Oleh: Santi Widyastuti
Statistisi BPS Kota Salatiga
BEBERAPA tahun terakhir kata bonus demografi seringkali digaungakan oleh banyak kalangan. Menariknya isu bonus demografi membuat berbagai penelitian dilakukan, di antaranya mengenai prediksi kapan bonus demografi berlangsung, kapan puncaknya terjadi, apa penyebabnya serta bagaimana dampaknya.
Bonus demografi adalah suatu fenomena kependudukan yang terjadi ketika jumlah atau persentase penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Dalam definisi Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk usia produktif adalah mereka yang berusia antara 15-64 tahun.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa bonus demografi diperkirakan terjadi di Indonesia antara tahun 2020-2035. Seperti prediksi beberapa ahli penduduk usia produktif saat ini lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2020 penduduk usia produktif di Indonesia sebesar 70,72 persen.
Dampak Bonus Demografi
Dampak dari bonus demografi disebut sebagai dua sisi mata uang. Sisi baiknya, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Hal ini menjadi modal penggerak perekonomian. Banyaknya penduduk usia produktif bisa mendukung industri padat karya sebagai tenaga kerja. Selain itu jumlah penduduk produktif yang besar berkaitan dengan konsumsi yang besar pula.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar yang mengerakkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu jika ada pengungkit besar pada komponen konsumsi rumah tangga maka akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi.
Dampak positif yang diharapkan hanya akan terjadi jika kualitas penduduk usia produktif tersebut baik. Kualitas yang diharapkan mencakup banyak hal di antaranya memiliki kesehatan dan pendidikan yang baik. Dengan modal tersebut maka penduduk usia produktif akan mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja pada posisi yang mendapatkan upah dan perlindungan yang layak.
Pada akhirnya jika memiliki pendapatan yang baik maka akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya (termasuk usia non produktif).
Sebaliknya penduduk usia produktif yang tidak memiliki kualitas baik maka justru akan menjadi beban baik untuk keluarga bahkan untuk negara. Selain itu dalam jangka panjang,ledakan penduduk usia produktif di masa kini akan menjadi ledakan penduduk lanjut usia (lansia) di masa mendatang, sehingga jika tidak berdaya maka akan menjadi beban bagi generasi penerusnya.
Penyebab Bonus Demografi
Ledakan lansia di masa mendatang bukan tidak mungkin terjadi. Jika kita turut ke belakang, bonus demografi sejatinya adalah buah dari program pemerintah untuk mengendalikan jumlah penduduk. Pada tanggal 28 Januari 1987 (www.bkkbn.go.id), pemerintah secara resmi mencanangkan program Keluarga Berencana (KB) secara mandiri. Inti dari program tersebut adalah membatasi jumlah anak dalam satu keluarga. Mereka menggunakan tagline “Dua Anak Cukup”.
Setelah 34 tahun berlalu, buah dari program pengendalian jumlah penduduk sudah dirasakan. Selanjutnya mitigasi ledakan penduduk lansia harus segera dipersiapkan. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa bonus demografi akan menjadi sesuatu yang baik jika kualitas penduduk terutama yang berusia produktif,baik. Sayangnya dari sisi pendidikan, rata-rata lama sekolah di Indonesia hanya sebesar 8,48 tahun.
Meskipun rata-rata lama sekolah terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, akan tetapi angka tersebut masih jauh dari cukup. Rata-rata lama sekolah 8,48 tahun menggambarkan bahwa rata-rata penduduk usia 25 tahun ke atas hanya menamatkan pendidikan setara kelas VIII-IX pada sekolah menengah pertama. Kita tahu bahwa sebagian besar sektor formal pada saat ini menginginkan tenaga kerja dengan pendidkan minimal setara sekolah menengah atas.
Jika penduduk usia produktif tidak memiliki pendidikan seperti yang diinginkan oleh sebagian besar sektor formal, maka mereka akan terjebak pada sektor informal. Dampak lanjutnnya adalah mereka tidak mendapatkan jaminan atas upah dan perlindungan ketenaga kerjaan yang layak.
Oleh karena itu peran pemerintah sangatlah penting dalam mendorong penduduk terutama usia produktif untuk memiliki pendidikan yang memadai. Selain itu diperlukan juga bekal ketrampilan terutama penduduk usia produktif yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk menempuh pendidikan.
Selanjutnya dari sisi kesehatan,upaya untuk mewujudkan penduduk yang sehat semestinya dimulai sedini mungkin. Seperti yang dilakukan pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam Hari Keluarga Nasional (Harganas) Tahun 2021. Tema yang diusung adalah “Keluarga Keren Cegah Stunting”. Tema ini penting karena stunting di Indonesia masih sebesar 30,18 persen pada tahun 2018.
Angka ini masih lebih tinggi dari standar WHO sebesar 20 persen. Stunting merupakan kondisi di mana pertumbuhan anak terganggu akibat kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang lama. Akibat stunting adalah terganggunya perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik.
Dibutuhkan dukungan dari semua pihak untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan keluarga Indonesia yang berkualitas melalui pendidikan dan kesehatan yang baik. Selamat Hari Keluarga Nasional. Jatengdaily.com-yds


