SOLO (Jatengdaily.com) – Persis Solo juara Liga 2, setelah mengandaskan RANS Cilegon dalam partai final 2-1 Kamis (30/12/2021) malam. Euforia masyarakat Solo pun pecah. Konvoi para suporter tak terelakkan meskipun aparat keamanan sudah mewanti-wanti untuk tak melakukannya.
Bisa dibilang wajar ungkapan kegembiraan masyarakat Solo ini setelah beberapa dekade menantikan Persis Solo bangkit dan bisa berada di kasta tertinggi kompetisi sepakbola Indonesia. Para suporter mungkin juga menjadi saksi beberapa tahun terakhir Persis yang selalu gagal menembus Liga 1 dan mentok di babak 8 besar.
Padahal menilik perjalanan klub kebanggaan wong Solo ini, Persis adalah tim sarat sejarah yang ikut membidani terbentuknya PSSI. Persis didirikan 8 November 1923. Dilansir laman persissolo.id, pendirian bermula Sastrosaksono dari klub Mars serta Raden Ngabehi Reksohadiprojo dan Sutarman dari klub Romeo menginisiasi pembentukan Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) sebagai cikal bakalnya. Pembentukan Persis didasari atas keyakinan ketiga tokoh tersebut bahwa permainan sepak bola dapat dimainkan oleh siapapun tanpa ada batasan tertentu.
Baca Juga: Persis Juara Liga 2, Angkat Trofi Setelah 27 Tahun
Sumpah Pemuda 1928, menjadi momen VVB mengubah namanya menjadi Persatuan Sepakraga Indonesia Soerakarta (PERSIS). Perubahan nama ini adalah salah satu bentuk pengejawantahan nilai perjuangan dan persatuan yang terdapat dalam isi sumpah pemuda. Secara nonformal, nama Persis mulai digunakan klub.
Pada tanggal 19 April 1930 Persis ikut serta dalam pembentukan federasi sepak bola PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) bersama enam klub lain yakni Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB), Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM), Madioensche Voetbal Bond (MVB), Perserikatan Sepakraga Mataram (PSM), Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), dan Voetbalbond Indonesische Jacarta (VIJ). Terbentuknya PSSI berasal dari semangat perjuangan bangsa Indoneisa untuk melawan imperialisme Belanda kala itu.
Jawara Perserikatan
Persis pernah menjadi jawara perserikatan di era tahun 1930-1940-an. Tak tanggung-tanggung Laskar Samber Nyawa mampu menjuarai kompetisi Perserikatan PSSI sebanyak tujuh kali, yakni pada 1935, 1936, 1939, 1940, 1941, 1942, dan 1943.
Namun setelah era tersebut Persis Solo meredup, bahkan terus berkutat di zona wilayah Karesidenan Surakarta. Warga Solo pun seolah lupa dengan Persis, khususnya di era tahun 1980-1990-an kala Kota Solo ada klub Arseto yang tampil di Kompetisi Galatama. Klub yang didanai Sigit Hardjojudanto, anak Soeharto tatkala masih berkuasa menjadi Presiden.
Arseto pun semakin moncer dengan dibangunnya Stadion Sriwedari yang menjadi markas Arseto. Masa-masa inilah, Persis masih harus berjuang di kompetisi perserikatan zona wilayah Karesidenan Surakarta dan sulit beranjak.
Baru pada tahun 1994 Persis menjuarai Divisi II setelah mengalahkan Persikab Bandung. Dan puncaknya tahun 2006, berhasil menjadi runnerup Liga Divisi 1, sekaligus mengangkat Persis masuk kasta tertinggi Liga Indonesia yang saat itu bernama Divisi Utama 2007.
Namun keikutsertaan Persis di kasta tertinggi Indonesia tak bertahan lama. PSSI mengubah kompetisi level tertinggi dengan nama ISL pada tahun 2008 dan Persis hanya mampu finis di peringkat ke-10 grup barat gagal bertahan di level utama. Sejak saat itu Persis juga kesulitan menembus level tertinggi kompetisi Liga Indonesia.
Tahun 2021 Persis diambil alih kepemilikan oleh Kaesang Pangarep cs. Dari sinilah momentum Persis dibangun dengan serius dan pendanaan tak sedikit. Sejumlah pemain kelas Liga 1 pun direkrut dipimpin pelatih Eko Purjianto. Dan, hasilnya juara Liga 2 2021 sekaligus promosi ke Liga 1.
Kini masyarakat Solo menanti kiprah Persis untuk bisa berbuat banyak di Liga 1 musim depan. Harapannya bukan sekadar numpang lewat, dan awet di kasta tertinggi kompetisi level atas. Terlebih lagi Solo sudah mempunyai stadion kelas internasional yakni Stadion Manahan yang bakal menjadi saksi perjalanan Persis mengarungi Kompetisi Liga 1 musim depan. yds


