Harga Minyak Goreng dan Negeri Penghasil Sawit

5 Min Read

Oleh: Eli Sufiati,SE
Statistisi Ahli Pertama BPS Kab.Kendal

MIRIS, hidup di negeri dengan penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, tapi harga minyak goreng membumbung tinggi bak roket. Kementerian Pertanian mencatat bahwa Indonesia memiliki perkebunan sawit yang luasnya saat ini mencapai kurang lebih 10 juta hektar, 41 persen di antaranya adalah perkebunan rakyat.

Dengan produktivitas kurang lebih 6 ton Crude palm Oil (CPO) per hektar. Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total produksi minyak sawit / CPO tahun 2020 sekitar 47 juta ton. Dari total produksi tersebut, sebanyak 34 juta ton terserap di pasar ekspor.(IDXChannel).

Minyak goreng merupakan salah satu komoditas sembilan bahan pokok / sembako ( 1. Beras 2. Minyak goreng 3. Sayur dan buah 4. Gula 5. Garam beryodium 6. Daging sapi 7. Susu 8. Telur 9. Gas elpiji ) penting yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk keperluan rumah tangga sehari – hari sebagai salah satu bahan utama pengolahan makanan / memasak yang disajikan di rumah untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Kenaikan harga minyak goreng yang membubung tinggi di tengah himpitan ekonomi karena pandemi covid-19 membuat ibu rumah tangga menjerit. Mereka harus pintar – pintar mengatur pengeluaran rumah tangga yang bertambah karena naiknya harga minyak goreng. Harga eceran nasional minyak goreng saat ini berdasarkan catatanKementerian Perdagangan, untuk minyak goreng curah sudah mencapai Rp. 16.500 per liter naik 14,58 persen dari bulan Oktober dan untuk minyak goreng kemasan 18.300 naik 10,98 persen.

Mengapa harga minyak goreng meroket di negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia? Itulah yang saat ini menjadi tanda tanya besar bagi sebagian besar masyarakat. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan ada dua penyebab naiknya harga minyak goreng selama sebulan terakhir belakangan antara lain faktor global dan faktor dalam Negeri.

Faktor global karena pasokan minyak nabati dunia menurun dan adanya krisis energi di berbagai Negara misalnya, Cina, India dan Eropa. Untuk faktor dalam negeri , kebanyakan entitas produsen minyak goreng dan CPO berbeda, artinya produsen minyak goreng tergantung pada harga CPO .

Oleh karena itu ketika harga minyak sawit mentah melonjak harga minyak goreng curah dan kemasan sederhana ikut meningkat tajam. Ini berpengaruh langsung karena 435 entitas produsen minyak goreng didominasi ketergantungan pada CPO, karena tidak semua terafiliasi dengan kebun sawit.(Bisnis.com, 24/11/2021)

Minyak goreng merupakan komoditas yang memiliki andil cukup besar dalam pengeluaran konsumsi masyarakat (0,1%) setelah perhiasan emas (0,26%) dan cabai merah (0,16%). Selain itu kebutuhan sumber omega 9 ini juga cenderung meningkat setiap tahunnya. Proyeksi tingkat konsumsi minyak goreng pada tahun 2019 sebesar 10,86 liter/kapita/tahun. Angka ini cenderung meningkat dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 9,60 liter/kapita/tahun. (Pola Distribusi Perdagangan Komoditas Minyak Goreng,2021)

Inflasi bulan Oktober 2021 sebesar 0,12 persen, minyak goreng sebagai salah satu komoditas kelompok pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau yang memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi bulan Oktober yaitu sebesar 0,05 persen. (Berita Resmi Statistik,November 2021)

Minyak goreng merupakan komoditas strategis yang sangat berpengaruh terhadap kenaikan inflasi, harusnya pemerintah tanggap terhadap fluktuasi harga minyak goreng ini. Kita tahu bahwa fluktuasi harga komoditas strategis ( Beras, Jagung, Bawang merah, Bawang putih, Cabai besar, Cabai rawit, Daging sapi/kerbau, Daging ayam, Gula pasir, dan Minyak goreng) tidah hanya terjadi sekali atau dua kali tetapi setiap menjelang hari – hari besar nasional seperti Hari raya Idul Fitri dan hari raya Natal sering mengalami fluktuasi harga.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berencana akan menghentikan ekspor minyak sawit mentah untuk meningkatkan nilai tambah produk turunan di dalam negeri. Di sisi lain produsen minyak goreng dalam negeri bekerja sama dengan pelaku usaha ritel modern mengalokasikan minyak goreng kemasan sederhana dengan harga Rp. 14.000 menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.Adapun volume alokasi minyak goreng murah itu mencapai 11 juta liter yang didistribusikan ke setiap gerai ritel modern secara nasional. (Bisnis.Com)

Kebijakan yang diambil Pemerintah untuk menghentikan ekspor minyak sawit dan kontribusi para pelaku usaha yang terkait sektor tersebut dalam upaya menekan harga minyak goreng dapat segera terealisasi. Jatengdaily.com-yds

Share This Article