By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Membangun Kemandirian Murid Berkebutuhan Khusus melalui Pendekatan Personal dan Kolaboratif
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Membangun Kemandirian Murid Berkebutuhan Khusus melalui Pendekatan Personal dan Kolaboratif

Jatengdaily.com
Published: 18 September 2026 07:33
Share
SHARE

Oleh: Patricia Virantika Alfani
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

KEMANDIRIAN tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bagi murid berkebutuhan khusus, kemampuan melakukan aktivitas sederhana seperti makan dengan rapi, memakai sepatu, mengikat tali sepatu, mencuci piring, menyapu lantai, mencuci baju, hingga menggosok gigi merupakan bagian penting dari proses belajar untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Kesadaran tersebut menjadi perhatian Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang melaksanakan praktik di SLB Yapenas Condongcatur, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 20 Juli–25 September 2026.

Melalui program khusus bina diri, mahasiswa tidak hanya mengajarkan suatu keterampilan, tetapi berupaya membangun kebiasaan agar keterampilan tersebut dapat dilakukan secara mandiri dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berawal dari Memahami Kebutuhan Setiap Murid

Program tidak dimulai dengan memberikan latihan yang sama kepada semua murid. Mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi terhadap kemampuan masing-masing murid dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Observasi menjadi langkah penting untuk mengetahui keterampilan yang sudah dikuasai, keterampilan yang masih membutuhkan bantuan, serta bagian-bagian yang perlu mendapatkan latihan lebih lanjut.

Pendekatan ini menghasilkan program yang lebih personal. Misalnya, hasil observasi menunjukkan terdapat murid yang masih menggunakan kedua tangan ketika makan dan belum mampu menjaga kerapian selama makan.

Temuan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi tujuan latihan yang lebih spesifik, yaitu membiasakan murid makan menggunakan satu tangan secara konsisten sekaligus menjaga kerapian selama makan.

Dengan demikian, pembelajaran bina diri tidak sekadar bertanya “keterampilan apa yang harus diajarkan?”, tetapi dimulai dari pertanyaan “keterampilan apa yang dibutuhkan murid ini agar lebih mandiri?”

Dari Demonstrasi, Pendampingan, hingga Mandiri

Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap. Mahasiswa terlebih dahulu memberikan demonstrasi agar murid memperoleh gambaran konkret mengenai aktivitas yang akan dilakukan.

Setelah itu, murid mencoba melakukan aktivitas dengan bimbingan. Ketika kemampuan mulai berkembang, bantuan secara perlahan dikurangi dan murid diberikan ruang untuk mencoba secara mandiri.

Pola tersebut diterapkan dalam berbagai keterampilan bina diri, mulai dari makan dengan rapi, memakai dan mengikat tali sepatu, mencuci piring, menyapu lantai, mencuci baju, hingga menggosok gigi.

Hal yang menjadi perhatian bukan hanya apakah murid mampu menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi juga seberapa jauh bantuan dapat dikurangi. Semakin sedikit bantuan yang diperlukan, semakin besar kesempatan murid untuk membangun rasa percaya diri dan kemandirian.

Langkah Menjadi Mandiri

Kemandirian tentu tidak terbentuk dalam satu kali pertemuan. Keterampilan perlu dilatih, diulang, dan dibiasakan. Salah satu pengalaman yang menunjukkan proses tersebut terlihat dalam latihan memakai dan mengikat sepatu.

Setelah dilakukan tiga kali penerapan, murid sudah mampu memakai dan mengikat sepatunya secara mandiri.

Bagi sebagian orang, pencapaian itu mungkin terlihat kecil. Namun, di balik kemampuan mengikat tali sepatu terdapat proses belajar yang panjang: memperhatikan contoh, memahami urutan langkah, mencoba, melakukan kesalahan, menerima bantuan, mengurangi bantuan, lalu mencoba kembali.

Ketika Sekolah Tidak Berhenti di Pintu Kelas
Salah satu hal penting dalam program ini adalah keterlibatan orang tua. Latihan yang dilakukan di sekolah tidak berhenti ketika kegiatan PK selesai.

Mahasiswa berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang tua agar keterampilan yang telah dilatihkan dapat diteruskan di rumah.

Kolaborasi ini membuat proses pembelajaran tidak terputus antara sekolah dan lingkungan keluarga. Murid memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan yang sama dalam situasi kehidupan nyata.

Di sinilah kemandirian tidak lagi dipandang sebagai target pembelajaran di kelas, tetapi sebagai kebiasaan yang perlu hadir dalam keseharian murid.

Tumbuh Kepercayaan Diri
Pendidikan bagi murid berkebutuhan khusus bukan hanya tentang pengetahuan yang diperoleh, tetapi juga tentang kemampuan menjalani kehidupan. Ketika seorang murid mampu memakai sepatu sendiri, ada satu ketergantungan yang berkurang.

Ketika murid mampu makan dengan rapi, ada satu kebiasaan baru yang terbentuk. Ketika murid mampu mencuci piring atau menggosok gigi sendiri, bertambah satu aktivitas kehidupan yang dapat dilakukan tanpa bantuan.

Dan ketika keterampilan-keterampilan kecil tersebut terus dilatih dan dibiasakan, perlahan tumbuh sesuatu yang lebih besar: rasa mampu, percaya diri, dan kemandirian.

Pengalaman mahasiswa PK UNY di SLB Yapenas menunjukkan bahwa membangun kemandirian tidak selalu membutuhkan intervensi yang rumit.

Kadang, perubahan justru dimulai dari aktivitas yang sangat sederhana, dilakukan dengan cara yang tepat, berulang, konsisten, dan melibatkan lingkungan terdekat murid. Jatengdaily.com

You Might Also Like

Kekuatan Hukum Surat Keterangan Waris yang Diwarmeking Oleh Notaris
Indeks Implisit Kota Tegal Tahun 2023 sebesar 3,21 Persen
Pengertian Kemiskinan Itu Sangat Nisbi
Ketika Negara Datang ke Pintu Sastrawan
TPK Hotel Bintang di Kota Tegal Desember 2024 Turun Dibanding Desember 2023
TAGGED:Membangun KemandirianMurid Berkebutuhan KhususPendekatan Personal dan Kolaboratif
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?