SEMARANG (Jatengdaily.com) – Pemerintah Kelurahan Kalicari bersama mahasiswa Universitas Semarang (USM) yang tengah menjalani program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Internal mengadakan sosialisasi bertema ”Dampak Media Sosial dan Kenakalan Remaja & Reorganisasi” di Balai Desa Kalicari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang pada Jumat (13/6).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi digital di kalangan remaja serta memperkuat struktur kelembagaan desa melalui proses reorganisasi.
Lurah Kalicari, Li Setia Budi, S.IP., M.M menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat dalam menghadirkan edukasi berbasis lokal.
”Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang tanggap terhadap perubahan sosial,” katanya.
Dalam paparannya, Adellya Marsyanda, menyampaikan materi tentang dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental dan relasi sosial, khususnya di kalangan remaja. Dia mengingatkan pentingnya kesadaran dalam penggunaan media digital di era serba cepat.
Adapun narasumber kedua, Erlangga Bayu Febrian yang merupakan Duta Genre 2022 Kota Pekalongan, menyampaikan materi mengenai persoalan kenakalan remaja dan strategi pencegahannya.
Erlangga mendorong peran aktif keluarga dan komunitas dalam mengarahkan remaja pada kegiatan positif.
Kegiatan ini melibatkan 10 mahasiswa Universitas Semarang yang sedang mengikuti MBKM Internal di Kelurahan Kalicari. Para mahasiswa berperan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi jalannya kegiatan bersama perangkat desa.
Ketua MBKM Internal Kelurahan Kalicari, Panji Utomo berharap, kehadiran mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya pemuda.
”Saya berharap, mahasiswa yang menjalani program MBKM internal di Kelurahan Kalicari dapat memberikan dampak positif bagi warga, terutama remaja Karang Taruna Kalicari agar dapat memahami dampak negatif dari media sosial,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu pihak kelurahan memfasilitasi diskusi mengenai reorganisasi karang taruna yang difokuskan pada pembentukan panitia baru dan penguatan koordinasi internal.
Kegiatan diikuti 70 peserta, terdiri atas warga, tokoh masyarakat, perangkat desa, Karang Taruna, dan mahasiswa. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa edukasi sosial berbasis kolaborasi lintas sektor menjadi kebutuhan nyata di tengah tantangan era digital. St


