By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Setelah PPDB Jalan, Gantian Rolling Guru SMA Favorit
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Setelah PPDB Jalan, Gantian Rolling Guru SMA Favorit

Last updated: 16 Juli 2019 19:38 19:38
Jatengdaily.com
Published: 16 Juli 2019 16:54
Share
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Setelah PPDB Online SMA 2019 sistem zonasi berjalan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo akan segera meng-upgrade sistem informasi yang saat ini sedang disiapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Jumeri.

Kekuatan yang akan dihitung mulai dari kebutuhan sekolah yang akan diklasifikasikan, mulai dari infrastruktur gedung, laboratorium serta fasilitas belajar mengajar yang perlu ditambah.

“Dan guru ini penting, nanti kita buat rollingan guru. Saya memakai metode begini, saya tawarkan guru yang merasa sukses untuk ngacung, guru yang memiliki kesadaran, kesadarannya, dia merasa sukses di sekolah dan pengen masuk ke sekolah tujuan dan memiliki semangat agar sekolah itu maju di tangan saya, dan saya harus ke sana. Maka confident, guru itu kita berikan insentif dan kita mesti fair. Bukan alasan dibuang,” jelasnya.

Berkaitan kurikulum, Ganjar berharap harus lebih dalam lagi. Pihaknya pun akan mengecek beberapa sekolah agar tahu kondisi paska penerapan sistem zonasi dalam PPDB Online. Selain itu, sekolah dan dinas harus mulai membuat politik anggaran, karena akan segera masuk tahun angaran 2020.

“Soal adanya siswa nilai rendah dan tinggi, tergantung sekolahnya. Saya tidak tahu ilmunya. Tetapi bisa dicari bakatnya, guru caranya mem-branding siswa itu bagaimana, saya kasih otonomi, asal caranya baik,” harap Ganjar.

Guru Bahasa Jawa SMA Negeri 1 Andong Boyolali, Ikke Kusumawati mengaku siap dan mendukung kebijakan Ganjar jika dalam rangka pemerataan kualitas sekolah salah satunya melalui rolling guru. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan jarak antara rumah dan sekolah jika untuk jangka waktu yang lama.

“Untuk menghadapi siswa yang di satu kelas yang memiliki nilai UN rendah dan tinggi, bisa dilakukan berbagai cara. Karakter siswa harus kita ketahui dulu, kemudian kita petakan siswa yang memiliki pemahaman tentang materi pelajaran. Karena, setiap siswa pasti memiliki cara pemahaman berbeda,” ujarnya.

Sementara itu, sebagai sekolah yang sering disebut para orang tua sebagai sekolah “terkemuka” atau “favorit” yang menerima siswa dengan nilai rendah dan tinggi, salah satunya SMA Negeri 3 Semarang akan memberlakukan kebijakan baru.

Kepala SMA Negeri 3 Semarang Wiharto mengatakan, penempatan siswa dengan nilai rendah maupun nilai tinggi akan diratakan di tiap kelasnya. Guru mata pelajaran juga harus memberi matrikulasi untuk menyamakan persepsi kepada siswa.

“Nanti akan ada pantauan khusus oleh guru BK dan Wali Kelas. Laporan pantauan akan disampaikan ke wakil kepala sekolah bidang akademik dan kepala sekolah. Pantauan tata tertib siswa akan dilakukan oleh Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan (STP2K), BK dan kesiswaan,” katanya.

Pengamat pendidikan yang juga Rektor Universitas Ivet Semarang Prof Rustono mengatakan, zonasi penuh belum bisa diterapkan karena keberadaan sekolah yang belum merata, kalau sudah, mungkin sistem zonasi menjadi bagus.

Misalnya, ke depan, di 10 desa ada SMA, SMK dan MA, baru zonasi bisa berhasil. Dengan perubahan kebijakan, Jateng ia akui lebih bagus ketimbang DKI dan Jatim dalam pelaksanaannya.

Soal adanya siswa nilai UN yang rendah tetapi diterima di sekolah terkemuka, dari segi peraturan menurutnya harus diterima. Karena, konsekuensi sekolah, harus “ngopeni” anak yang lemah.

“Saya usul, sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) disesuaikan. Siswa nilai rendah dan tinggi jangan dibersamakan, karena akan tersisih. Guru harus bisa melayani siswa yang lemah dengan perlakuan khusus, atau individual, kalau medium masih bisa diangkat. Siswa yang kuat, harus ada tambahan pengayaan. Kalau dicampur, kasihan mereka,” paparnya. st

You Might Also Like

Mahasiswa UNNES Ajukan Kajian Strategis Soal Minimnya Penerangan Jalan di Kawasan Kampus Gunungpati
Gandeng Ganas Annar MUI Jateng, Kesbangpol Ajak Santri Pahami Bahaya Narkoba
Bawaslu Bakal Sosialisasikan Aturan Netralitas Kepala Desa
Semen Gresik Raih Penghargaan Perusahaan Terbaik dalam Peningkatan SDM Wartawan Se-Jawa Tengah
Teliti Bayi Prematur, Dosen Keperawatan Unissula Raih Doktor
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?