SEMARANG (Jatengdaily.com) – Usia memang terus berjalan, tetapi semangat hidup tak harus ikut melemah. Di tengah tantangan penuaan yang kerap datang tanpa permisi, sekelompok lansia di Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Semarang, menemukan harapan baru melalui gerak tubuh dan tawa. Harapan itu hadir lewat Pelatihan Senam Otot yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Semarang (PkM USM), baru-baru ini.
Kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan fisik, melainkan ajakan untuk melawan penuaan dengan cara yang sehat, menyenangkan, dan bermakna. Tim PkM USM yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Metta Christiana, S.Pd., M.Kes selaku ketua, bersama Ahmad Muhaimin, S.Pd., M.Pd, S.K. Nawangsih, S.Psi., M.Psi., Psikolog, serta Shinta Eka Kartika, SE., M.Si., Akt.
Ketua tim, Metta Christiana, menegaskan bahwa penuaan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari. Namun demikian, dampaknya terhadap kualitas hidup warga usia 40 tahun hingga lansia dapat diminimalkan melalui intervensi gaya hidup sehat dan aktivitas fisik yang tepat.
Ia mengungkapkan, selama ini banyak warga Bangetayu Kulon yang memaknai sehat sebatas tidak sakit. Padahal, kekuatan otot, mobilitas tubuh, serta interaksi sosial memiliki peran besar dalam menjaga kemandirian dan kualitas hidup di usia lanjut.
“Banyak yang merasa cukup asal tidak sakit, padahal tanpa kekuatan otot dan mobilitas yang baik, kualitas hidup akan terus menurun seiring bertambahnya usia,” ujarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim PkM USM menghadirkan Senam Otot Gokil, sebuah program senam kekuatan otot yang dirancang seru, mudah dilakukan, dan dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta. Program ini ditujukan untuk warga usia 40 tahun ke atas hingga lansia agar tetap aktif, bugar, dan berdaya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi edukasi seputar penuaan, pelatihan senam otot, hingga pembentukan komunitas Senam Otot Gokil di Kelurahan Bangetayu Kulon. Melalui pendekatan yang hangat dan partisipatif, para peserta diajak untuk kembali percaya pada kemampuan tubuh mereka sendiri.
Metta berharap, program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kebugaran fisik, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat hidup, rasa bahagia, dan kebersamaan di kalangan lansia.
“Kami berharap, melalui kegiatan PkM ini, para peserta bertambah pengetahuannya dalam mengatasi berbagai masalah penuaan seperti nyeri lutut dan nyeri punggung. Lebih dari itu, mereka memahami bahwa sehat saja tidak cukup. Penuaan harus dilawan dengan latihan kekuatan otot agar tetap mandiri dan produktif,” ungkapnya.
Di Bangetayu Kulon, senam bukan lagi sekadar gerakan. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap keterbatasan usia, sekaligus bukti bahwa menua tidak berarti menyerah. St
0



