By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Ribuan Warga Bersorak, Sekda Jateng Tabuh Beduk Tujuh Kali Tandai Dugderan 2026 di MAJT
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Ribuan Warga Bersorak, Sekda Jateng Tabuh Beduk Tujuh Kali Tandai Dugderan 2026 di MAJT

Last updated: 17 Februari 2026 10:28 10:28
Jatengdaily.com
Published: 17 Februari 2026 10:28
Share
Prosesi semakin kental nuansa tradisional saat ia menerima Suhuf Halaqoh dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang memerankan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ribuan orang bersorak-sorai saat Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menabuh beduk sebanyak tujuh kali di mimbar halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kota Semarang, Senin (16/2/2026) petang.

Suasana yang semula khidmat seketika berubah meriah, disambut dentuman meriam Kolontoko dan letupan petasan yang melesat ke langit senja.

Setiap kali beduk ditabuh, suara meriam menggema memecah udara, seakan menjadi aba-aba bahwa Ramadan segera tiba. Masyarakat yang memadati kompleks MAJT tampak antusias.

Senyum sumringah menghiasi wajah-wajah mereka, sementara tangan-tangan terangkat mengabadikan momen sakral itu melalui telepon genggam.

Penabuhan beduk tersebut menjadi rangkaian puncak acara Dugderan 2026, tradisi khas Kota Semarang yang telah berlangsung sejak 1881.

Perayaan ini menjadi penanda dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah sekaligus simbol kebersamaan masyarakat dalam menyambut bulan suci.

Mengenakan busana adat bangsawan Jawa, Sumarno berperan sebagai Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawiroprojo, disambut Ketua PP MAJT, Prof Dr KH Noor Ahmad MA yang mengenakan busana Jawa lengkap.

Prosesi semakin kental nuansa tradisional saat ia menerima Suhuf Halaqoh dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang memerankan Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum.

Di hadapan warga yang memenuhi kompleks MAJT, Sumarno membacakan Suhuf Halaqoh atau surat keputusan penetapan Ramadan dalam bahasa Jawa. Lantunan bahasa Jawa yang sarat makna itu menambah kekhidmatan sekaligus menjadi pengingat akan akar budaya yang terus dijaga.

Bagi warga Kota Semarang, Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan menjelang Ramadan. Tradisi ini adalah warisan budaya yang telah mengakar dan menjadi identitas kota. Selain sarat nilai sejarah, Dugderan juga menjadi momentum yang menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Safira, warga Barito Semarang, mengaku hampir tidak pernah absen mengikuti perayaan tersebut. Menurutnya, Dugderan selalu menghadirkan suasana meriah dengan pawai budaya serta pasar malam di kawasan Alun-alun Masjid Agung Kauman.

“Selalu happy kalau ada Dugderan, karena banyak makanan dan suka sama karnavalnya. Dulu juga sering naik wahana di Masjid Agung Kauman,” ujarnya dengan antusias.

Ia menilai Dugderan telah menjadi identitas khas Kota Semarang dan berharap tradisi warisan leluhur itu terus dilestarikan hingga generasi mendatang.

Hal senada disampaikan pedagang asal Kabupaten Demak, Misbahul Munir. Ia merasakan langsung dampak positif perayaan tersebut terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pada perayaan kali ini, Misbahul menjajakan es cappuccino, cincau, es buah, es kampul, serta aneka gorengan seperti sosis, siomay, dan otak-otak. Sejak sore hari, dagangannya laris manis diserbu pembeli.

“Ketika ada event, UMKM juga ikut jalan. Ini sangat membantu kami para penjual makanan dan minuman. Alhamdulillah hari ini lumayan laris,” kata warga Kabupaten Demak itu.

Sementara itu, Sekda Jateng Sumarno menjelaskan, perayaan Dugderan merupakan hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang. Ia menegaskan, tradisi tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan.

“Ini adalah kerja sama Pemprov Jateng dengan Pemkot Semarang. Dugderan ini menjadi tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan,” ujarnya.

Melalui Dugderan yang menandai datangnya bulan Ramadan, Sumarno mengajak umat Muslim di Jawa Tengah untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan sebaik-baiknya. Ia berharap Ramadan tahun ini membawa keberkahan bagi setiap individu maupun seluruh masyarakat Jawa Tengah.

“Harapannya dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Mudah-mudahan Jawa Tengah terhindar dari bencana dan kesejahteraan masyarakat semakin baik,” tandasnya. St

You Might Also Like

Kemendesa PDTT dan USM Bersinergi Wujudkan Kemandirian Energi di Daerah Tertinggal
Iuran BPJS Batal Naik, Kata Ganjar Masyarakat Senang
Gelar Icontess Unissula Bertekad Jadi Pusat Riset Dunia
SIG Garap Perbaikan 14 Koridor Jalur Bus TransJakarta Menggunakan Beton Cepat Kering
Hasil Uji 123.572 Orang, Kasus Positif COVID-19 Bertambah 689
TAGGED:di MAJTRibuan Warga Bersoraksekda jatengTabuh Beduk Tujuh KaliTandai Dugderan 2026
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?