Dari Radjawali Semarang, Pesan Kepemimpinan Bergema: Bangun Kepercayaan, Jaga Solidaritas

7 Min Read
Walikota Semarang Agustina Wiujeng menekankan pentingnya membaca bagi pemimpin karena banyak hal bisa dipakai untuk memimpin masyarakat.Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily,com) – Jumat sore (3/10/2025), udara Semarang yang agak panas seolah memberi nuansa tersendiri bagi ratusan peserta yang mulai memadati Radjawali Semarang Culture Center.

Di gedung pertunjukan yang akustiknya dikenal mumpuni itu, ratusan kursi telah disiapkan. Panggung utama dipenuhi ornamen sederhana: latar dengan tulisan “Seminar Kepemimpinan dan Literasi 2025” dan lambang Bank Indonesia, sang penyelenggara.

Di ruangan itu, tidak hanya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi hadir, tetapi juga akademisi, Bunda Literasi Kecamatan, serta mitra kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah (KPwBI Jateng). Jumlahnya mencapai sekitar 250 orang.

Tampak hadir antara lain Deputi Kepala KPwBI Jateng Andi Reina Sari, Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie bersama Sekretaris Umum Mohammad Agung Ridlo, Sekretaris Satupena Kota Semarang Adnan Ghiffari, dan penulis Asisi Suhariyanto yang juga menjadi narasumber di sesi berikutnya.

Kegiatan ini bukan sekadar seminar formal yang sarat teori. Dari awal, moderator telah menekankan bahwa forum ini adalah ruang edukasi kepemimpinan yang menghadirkan pengalaman praktis dan nilai-nilai hidup.
Tema ini terasa relevan.

Di tengah cepatnya perubahan sosial, ekonomi, dan politik, generasi muda ditantang untuk tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan.

Literasi, dalam pengertian yang lebih luas, tidak hanya tentang membaca buku, melainkan juga literasi sosial, literasi digital, literasi keuangan, bahkan literasi moral.

Salah satu sosok yang paling ditunggu adalah Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Mengenakan busana bernuansa biru dengan motif batik modern, ia memasuki ruangan dengan senyum ramah, disambut tepuk tangan peserta.

Kehadirannya tidak sekadar sebagai pejabat, tetapi juga sebagai narasumber yang akan membagikan pengalaman kepemimpinan nyata di lapangan.
Ketika tiba gilirannya berbicara, suasana berubah khidmat.

Agustina membuka paparannya dengan menekankan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang sekadar memegang kekuasaan, melainkan yang mampu menggerakkan kepercayaan dan solidaritas masyarakat.

“Seorang pemimpin yang fokus pada tujuannya serta terampil dalam mengelola konflik, maka setengah tugas-tugasnya sebagai pemimpin dapat terselesaikan,” ucapnya dengan nada tegas seraya menambahkan, perlunya pemimpin banyak membaca agar lebih mengerti kebutuhan masyarakat yang dipimpinnya.

Menurut Agustina, ada empat hal pokok yang harus dimiliki pemimpin masa depan, yaitu visi yang jelas agar arah kepemimpinan tidak kabur. Integritas, yang menjadi fondasi setiap keputusan.

Keadilan, sebagai sikap yang harus dijunjung tinggi. Kemampuan mengelola konflik dengan bijak, tanpa harus memecah belah.

Namun, Agustina tidak berhenti di situ. Ia menekankan bahwa pemimpin juga harus memiliki kekuatan moral. Moralitas, baginya, bukan sekadar nilai abstrak, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang mampu membangun masyarakat dari bawah.

Ia mencontohkan program dana operasional Rp25 juta per RT di Kota Semarang. Menurutnya, kebijakan itu bukan sekadar bantuan finansial, melainkan strategi memperkuat solidaritas warga dan tata kelola lingkungan berbasis partisipasi.

“Saya ingin membangun mindset perlunya rembug warga, sehingga dengan kebijakan tersebut mampu memupus kerenggangan di masyarakat,” jelasnya.

Poin lain yang ia angkat adalah pentingnya kepercayaan (trust). Tanpa itu, pemimpin tidak akan mampu menggerakkan masyarakat.

