dokter.

“Ini adalah takdir Allah yang luar biasa, orang tua dimuliakan dengan keberhasilan anak-anaknya menempuh pendidikan kedokteran unggulan dan hari ini resmi menjadi dokter. Harapan kami, amanah ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa sumpah dokter merupakan momen bersejarah dalam perjalanan hidup setiap lulusan. Setelah melalui proses panjang dan penuh perjuangan, para dokter kini mengemban tanggung jawab besar untuk melayani dan menolong masyarakat yang sedang diuji dengan sakit.

“Profesi dokter bukan profesi biasa. Ini adalah pengabdian seumur hidup. Dibutuhkan integritas, empati, kejujuran, dan kesiapan melayani kapan pun, termasuk di waktu-waktu sulit, malam hari, atau saat kondisi tidak nyaman,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dr. Rusdi mengingatkan satu nilai fundamental yang kerap terlupakan ketika seseorang telah sibuk dengan profesinya, yakni berbakti kepada kedua orang tua. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun dokter yang sampai pada titik ini tanpa peran, doa, dan pengorbanan orang tua.

“Di balik jas putih yang saudara kenakan hari ini, ada doa yang tidak pernah putus, ada air mata di setiap malam, ada tahajud orang tua yang mungkin tidak pernah saudara lihat. Semua itu menjadi sebab keberkahan,” ungkapnya.

Dalam perspektif Islam, lanjut Dr. Rusdi, Allah SWT secara khusus memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua sebagaimana tertuang dalam Alquran Surat Luqman Ayat 14. Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa ridho Allah bergantung pada ridho orang tua.“Menjadi dokter hebat tidak cukup hanya dengan kecerdasan dan keterampilan klinis. Dokter yang hebat adalah dokter yang rendah hati, profesional, dan menjadikan bakti kepada orang tua sebagai sumber keberkahan dalam setiap tindakan medisnya,” jelasnya.

Ia berharap para dokter lulusan Unissula tidak hanya mampu menyembuhkan penyakit secara medis, tetapi juga menghadirkan ketenangan, empati, dan harapan bagi setiap pasien yang dilayani.“Jadilah dokter yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menenangkan hati pasien. Dengan profesionalisme, kerendahan diri, dan bakti kepada orang tua, insyaallah pengabdian saudara akan bernilai ibadah,” pungkasnya. she

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.