BANYUMAS (Jatengdaily.com) – Pemerintah Kabupaten Banyumas mendukung dan mengapresiasi kegiatan Glamping Sastra Indonesia 2022 di Baturaden Adventure Forest, Purwokerto, Sabtu-Minggu, 2-3 Juli 2022. Kegiatan yang diadakan Komunitas Glamping Sastra Indonesia dan Dewan Kesenian Jawa Tengah itu secara tidak langsung ikut mempromosikan Baturaden sebagai salah satu lokasi wisata unggulan di Kabupaten Banyumas.
Hal itu dikatakan oleh dikatakan Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata setempat Aziz Kusumandani pada Pembukaan Glamping Sastra Indonesia 2022, di Baturaden, Sabtu siang, 2 Juli 2022. Hadir antara lain sastrawan Ahmad Tohari, mantan Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, beberapa pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah, serta puluhan sastrawan Indonesia dari berbagai daerah.
Menurut Sadewo, ia merasa bangga ketika Baturaden dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Glamping Sastra Indonesia. Apalagi ternyata pada kesempatan ini diluncurkan buku antologi sastra “Alam Sejati” yang memuat karya puluhan sastrawan dengan tema tentang alam, khususnya mengenai Baturaden. “Apalagi pula bersamaan dengan itu ada peluncuran buku ‘Spiritualitas Kata Ahmad Tohari’ yang memuat proses kreatif dan testimoni sejumlah sahabat sastrawan asli Banyumas itu,” ujarnya.
Ketua Komunitas Glamping Sastra Indonesia Nia Samsihono mengatakan, kegiatan ini akan ditradisikan setiap tahun sekali di Baturaden. Tahun lalu bernama Kemah Sastra Indonesia. Nia menyatakan terima kasih atas dukungan Pemkab Banyumas, baik tahun ini maupun tahun lalu, meskipun tidak harus berupa dana.
“Kami juga berterima kasih kepada para sastrawan berpartisipasi dan berkontribusi pada kegiatan ini. Kegiatan ini dapat terselenggara atas kerja sama yang baik antara panitia, narasumber, dan peserta,” tambah sekretaris panitia Dyah Tinggeng.
Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie berharap, agar glamping sastra ini selain menjadi ajang silaturahmi, tukar informasi, memperluas jejaring, juga dapat meningkatkan wawasan dan orientasi para peserta.
Hadi Supeno yang menjadi editor buku “Spirtualitas Kata Ahmad Tohari” menyatakan kegembiraannya bisa ikut mendompleng meluncurkan buku suntingannya tersebut dalam kegiatan glamping sastra. Ia merasa mendapatkan inspirasi dan semangat baru bertemu dengan para sastrawan baik yang telah dikenal secara langsung maupun yang sebelumnya hanya dikenal karya dan namanya.
Selain diskusi tentang sastra dan kesehatan dengan narasumber Handrawan Nadesul (Jakarta) dan Erina Yatmasari (Surabaya), juga sosialisasi tentang tugas pokok dan fungsi Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah oleh pimpinan lembaga tersebut, Ganjar Harimansyah (Semarang).
Handrawan menyatakan prihatin ketika banyak sastrawan dan wartawan rentan terhadap berbagai penyakit. Hal ini karena mereka mengabaikan pola makan, pola tidur, dan olahraga. Sedangkan Erina berusaha menggunakan karya sastra sebagai sarana penyampaian ilmu kedokteran.
Diskusi terkesan santai, informal, dan diwarnai canda, namun tidak mengurangi keseriusan. Kegiatan glamping sastra juga diwarnai permainan dan susur sungai yang dingin dan jernih. Tentu saja juga diwarnai musik dan pembacaan puisi. Bahkan Sitti Syamsiah, istri Ahmad Tohari, berkenan melantunkan lagu ciptaannya.
Ahmad Tohari sebelumnya mengingatkan, agar para sastrawan Indonesia tidak mengabaikan penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah dan ejaan yang berlaku. Sastrawan yang mengesampingkan hal ini keindonesiaannya patut dipertanyakan. “Kita jangan pula kemaruk dengan kata-kata serapan dari bahasa asing,” tandasnya.st
0



