Hangatnya Tirakatan Warga RT 02/RW 04 Ngaliyan, Ingat Pesan Pak RW: Bantuan Operasional Rp25 Juta Jangan untuk Nikah Lagi

3 Min Read
Para warga RT 02 RW 04 Ngaliyan berfoto bersama dengan Ketua RW IV Gunoto Saparie seusai mengadakan malam tirakatan tujuhbelasan di Balai RT setempat.Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Balai RT 02 RW 04 Kelurahan Ngaliyan tampak berbeda pada Minggu malam (17/8/2025). Lampu-lampu hias berkelip sederhana, duduk lesehan, dan aroma jajanan tradisional tercium dari pojok ruangan.

Suasana penuh keakraban itu menyambut warga yang datang berombongan, mulai dari anak kecil yang masih asyik bermain bendera kertas hingga para sesepuh yang berjalan pelan sambil menyapa satu sama lain.

Malam itu, warga berkumpul dalam acara tirakatan memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Meski sederhana, nuansa kebersamaan begitu kental.

“Tirakatan ini memang spesial. Kalau RT lain memilih Sabtu malam, kami ingin tepat di tanggal 17 Agustus, supaya maknanya lebih terasa,” ujar Ketua RT 02, Suyono, disambut tepuk tangan hangat.

Di hadapan warganya, Suyono tak hanya berbicara soal perayaan, tapi juga tentang masa depan lingkungan. Ia memaparkan rencana perbaikan fasilitas umum, kegiatan kebersihan, hingga program sosial yang akan dibiayai dana operasional RT sebesar Rp25 juta dari Pemkot Semarang.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Bu Wali Kota. Bantuan ini sungguh berarti, bukan hanya untuk pembangunan fisik, tapi juga memperkuat ikatan sosial warga,” katanya.

Suasana menjadi cair ketika Ketua RW 04, Gunoto Saparie, naik ke podium. Dengan gaya lugas, ia mengingatkan warga agar penggunaan dana operasional harus sesuai aturan. Namun tak lama kemudian, ia melontarkan guyonan segar.

“Jangan sampai dana itu dipakai untuk kepentingan pribadi Ketua RT, misalnya untuk menikah lagi,” ucapnya. Seketika, balai RT riuh dengan tawa – termasuk Suyono yang hanya bisa tersenyum lebar.

Di balik canda, Gunoto menyelipkan pesan serius: perjuangan mengisi kemerdekaan belum selesai.

“Cita-cita proklamasi adalah masyarakat adil dan makmur. Itu masih jauh. Karena itu, kita semua harus terus berjuang sesuai peran masing-masing,” pesannya yang membuat warga terdiam sejenak, lalu mengangguk penuh kesadaran.

Acara malam itu ditutup dengan penyerahan hadiah lomba Agustusan. Anak-anak yang tadi riang berlarian kini berbaris rapi, menanti giliran menerima hadiah. Sorak gembira pecah ketika mereka membawa pulang piala dan bingkisan kecil.

Di ujung acara, suasana berubah khidmat. Ustaz Mustakim memimpin doa bersama. Warga menundukkan kepala, sebagian meneteskan air mata, bersyukur atas 80 tahun kemerdekaan sekaligus berdoa agar generasi mendatang bisa menikmati Indonesia yang lebih sejahtera.

Di balik kesederhanaan malam tirakatan itu, tersimpan makna besar: semangat gotong royong, canda yang menyatukan, dan doa yang meneguhkan. Sebuah pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya milik para pahlawan di masa lalu, tetapi juga tanggung jawab setiap warga, bahkan di sudut-sudut kampung seperti RT 02 RW 04. St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.