By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Petani Heran Harga Daun Tembakau Tak Naik
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Petani Heran Harga Daun Tembakau Tak Naik

Last updated: 16 September 2019 16:43 16:43
Jatengdaily.com
Published: 16 September 2019 16:43
Share
Daun tembakau jenis kenanga yang ditanam petani di lereng Merapi kawasan Selo, Kabupaten Boyolali sedang dipanen. Foto: yds
SHARE

BOYOLALI (Jatengdaily.com) – Petani tembakau di daerah Selo Kabupaten Boyolali, mengaku heran harga jual daun tembakau tahun ini tak naik, meskipun kualitas tanaman tembakau yang dipanennya lebih bagus dari tahun lalu.

Sejumlah petani di daerah Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali mengakui harga rata-rata daun tembakau dari petani ke pengepul Rp 7.500 per kilogram. Sedangkan tahun lalu, bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram.

Petani juga tidak tahu kenapa dengan daun tembakau yang lebih bagus kualitasnya, harga tak lebih bagus dari tahun lalu. Bahkan malah cenderung turun.

“Tahun ini harga daun tembakau sekitar Rp 7.500 per kilogram dalam kondisi basah. Tahun lalu bisa mencapai Rp 10 ribu perkilogramnya. Saya tidak tahu kok harganya tak naik meskipun daun tembakau tak kena air hujan,” kata Sutar (56) seorang petani di Selo.

Meskipun demikian, Sutar mengaku tetap bersyukur dan lega karena tanaman tembakaunya bisa dipanen. Karena di awal tanam juga sempat kesulitan pupuk.

Dikatakan Sutar, dirinya memilih menjual daun tembakau dalam kondisi basah karena lebih sedikit biaya operasionalnya. “Kalau dijual kering, kan harus pakai biaya pengeringan dan perajangan,” kata Sutar.

Diakui Sutar, sebenarnya kalau dijual dalam bentuk rajangan kering harganya jauh lebih tinggi. Tahun ini untuk tembakau kering grade E bisa mencapai Rp 110.000 per kilogramnya. “Tapi modalnya kan juga besar,” tambah dia. yds

You Might Also Like

Zaskia Gotik Resmi Dinikahi Sirajuddin Mahmud
Perda Berkualitas Diawali Naskah Akademi Tanpa ‘Kopas’
Dosen Totalwin Yuyun Ristianawati Raih Doktor dari PDIM Unissula
Olah TKP Kasus Video Syur Gisel Masih Tunggu Keputusan Kejaksaan
Basarnas Siaga SAR Khusus Lebaran
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?