“Kita bersyukur sebab dengan dinamika sosial Indonesia beberapa waktu lalu, Kota Semarang cenderung aman. Mengapa demikian? Karena masyarakat mau bergotong royong dan aware untuk melindungi. Bukan karena saya hebat, melainkan karena ada kepercayaan yang bangkit antara pemerintah dan masyarakat,” tegasnya.

Bagi Agustina, trust tidak bisa dibangun lewat retorika semata. Ia harus lahir dari keberanian pemimpin untuk mendengar suara masyarakat, melindungi mereka, serta menunjukkan konsistensi dalam tindakan.

Suasana seminar menjadi semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Muhammad Eka, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), dengan lantang mengajukan pertanyaan.

“Bagaimana idealnya agar bisa memenuhi keinginan banyak pihak tanpa mengorbankan tujuan awal, Bu?” tanyanya, membuat ruangan hening menunggu jawaban.

Agustina tersenyum. Pertanyaan itu, menurutnya, menggambarkan dilema yang hampir selalu dihadapi pemimpin. Ia kemudian mengutip Bung Karno: “Teguh dalam berprinsip dan luwes dalam bergaul.”

“Selama keinginan anggota tidak bertentangan dengan visi misi yang kita lakukan, maka lanjutkan. Namun, jika bertentangan dan berpotensi tujuan kita tidak tercapai, perlu duduk bareng lagi,” jawabnya.

Tepuk tangan pun riuh terdengar, menandai apresiasi peserta.
Selain Agustina, beberapa tokoh lain juga sempat memberi pandangan tentang kepemimpinan yang inklusif dan berbasis literasi. Namun, energi ruangan terasa lebih menyala ketika para mahasiswa menanggapi.

Beberapa peserta menyampaikan bahwa seminar ini memberi perspektif baru. Kepemimpinan ternyata bukan hanya urusan politik atau jabatan formal, melainkan bagaimana seseorang bisa menjadi teladan di lingkungannya, baik di organisasi mahasiswa, komunitas sosial, maupun bahkan dalam lingkup keluarga.

Salah satu peserta, Dian, mahasiswi dari Universitas Diponegoro, mengungkapkan kesannya:

“Saya jadi lebih paham bahwa literasi kepemimpinan tidak sekadar teori. Dari Bu Wali, saya belajar bahwa keberanian untuk mendengarkan warga dan membangun kepercayaan itu jauh lebih penting.”

Jika ditarik lebih luas, seminar ini mencerminkan tantangan besar yang sedang dihadapi generasi muda Indonesia. Di satu sisi, mereka hidup di era digital dengan akses informasi yang luas. Namun, di sisi lain, mereka juga menghadapi problem krisis kepercayaan, polarisasi politik, dan ancaman konflik sosial.

Dalam konteks itulah, pendidikan kepemimpinan berbasis literasi menjadi relevan. Literasi di sini berarti kemampuan memahami persoalan secara kritis, memilah informasi dengan bijak, sekaligus membangun narasi positif yang menumbuhkan kohesi sosial.

Agustina berulang kali menekankan bahwa narasi besar bangsa selalu berangkat dari tingkat paling bawah. Maka, kepemimpinan masa depan harus mampu membaca dinamika akar rumput, bukan hanya memikirkan strategi di tataran elit.

Menjelang senja, seminar pun ditutup dengan pesan optimistis. Para peserta berdiri untuk berfoto bersama, sebagian masih tampak bersemangat untuk berbincang dengan panitia maupun narasumber.

Dari Radjawali Semarang Culture Center sore itu, tergambar sebuah pesan kuat: kepemimpinan bukanlah milik segelintir orang. Ia harus dipelajari, dilatih, dan dijalankan sejak dini.

Seminar Kepemimpinan dan Literasi 2025 memberi gambaran nyata bagaimana generasi muda, melalui dialog dan literasi, bisa ditempa menjadi pemimpin yang berintegritas, berprinsip, dan berani membangun kepercayaan.

Bagi Agustina Wilujeng Pramestuti, kepemimpinan bukan sekadar soal visi, melainkan juga keberanian moral untuk membangun masyarakat.

Dan bagi ratusan peserta yang hadir, pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk menapaki jalan panjang menuju masa depan kepemimpinan Indonesia. St

 

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.