PEMALANG (Jatengdaily.com)- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum rangkaian kejadian bencana hidrometeorologi yang meluas di kawasan lereng Gunung Slamet, Provinsi Jawa Tengah. Bencana tersebut dipicu curah hujan tinggi dengan durasi panjang yang terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir.
Rangkaian kejadian berupa banjir bandang, banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem telah mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, gangguan aksesibilitas wilayah, serta pengungsian warga di Kabupaten Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal.
Di lereng sebelah timur Gunung Slamet, yang mencakup wilayah Kabupaten Purbalingga, hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir bandang dan angin kencang pada Jumat (23/1/2026) di Kecamatan Rembang dan Kecamatan Karangreja.
Luapan sungai di wilayah hulu yang disertai material sedimen berupa lumpur, batu, dan kayu menerjang permukiman warga serta menutup akses jalan di Desa Serang dan Desa Kutabawa.
Dilansir dari laman Infopublik, Selasa (27/1/2026), berdasarkan hasil kaji cepat sementara, kejadian tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka. Selain itu, satu unit rumah mengalami kerusakan berat dan satu unit rumah rusak ringan akibat cuaca ekstrem.
Banjir bandang juga menyebabkan terisolasinya akses jalan menuju Dusun Gunung Malang dan Dusun Bambangan, serta putus totalnya Jembatan Kali Bambangan.
Sebanyak 31 kepala keluarga atau 110 jiwa mengungsi ke lokasi yang lebih aman di wilayah Desa Kutabawa. Hingga Sabtu (24/1/2026) siang, hujan lebat masih terjadi dan pemadaman listrik di sejumlah titik menghambat komunikasi serta proses penanganan darurat.
Sementara itu, di lereng bagian utara Gunung Slamet, wilayah Kabupaten Pemalang, banjir bandang terjadi pada Jumat (23/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) dini hari, sekitar pukul 17.30 WIB hingga 03.30 WIB.
Curah hujan tinggi menyebabkan peningkatan debit aliran sungai secara signifikan yang memicu banjir bandang di Desa Gunungsari, Desa Penakir, dan Desa Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, serta Desa Sima, Kecamatan Moga.
Dampak kejadian tersebut meliputi kerusakan empat unit rumah warga, satu unit fasilitas ibadah, serta infrastruktur penghubung antarwilayah. Dua jembatan penghubung desa dilaporkan terputus dan Jembatan Sungai Reas mengalami kerusakan struktural.
Bencana ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, sekitar 22 orang luka ringan, serta 119 warga mengungsi dan ditampung di Kantor Kecamatan Pulosari.
Kondisi cuaca di wilayah terdampak masih didominasi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kabut dan angin.
Di lereng bagian barat Gunung Slamet, wilayah Kabupaten Brebes, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang pada Sabtu (24/1/2026) sejak pukul 05.00 WIB memicu banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem di Kecamatan Sirampog, Kecamatan Bumiayu, dan Kecamatan Paguyangan.
Dampak kejadian meliputi sembilan unit rumah rusak berat dan hanyut, dua unit rumah rusak sedang, serta 11 unit rumah terdampak. Selain itu, pohon tumbang menutup badan jalan dan menimpa jaringan listrik, terjadi pergerakan tanah di Dukuh Pengasinan, serta longsor pada tebing penahan Jalan Provinsi Sirampog–Tuwel.
Banjir Kali Keruh turut merusak ruas Jalan Kabupaten Adisana–Cilibur sepanjang kurang lebih 30 meter dengan tinggi talud sekitar lima meter. Banjir bandang juga masuk ke permukiman warga di RT 01, RT 02, dan RT 04 RW 01.
Hingga Sabtu (24/1/2026), hujan masih berlangsung dan sebagian lokasi belum dapat dilakukan asesmen lanjutan akibat cuaca buruk serta padamnya aliran listrik.
