By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Pembelajaran Sastra Dinilai Membosankan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Seni Budaya

Pembelajaran Sastra Dinilai Membosankan

Last updated: 16 Maret 2020 09:14 09:14
Jatengdaily.com
Published: 16 Maret 2020 09:14
Share
Para pendukung acara Bianglala Sastra di Semarang TV dengan topik Inovasi Pembelajaran Sastra bergambar bersama seusai siaran. Foto:Ugl
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Sampai saat ini masih banyak guru Bahasa Indonesia yang kurang kreatif dalam memanfaatkan media pembelajaran sastra. Akibatnya, seperti yang sering dikeluhkan, kegiatan pembelajaran sastra cenderung berlangsung monoton, kering, dan membosankan. Seharusnya guru bisa memanfaatkan media sosial, OHP, LCD, sehingga aktivitas belajar-mengajar bisa menarik dan menyenangkan.

Demikian kesimpulan diskusi ringan pada acara Bianglala Sastra Semarang TV di Ngesrep, Semarang, Minggu malam dengan tema Inovasi Pembelajaran Sastra. Dipandu Ketua Komunitas Kumandang Sastra Driya Widiana Didiek MS, acara kali ini menampilkan narasumber dosen FKIP Unissula Turahmat dan Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie.

Turahmat mengatakan, media sosial sangat dekat dan akrab dengan kalangan milenial. Karena itu para guru seharusnya bisa memanfaatkan media sosial untuk pembelajaran sastra. Misalnya menganjurkan agar para siswa menulis status berbentuk puisi di media sosial. Suasana kelas akan hidup dan dinamis karena ada interaksi atau tanggapan dari teman-temannya, baik berupa like maupun komtentar.

“Penggunaan media pembelajaran yang masih konvensional harus ditinggalkan. Para guru harus mengikuti perkembangan zaman dengan melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran sastra. Masih kurangnya kreativitas guru dalam mengaplikasikan media pembelajaran yang inovatif patut kita prihatinkan,” ujarnya seraya menyayangkan bagaimana kebijakan yang ada sering membuat para guru tidak bisa kreatif karena harus mengikuti kurikulum dan dibebani tugas-tugas administratif.

Gunoto menambahkan, para guru seharusnya termotivasi untuk melakukan terobosan, sehingga pengajaran sastra di sekolah menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Dengan demikian, para siswa termotivasi untuk belajar tentang sastra, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan bersastra, baik membaca atau menulis. Guru juga harus lebih mengedepankan pengenalan langsung terhadap karya sastra, terutama yang kontekstual, dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa.

Guru, lanjut Gunoto, bisa memanfaatkan teknologi mutakhir untuk pembelajaran sastra, misalnya menampilkan video pembacaan puisi melalui LCD, pembacaan cerpen, bahkan tayangan film yang diangkat dari karya sastra. Dengan cara itu, para siswa lebih tertarik, katimbang diberi teori-teori yang harus dihafal, nama angkatan dan sastrawan, dan sebagainya.

“Teori bukannya tidak penting. Namun cara menyampaikan teori bisa dilakukan pada saat mengulas tayangan pembacaan puisi atau pemutaran film,” tandasnya.

Pada kesempatan itu empat mahasiswa FKIP Unissula menampilkan pembacaan puisi. Mereka  adalah Lukluun Nisak yang membaca puisi “Ketika Engkau Bersembahyang” karya Emha Ainun Nadjib, Nurkholis membaca “Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail, Dina Zahrotun Ni'mah membaca “Kaum Beragama Negeri Ini” karya KH Ahmad Mustofa Bisri, dan Noviana Putri Utami membaca “Sebuah Jaket Berlumur Darah” karya Taufiq Ismail. Ugl–st

You Might Also Like

Kedua Kalinya, Kota Solo Tanpa Grebeg Maulud dan Sekaten
Banyak Komunitas Seni di Jateng Berguguran
Riesanti dan Gunoto akan Bedah Buku ‘Gayatri: Akuntan Majapahit’
Gandeng Tokoh Nasional dan Artis Beken, Generasi Lintas Budaya Gelar #BahanaKebangsaan
Taman Srigunting Kota Lama, Dulu Lapangan Parade Militer Belanda
TAGGED:Dewan Kesenian JatengDKJTKomunitas Kumandang sastrapembelajaran sastra membosankan
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?