Oleh: Martin Muktiasih
Statistisi Muda – BPS Kabupaten Tegal
SEIRING perkembangan zaman, wisata bukan hanya sekedar perjalan fisik dari rumah menuju ke tempat destinasi. Wisata sekarang ini bertransformasi menjadi rangkaian pengalaman yang dimulai jauh sebelum menapakkan kaki di destinasi, pengalaman menjelajah destinasi bahkan sampai dengan setelah kita pulang ke rumah.
Bayangkan seorang wisatawan yang ingin berkunjung ke destinasi yang berada jauh dari tempat tinggalnya. Zaman dahulu, mungkin ia perlu mengambil brosur atau datang ke agen perjalan utuk menggali informasi tentang destinasi yang dituju. Namun, sekarang hal itu tidak berlaku. Wisatawan dapat menemukan informasi yang diinginkan hanya dengan sekali klik.
Digitalisasi Wisata
Menurut data BPS, di tahun 2025, 77,63 persen penduduk umur 5 tahun keatas pernah menggunakan internet. Pemanfaatan internet yang begitu pesat menjadikan peluang tersendiri bagi dunia pariwisata.
Media internet bisa dijadikan sebagai sarana promosi dan penyebaran informasi yang real time. Wisatawan dapat memperoleh informasi dengan cepat tentang destinasi yang akan dikunjungi.
Sebelum melakukan perjalanan, wisatawan hanya perlu melihat vidio singkat dari media sosial tentang destinasi yang diinginkan.
Wisatawan dapat menggali informasi bagaimana akses menuju ke destinasi, apa saja daya tariknya, dan bagaimana review orang lain tentang destinasi yang dituju hanya dengan melihat di media sosial.
Bahkan saat ini, wisatawan bisa menjelajah destinasi melalui tur virtual. Kemudian ia bisa memesan tiket dengan sekali sentuhan di layar ponsel. Lalu memesan penginapan sesuai selera melalui aplikasi.
Sesampai disana, wisatawan dapat berbagi pengalaman ke semua orang melalui unggahannya di media sosial lengkap dengan filter dan musik yang mendukung. Setelah pulang ke rumah wisatawan bisa memesan makanan khas atau oleh oleh melalui e- commerce.
Dengan begitu, kenangan perjalanan tetap hidup dan bisa dinikmati kembali. Inilah pariwisata digital, penerapan digital ke dalam semua aspek pariwisata.
Sebanyak 24,84 persen usaha e-commerce di tahun 2024 bergerak dibidang jasa akomodasi dan pelayanan/penyedia makan minum. Angka ini naik 1,57 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu 72,05 persen usaha akomodasi menggunakan sarana promosi secara online di tahun 2024. selanjutnya 82,46 persen objek wisata menggunakan internet untuk media sosial. Angka tersebut menunjukan adanya pemanfaatan internet yang meningkat oleh industri pariwisata.
Destinasi yang mampu memanfaatkan teknologi digital akan mudah menarik wisatawan terutama generasi milenial dan generasi Z yang sangat dipengarungi oleh konten digital dalam menentukan destinasi.
Generasi ini dipercaya menjadi motor penggerak pariwisata digital. Wisatawan bukan hanya sebagai menikmat wisata saja namun, mereka juga menjadi agen promosi wisata. Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi platform utama promosi destinasi. Konten visual yang menarik terbukti mampu meningkatkan minat wisatawan.
Pariwisata Tanpa Sampul di Era Digital
Lalu bagaiman dengan industri pariwisata yang belum mampu menyesuaikan diri dengan teknologi digital? Industri pariwisata yang tidak tersentuh teknologi digital lambat laun akan terlupakan. Industri pariwisata tanpa promo digital seperti buku tanpa sampul.
Keindahan dan fasilitas yang ditawarkan tidak terlihat. Wisatawan di paksa untuk menebak isi di dalamnya. Sedangkan generasi sekarang hampir selalu melihat “cover” terlebih dahulu sebelum masuk kedalamnya. Ini menjadikan destinasi yang “offline” cenderung tidak muncul di radar mereka.
Destinasi yang tidak memanfaatkan teknologi digital juga kerap dianggap ketinggalan zaman. Di era teknologi seperti sekarang ini wisatawan dimanjakan dengan kemudahan booking, transaksi dan yang terpenting tersedianya review digital.
Industri pariwisata yang tidak menyediakan fasilitas tersebut tentu daya tarik akan menurun yang dapat mendorong wisatawan memilih tempat lain.
Industri pariwisata yang belum mengenal teknologi digital bisa mulai dengan akun media sosial yang aktif. Membuat konten konten visual yang menarik dan bisa juga bekerja sama dengan marketplace lokal.
Penyebar luasan media sosial bisa dilakukan dengan bekerjasma dengan UMKM lokal, komunitas pemuda seperti karang taruna dan dapat juga menggandeng konten kreator lokal. Narasi lokal yang dicantumkan pada konten bisa menjadi alternatif untuk menonjolkan keunikan destinasi budaya dan cerita lokal yang bisa menarik perhatian wisatawan.
Peran pemerintah juga diharapkan dalam digitalisasi industri pariwisata ini. Pelatihan digital untuk industri pariwisata bisa menjadi jembatan digitalisasi industri pariwisata selain penyediaan akses internet.
Digitalisasi kini menjadi bagian penting dalam indutsri pariwisata. Teknologi hadir di setiap aspek pariwisata. Mulai dari pencarian referensi, pemesanan tiket dan akomodasi melalui aplikasi, hingga pengalaman wisata yang diperkaya dengan tur virtual dan ulasan digital.
Teknologi membuat semunya semakin mudah diakses. Layar ponsel kini seolah menjadi pintu gerbang menuju pengalaman wisata.
Namun, ditengah canggihnya teknologi ada hal yang terpending yang tidak boleh terlupakan. Pariwisata sejatinya adalah sebuah pengalaman, rasa yang melekat pada sebuah tempat.
Rasa yang tidak lepas dari tradisi, budaya dan identitas diri. Jika digitalisasi hanya mengejar tren saja tanpa menjaga ciri khas, maka pariwisata akan kehilangan ruhnya. Pariwisata digital yang sukses adalah pariwisata yang mampu menyelaraskan teknologi dengan kehangatan keunikan budaya yang dimiliki. Jatengdaily,com-St
0



