By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Satupena Jateng Diskusikan Revitalisasi Alun-Alun Kota Semarang
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Satupena Jateng Diskusikan Revitalisasi Alun-Alun Kota Semarang

Last updated: 24 Mei 2022 06:02 06:02
Jatengdaily.com
Published: 24 Mei 2022 06:01
Share
Gunoto Saparie
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Perkumpulan Penulis Indonesia “Satupena” Jawa Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang akan mendiskusikan soal Revitalisasi Alun-Alun Kota Semarang dari Perspektif Kebudayaan di Gedung Oudetrap, Jalan Taman Srigunting, Kota Lama, Semarang, Selasa, 24 Mei 2022, pukul 09.00 s.d. 11.00 wib.

Diskusi yang akan dipandu Bendahara Umum Satupena Jawa Tengah Jayanto Arus Adi itu menampilkan Walikota Hendrar Prihadi, Ketua Umum Satupena Pusat Denny J.A. dan Sekretaris Umum Satupena Jateng Mohammad Agung Ridlo.

Ketua Umum Satupena Jateng Gunoto Saparie mengatakan, Pemkot Semarang telah melakukan revitalisasi alun-alun kota yang berada di sebelah barat kawasan Pasar Johar dan di depan Masjid Agung Kauman. Alun-alun ini pada tahun 1980-an dihilangkan pada era Walikota Iman Soeparto dan menjadi area bisnis dan perdagangan. Protes sejumlah sejarawan dan budayawan seperti Amen Budiman dan Sussatyo Darnawi ketika itu justru terabaikan.

Menurut Gunoto, alun-alun Kota Semarang, sebagaimana alun-alun di kota lain di Jawa, memiliki sejarah perkembangan panjang, baik perkembangan bentuk fisiknya maupun aktivitas yang dilakukan oleh masyarakatnya. Namun, perkembangan kota yang didominasi dengan aktivitas perdagangan membuat kebutuhan akan ruang guna aktivitas perdagangan semakin meningkat. Akibatnya, alun-alun menjadi tergeser, dihilangkan, dan menjadi tempat untuk kegiatan bisnis yang baru. Tentu saja hal ini memprihatinkan.

“Karena itu kita mengapresiasi langkah Pemkot Semarang yang belum lama ini selesai melakukan revitalisasi alun-alun Kota Semarang. Ini berarti, ada kesadaran terhadap pelestarian peninggalan budaya dari kepala daerah dan jajarannya,” kata Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa ini seraya menambahkan, jika revitalisasi merupakan usaha untuk mengembalikan bentuk dan fungsi alun-alun seperti semula dengan segala aktivitasnya. Revitalisasi alun-alun ini dianggap penting sebagai upaya melindungi dan melestarikan kawasan tradisional beserta segenap peninggalan fisik dan sistem kegiatan yang ada di dalamnya.

Gunoto menuturkan, kawasan alun-alun merupakan kawasan bekas pusat pemerintahan tradisional. Pusat pemerintahan tradisional ini memiliki pola yang sama dan menjadi ciri khas kota-kota ibukota daerah tingkat II di Jawa. Ciri khasnya adalah adanya ruang terbuka di tengah kawasan yang disebut alun-alun sebagai pusat orientasi kota. Alun-alun dikelilingi oleh bangunan-bangunan penting, yaitu masjid sebagai tempat beribadah, keraton sebagai pusat pemerintahan kota, dan bangunan-bangunan penting lainnya, bahkan kadang ada penjara pula. Dua pohon beringin besar dan tua juga menjadi penanda yang khas.

“Dalam diskusi nanti, kita berharap bisa menghasilkan sejumlah rekomendasi, agar nilai-nilai lama tetap dianut terutama pada produksi ruang dari sisi kebudayaan untuk menjalankan acara-acara kesenian dan kebudayaan di alun-alun. Di Semarang, misalnya, ada tradisi dugderan menjelang Ramadan, mungkin bisa memanfaatkan alun-alun, sehingga ruang publik ini tetap memiliki orientasi kebudayaan,” katanya.

Apalagi, tambah dia, sesungguhnya alun-alun dengan tiga elemen yang mengitarinya merupakan tempat yang masuk ke dalam lokasi cagar budaya, sehingga harus tetap dijaga keberadaanya. Peran aktif pemerintah daerah harus dilakukan guna menjaga kelestarian dari alun-alun sebagai tempat yang memiliki nilai historis dan kekayaan akan kebudayaan.

“Bahkan pada masa lalu masyarakat selalu mendapatkan kesan magis dari alun-alun. Kesan kemagisannya berupa penanaman pohon beringin di tengah-tengah dan setiap sisi alun-alunnya,” tandasnya.st

 

You Might Also Like

Resmi Beroperasi, Tol Klaten-Prambanan Bisa Pangkas Waktu Tempuh Semarang-Yogya Dua Jam
Perkuat Kemandirian Ekonomi Umat, Baznas RI Luncurkan ZCoffee, BMM, dan 1.300 Zmart di Jawa Tengah
Rian D’Masiv Buat Laporan Polisi Terkait Tudingan Pelecehan Seksual Terhadap Dirinya
Ditaklukkan Borneo 0-2, Jafri Sastra Tetap Apresiasi Pemain
Ruas Jalan Ditutup Selama Festival Kota Lama 2019
TAGGED:Diskusi alun alun Kota SemarangGunoto SaparieRevitalisasi Alun-Alun Kota Semarang
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?