By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Mencintai dan Meneladani Rasulullah
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Tausiyah

Mencintai dan Meneladani Rasulullah

Last updated: 30 Oktober 2020 10:52 10:52
Jatengdaily.com
Published: 30 Oktober 2020 10:52
Share
SHARE


Oleh Ahmad Rofiq
BULAN Rabi’ul Awal – atau bulan Maulid – adalah bulan istimewa bagi kaum Muslim di seluruh dunia. Meskipun shalawat menjadi bagian wajib dibaca oleh kaum Muslim dalam setiap takhiyat akhir shalatnya, di bulan ini mereka melantunkan shalawat sebulan penuh, disertai membaca sejarah hidup Rasulullah saw, dan berbagai macam shalawat dengan berbagai lagu dan pujian kepada beliau.

Allah memposisikan Rasulullah Muhammad saw sebagai sosok uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi orang-orang yang merindukan Allah dan selalu ingat dan banyak menyebut Asma Allah (QS. Al-Ahzab (33): 21, Al-Mumtahinah (60): 6). Ini ditunjukkan bahwa, Allah dan para Malaikat-Nya juga bershalawat untuk Nabi (QS. Al-Ahzab (33): 57). Karena itulah sebagai pengikut beliau, kaum Muslim senantiasa merayakan dan mengagungkan beliau dengan memperbanyak membaca shalawat dan mendoakan keselamatan untuk beliau.

Sosok yang tidak memperkenankan dirinya digambar ini, karena Beliau sangat menyadari rasa cinta pengikutnya pemeluk agama Islam, karena beliau mengkhawatirkan untuk dikultuskan. Maka siapapun yang menghina, menistakan, dan mencemarkan nama Beliau, dapat dipastikan akan menuai reaksi dan kemarahan mereka. Kita bisa “belajar” dari ketidak-sensitifan Emmanuel Macron, presiden Perancis.

Bermula dari Samuel Paty (47) yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad saw dari majaah satir Charlie Hebdo saat mengajar di kelas (tribun.com, 29/10/2020) yang bagi kaum Muslim, Nabi Muhammad saw adalah sosok yang sangat dihormati. Kasus Charlie Hebdo ini sebenarnya tidak yang pertama, karena 2015 sebenarnya sudah pernah terjadi, yang mengakibatkan terjadinya serangan bersenjata di markas majalah Hebdo dan menewaskan 12 orang terbunuh.

Salah seorang murid Paty, Abdoullakh Anzorov (18) merasa “tersinggung” karena sosok idola, panutan yang dicintai, dan diteladani, dilecehkan oleh majalah satir Charlie Hebdo. Celakanga Paty, merasa dengan demonstrative di depan kelas, menjadikan majalah tersebut sebagai bentuk toleransi dan demokratisasi. Karena itulah, Anzorov memenggal kepala Paty, gurunya itu.
Anehnya, Macron merespon pemenggalan Paty oleh Anzorov itu dengan mengatakan, “negaranya tidak akan berhenti menerbitkan atau membicarakan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad saw”.

Statemen Macron tersebut, tentu saja, menimbulkan gelombang protes dan kritikan di sejumlah negara di timur tengah, seperti Irak, Palestina, Libya, Suriah, dan tidak lama lagi boleh jadi Indonesia. Sejumlah negara sudah mengambil langkah, memboikot semua produk Perancis. Tidak cukup itu, ada pemimpin negara yang mengecam dan menuduh presiden Perancis itu anti Islam. Dalam situasi dunia yang sedang prihatin sebagai dampak covid-19 yang belum juga mereda, anehnya Presiden Perancis, justru “menghasut” dan “memprovokasi” umat Islam di seluruh dunia, dengan alasan kebebasan berpendapat, berekspresi, dan demokrasi.

Reaksi berupa pemboikotan warga Muslim sedunia, tampaknya berpotensi akan eskalatif dan berkepanjangan. Selama Macron tidak menarik ucapannya, maka reaksi dunia akan semakin keras dan justru dikhawatirkan akan menjadi semakin tajam. Bahkan pemain sepak bola tim nasional Perancis, Paul Pogba, mengundurkan diri, karena merasa agamanya dihina oleh presiden Perancis. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan “Emanuel Macron harus belajar toleran kepada Merkel” (Angela Merkel, adalah Kanselir Jerman). Perwakilan Tinggi PBB untuk Aliansi Peradaban, Miguel Angel Moratinos pun mengingatkan Macron, agar saling menghormati semua agama dan tidak melecehkan symbol-simbol agama (Suara, 29/10/2020).

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, mengajarkan kepada pemeluknya, untuk tidak memaki sesembahan pemeluk agama lain. Termasuk di dalamnya juga, jangan memaki, mencela, dan menistakan orang-orang yang dipuji oleh agama lain. Karena mereka akan balas memaki Allah, dan bahkan melampaui batas. Sebagaimana firman Allah: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. Al-An’am (6): 108).

Para pemimpin negara dan siapapun di muka bumi ini yang merindukan perdamaian dan kedamaian, sudah selayaknya sangat memahami perasaan dan sensitifitas manusia. Saling menghormati adalah kata kuncinya. Karena itu,seruan PBB agar Macron tidak menghina symbol-simbol agama, patut diapresiasi, agar dunia yang masih banyak konflik ini, bisa lebih tenteram dan damai.


Mencinta dan Menaladani
Tanda-tanda seseorang mencintai seseorang adalah banyak menyebutnya. Ungkapan berbahasa Arab menyatakan: “man ahabba syai-an katsura dzikruhu” artinya “barangsiapa mencintai sesuatu maka banyak menyebutnya”. Karena itu, sebagai wujud cinta Rasul, kaum Muslim di seluruh dunia, menyambut bulan Rabi’ul Awal ini dengan antusiasme yang sangat tinggi.

Dalam QS. Ali ‘Imran (3): 31, Allah berfirman: Katakanlah (Hai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Masih diteruskan pada ayat berikutnya: Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. Ali ‘Imran (3): 32).

Bagi orang yang berfikir tekstual dan memahami ayat tersebut, seakan-akan Muhammad saw yang ditugasi menjadi utusan-Nya, mengklaim dirinya bahwa apabila kita sebagai pengikutnya mencintai Allah, maka “cukup” dengan mengikuti Rasulullah saw. Karena itu, pemahamannya tidak bisa dipisahkan dengan berikutnya, karena sesungguhnya taat kepada Allah juga harus taat kepada Rasul-Nya. Ayat tersebut juga dipertegas lagi dalam QS. Al-Nisa’ (4): 59 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Marilah kita sebagai pengikut Rasulullah saw, berusaha mencintai dan meneladani apa yang telah dicontohkan dan dipraktikkan oleh Beliau. Kualitas keberagamaan pemeluknya, adalah manakala dapat menghadirkan kedamaian dan kenyamanan baik dari tutur kata maupun tangannya.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Shallu ‘ala n-Nabi. Allah a’lam.
Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., alumnus Madrasah TBS Kudus, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua DPS Bank Jateng Syariah,Ketua DPS RSI-Sultan Agung Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com–st

You Might Also Like

Idul Fitri, Miniatur Kehidupan Surgawi
Webinar UIN Walisongo, Bahas Kendala dan Prospek Demokratisasi Desa
Berbekal Ilmu, Santri Miliki Fondasi Hebat Hadapi Gempuran Modernitas
OPM, Bughat, dan NKRI
Jangan Berperilaku Dusta di Hari Raya
TAGGED:maulid nabimencintai rasullahmeneladani rasullulahMUI JatengUIN Walisongo
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?