MoU Perdana Menteri Wihaji di Kampus, Unwahas dan BKKBN Jalin Sinergi untuk Bangun Keluarga Indonesia

3 Min Read
Rektor Unwahas Prof Helmy Purwanto menandatangani MoU bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Dr Wihaji. Foto: Wied

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ada suasana istimewa di Kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Semarang, Selasa (22/7/2025).

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Dr Wihaji, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama Rektor Unwahas, Prof Dr Helmy Purwanto.

Bagi Menteri Wihaji, ini bukan sekadar seremoni biasa—penandatanganan MoU ini menjadi yang pertama dilakukannya di lingkungan kampus, bukan di kantor kementerian.

“Biasanya penandatanganan seperti ini dilakukan di Kementerian. Ini merupakan kehormatan bagi kami. Terima kasih kepada Unwahas,” ujar Wihaji dengan nada hangat, di hadapan para mahasiswa dan civitas akademika.

Usai penandatanganan MoU antara Menteri dan Rektor, agenda dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama antara Perwakilan BKKBN Jawa Tengah dan Universitas Wahid Hasyim. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Kepala Perwakilan BKKBN Jateng, Eka Sulistia Ediningsih dan Kepala LPPM Unwahas, Dr Agus Riyanto.

Dalam sambutannya, Wihaji banyak berbicara dari hati ke hati soal kondisi kependudukan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa tingkat kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR) Indonesia saat ini berada di angka ideal—sekitar 2,0 hingga 2,1. Bahkan, di DKI Jakarta TFR sudah turun ke angka 1,5.

“Artinya, rata-rata keluarga di Indonesia punya dua anak. Ini menjanjikan keberlanjutan generasi. Kita bandingkan dengan Jepang, yang TFR-nya sudah 0,5. Di sana tingkat kelahiran justru minus, dan itu jadi persoalan besar,” ungkap Wihaji.

Namun, tantangan lain pun muncul. Saat ini, kata Wihaji, kondisi demografis Indonesia menunjukkan bahwa satu orang produktif harus ‘menggendong’ 20 orang lainnya. Meski Indonesia tengah berada di puncak bonus demografi dengan 70,2 persen penduduk dalam usia produktif dari total 286 juta jiwa, banyak dari mereka yang belum benar-benar ‘berproduksi’.

“Usia produktif di Indonesia itu 14 sampai 65 tahun. Kita ambil angka 14 tahun karena pendidikan dasar di Indonesia sembilan tahun. Tapi meskipun usianya produktif, tidak semuanya bekerja atau menghasilkan,” katanya.

Wihaji juga menegaskan bahwa peran BKKBN hari ini sudah jauh melampaui urusan kontrasepsi atau sekadar program Keluarga Berencana (KB). “Saya menganggap KB sudah selesai, meskipun di beberapa daerah masih ada tantangan. Sekarang BKKBN juga menyiapkan alat kontrasepsi, kecuali kondom yang seluruhnya masih impor,” jelas mantan Bupati Batang ini.

Lebih dari itu, ia menggarisbawahi pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun bangsa. Menurutnya, berbagai masalah sosial seperti korupsi, penyalahgunaan teknologi, hingga perilaku seksual menyimpang, semuanya berakar dari kondisi keluarga.

“Kita harus mulai membangun dari keluarga. Karena sehebat-hebatnya jabatan, sekaya-kayanya seseorang, ketika meninggal dunia, yang mengurus tetap keluarga,” tutur Wihaji dengan penuh makna.

Penandatanganan kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi strategis antara Unwahas dan BKKBN dalam mewujudkan keluarga Indonesia yang tangguh, sehat, dan berdaya di tengah tantangan zaman. St

Share This Article