By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Turbulensi Transisi di “Jepangnya Indonesia”: Ketika Laki-Laki Tegal Mulai Terpinggirkan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Turbulensi Transisi di “Jepangnya Indonesia”: Ketika Laki-Laki Tegal Mulai Terpinggirkan

Last updated: 4 Maret 2026 17:00 17:00
Jatengdaily.com
Published: 4 Maret 2026 17:00
Share
SHARE

Oleh: Winda Dwi Janingrum

Statistisi Muda BPS Kabupaten Tegal

 

KABUPATEN Tegal, wilayah yang secara historis membanggakan julukan “Jepangnya Indonesia” berkat ketangguhan industri logam rakyatnya di Adiwerna dan Talang, kini berdiri di persimpangan jalan yang menentukan nasib warganya. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025 menyodorkan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 7,61 persen. Sekilas, angka ini tampak “tenang”, hanya naik tipis 0,08 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, siapa sangka di balik ketenangan permukaan statistik tersebut, sedang terjadi “badai” transformasi struktural yang mengubah wajah sosial-ekonomi masyarakat Tegal secara fundamental.

Anomali terbesar dan paling meresahkan dalam data tahun ini adalah terciptanya jurang nasib yang lebar antara laki-laki dan perempuan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern daerah ini, laki-laki Tegal menghadapi risiko pengangguran yang jauh lebih tinggi. Statistik berbicara: TPT laki-laki melonjak tajam dari 6,57 persen menjadi 8,37 persen, sementara pengangguran perempuan justru turun drastis menjadi 6,55 persen.

Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari pergeseran mesin ekonomi daerah. “Kandang” tradisional tenaga kerja laki-laki sedang diguncang hebat. Di sektor manufaktur berat, kita menyaksikan penutupan pabrik seperti PT Manunggal Kabel Indonesia (MKI) pada Juli 2025 yang mem-PHK 600 pekerjanya. Sementara itu, sektor pertanian yang biasanya menjadi jaring pengaman terakhir bagi laki-laki berpendidikan rendah, lumpuh akibat gagal panen (puso) yang diperparah oleh proyek revitalisasi Bendung Danawarih. Banyak buruh tani kehilangan musim tanam mereka karena pasokan air terhenti.

Sebaliknya, karpet merah tergelar bagi tenaga kerja perempuan. Gelombang investasi asing (PMA) yang membanjiri Tegal membawa karakter yang sangat spesifik: padat karya feminin. Raksasa manufaktur alas kaki dan garmen yang baru beroperasi di kawasan Warureja dan Lebaksiu, seperti PT Aroma Footwear Indonesia dan PT Adonia, menyerap tenaga kerja secara masif. Sayangnya, industri ini memiliki preferensi historis terhadap perempuan muda yang dianggap lebih teliti dan disiplin dalam sistem perakitan (assembly line). Pemandangan ribuan pelamar perempuan mengular di gerbang pabrik menjadi kontras tajam dengan laki-laki yang termenung di rumah.

Bapak Rumah Tangga

Implikasi sosiologis dari data ini sangat serius. Kita sedang menyaksikan bibit-bibit fenomena “Bapak Rumah Tangga” akibat keterpaksaan ekonomi. Ketika istri mengambil alih peran tulang punggung keluarga (breadwinner) di pabrik sepatu, suami yang kehilangan lahan garapan atau terkena PHK terpaksa mengambil peran domestik. Pergeseran peran gender yang mendadak ini, di tengah budaya patriarki yang masih kental, berpotensi memicu kerawanan sosial baru, mulai dari hilangnya harga diri hingga konflik rumah tangga.

Meski demikian, ada secercah harapan dalam aspek pendidikan. Tegal sukses mengurai benang kusut “pengangguran terdidik” yang selama ini menjadi penyakit kronis. TPT lulusan Diploma yang tahun lalu mencekik di angka 13,34 persen, kini terjun bebas menjadi 4,71 persen. Ini membuktikan bahwa investasi modern yang masuk telah berhasil menciptakan link and match dengan lulusan vokasi dan perguruan tinggi, menempatkan mereka di posisi manajemen menengah dan teknis.

Namun, modernisasi ini kejam bagi mereka yang tak siap. Pekerja berpendidikan SD dan SMP ke bawah justru semakin terpinggirkan, dengan angka pengangguran yang merangkak naik ke level 6,31 persen dan 6,59 persen. Mereka terjepit dalam situasi dilematis: tidak memenuhi kualifikasi administratif pabrik modern, namun kehilangan pijakan di sektor tradisional yang kian tak pasti.

Pemerintah Kabupaten Tegal tidak bisa hanya berpuas diri dengan metrik “realisasi investasi triliunan rupiah”. Diperlukan intervensi bedah yang presisi. Percepatan penyelesaian infrastruktur irigasi Bendung Danawarih adalah harga mati untuk menyelamatkan lapangan kerja petani. Di sisi lain, program reskilling masif yang spesifik bagi laki-laki harus segera dieksekusi. Pelatihan di bidang logistik, pengemudi alat berat, teknisi mesin, dan konstruksi penunjang industri harus digalakkan agar laki-laki Tegal tidak hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri.

Transisi Tegal dari sentra logam menuju hub manufaktur global adalah sebuah keniscayaan sejarah. Namun, tugas moral pemerintah adalah memastikan bahwa kapal besar industrialisasi ini tidak melaju dengan meninggalkan separuh penumpangnya (para laki-laki dan pekerja manual) tenggelam di belakang. Jatengdaily.com-st

You Might Also Like

RSI Sultan Agung Ciptakan Bedside Mandikan Jenazah COVID-19
Strategi Meningkatkan Perekonomian Surakarta melalui Kunjungan Wisatawan
Setelah Iwan Terpilih Ketua PWI Jateng
Selamat Jalan, Titiek Puspa
Mengelola Potensi Surplus Perdagangan Jawa Tengah
TAGGED:Ketika Laki-Laki Tegal Mulai TerpinggirkanTurbulensi Transisi di "Jepangnya Indonesia"
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?