DEMAK (Jatengdaily.com) -Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tak jarang berdampak pada perkembangan psikologis dan perilaku sosial yang tak terkendali. Utamanya kelompok usia remaja, yang sering kali disebut sebagai masa mencari jati diri.
Di sisi lain, usia remaja identik dengan masa perkembangan fungsi alat reproduksi. Sehingga perlu adanya pengawasan dan atau bimbingan orang tua, guru atau mereka yang paham dan berkompeten tentang kesehatan reproduksi remaja. Anak baru gedhe (ABG) yang tengah masuk masa pubertas ini rentan menghadapi persoalan seputar fungsi alat reproduksi.
Saat ini, tidak sedikit orang, baik dari kalangan remaja maupun orang dewasa yang masih menganggap tabu akan hal-hal yang berkaitan dengan reproduksi. Sehingga hal tersebut memicu rasa tidak nyaman ketika membahasnya, dan akan cenderung untuk menghindari topik-topik semacam itu. Tetapi, apabila remaja tersebut berkonsultasi dengan tenaga kesehatan remaja lebih terbuka untuk mengutarakan permasalahan mengenai kesehatan reproduksi.
Kepala Puskesmas Wonosalam II Muazaroh SKM Mkes menjelaskan, kesehatan reproduksi remaja dapat diartikan sebagai kondisi sehat pada sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki remaja. Meliputi kondisi fisik, mental, dan sosial kultural. Untuk itu diperlukan kegiatan upaya kesehatan berbasis masyarakat (remaja) untuk memantau kesehatan remaja dengan melibatkan remaja itu sendiri.
“Maka keberadaan Posyandu Remaja yang di antaranya memberikan materi kesehatan reproduksi remaja sangat penting. Karena setelah mendapatkan edukasi, peserta dapat menerapkan pola hidup sehat. Termasuk didalamnya terhindar dari pernikahan dini, pergaulan seks bebas, serta terhindar dari NAPZA” ujar Muazaroh, Rabu (18/5).
Kegiatan di posyandu remaja tidak jauh beda dengan posyandu pada umumnya yaitu mempunyai pelayanan 5 meja akan tetapi, posyandu remaja lebih menekankan pendidikan remaja dan pemberdayaan remaja. Dalam pelaksanaannya meja 1 adalah meja pendaftaran, meja 2 adalah meja pengukuran, meja 3 adalah Pencatatan buku pemantau kesehatan remaja, meja 4 adalah Konseling dan pemberian TTD, dan meja 5 adalah KIE.
Seperti kegiataan Posyandu Remaja ‘Setia’ di Balai Desa Doreng Kecamatan Wonosalam belum lama ini. Selain kegiatan komunikasi informasi dan edukasi berupa penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja melalui video animasi oleh Tim Promoter Kesehatan Puskesmas Wonosalam II, 20 peserta remaja putri yang hadir juga mendapatkan tablet tambah darah (TTD) dari Bidan Desa Noor Hidayah Amd Keb.
“Pemberian TTD dimaksudkan menanggulangi anemia yang potensial terjadi pada remaja putri saat menstruasi. Seperti diketahui, apabila tidak segera dilakukan upaya yang tepat maka anemia berpotensi menganggu kesehatan reproduksi,” imbuhnya.
Pada kegiatan yang rutin digelar setiap bulan itu, peserta yang hadir terlihat antusias menyimak materi-materi yang disampaikan oleh narasumber. Mereka juga terlibat secara aktif, sehingga kegiatan penyuluhan berlangsung dengan sistem dua arah. Ditayangkannya video animasi di sela penyampaian materi kesehatan reproduksi menjadikan peserta lebih mudah memahami. rie-st