Selanjutnya, di bagian barat laut lereng Gunung Slamet, banjir bandang kembali terjadi di kawasan Obyek Wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, pada Sabtu (24/1) sekitar pukul 01.30 WIB.
Hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan banjir bandang pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Gung yang melintasi kawasan wisata tersebut.
BNPB mencatat kejadian ini merupakan banjir bandang kedua dalam waktu berdekatan di kawasan Obyek Wisata Guci.
Dampak kejadian menyebabkan perubahan morfologi alur sungai serta kerusakan sejumlah sarana dan prasarana wisata, antara lain ambruknya Jembatan Jedor dan jembatan di wilayah Pancuran 13, kerusakan area wisata Pancuran 13 dan Pancuran 5, kerusakan jembatan gantung Pancuran 5, serta satu unit ekskavator mini yang hanyut terbawa arus.
Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga. Namun, aktivitas wisata di beberapa titik terdampak dihentikan sementara guna mengurangi risiko terhadap keselamatan pengunjung.
Faktor Pemicu
Berdasarkan hasil kaji cepat BNPB yang mengacu pada analisis forensik bencana sementara, rangkaian kejadian ini turut dipengaruhi oleh karakteristik kawasan lereng Gunung Slamet yang memiliki topografi curam, jaringan sungai berhulu pendek, serta tingkat kerentanan tinggi terhadap peningkatan debit aliran permukaan saat hujan ekstrem.
Akumulasi curah hujan di wilayah hulu menyebabkan respons hidrologi yang cepat, memicu banjir bandang dengan muatan sedimen tinggi, serta meningkatkan potensi longsor pada lereng dan tebing sungai. Perubahan alur dan pendangkalan sungai pada sejumlah DAS turut meningkatkan risiko banjir di wilayah hilir.
Sebagai upaya mitigasi, BNPB mendorong penguatan pengelolaan daerah aliran sungai dan kawasan lereng Gunung Slamet secara terpadu, antara lain melalui penataan dan normalisasi alur sungai, penguatan struktur pengaman tebing dan jembatan, serta pengendalian pemanfaatan ruang di zona rawan banjir bandang dan longsor.
Selain itu, peningkatan sistem peringatan dini berbasis curah hujan dan debit sungai, pembatasan aktivitas di kawasan wisata alam saat hujan lebat, serta penguatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat di wilayah hulu dan hilir DAS menjadi langkah penting dalam pengurangan risiko bencana.
Upaya Penanganan Darurat
Dalam penanganan darurat, BNPB bersama BPBD kabupaten terdampak dan BPBD Provinsi Jawa Tengah terus melakukan koordinasi lintas sektor. Upaya yang dilakukan meliputi evakuasi warga terdampak ke lokasi aman, pengamanan area berbahaya, pembersihan material banjir dan longsor, pembukaan akses jalan yang terputus, pendataan korban dan kerusakan, serta pengelolaan lokasi pengungsian.
Sebagai langkah mitigasi cuaca ekstrem dan percepatan penanganan bencana hidrometeorologi, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk wilayah Jawa Tengah yang dioperasikan melalui Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.
Operasi ini mencakup penaburan bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) guna mereduksi curah hujan berlebih di wilayah hulu dan meminimalkan risiko banjir bandang, sekaligus mempercepat proses penanganan darurat.
Khusus untuk kawasan Obyek Wisata Guci, koordinasi dilakukan dengan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang (PUSDATARU) Provinsi Jawa Tengah terkait pembenahan alur DAS Gung serta perencanaan pemasangan jembatan Bailey sebagai akses sementara.
BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan lereng Gunung Slamet serta sepanjang alur sungai untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan bencana susulan.
Pemantauan informasi cuaca dan peringatan dini, serta kepatuhan terhadap arahan petugas di lapangan, diharapkan dapat meminimalkan risiko dan dampak bencana terhadap keselamatan masyarakat. she
0



