Gerakan Menulis SMP IT PAPB lewat Karya Buku

Siswa dan kepala sekolah Ramelan, menunjukkan buku Yang Melangit dari Kata, yang berisi kata-kata mutiara dari siswa, guru dan karyawan. Foto: she

SEMARANG (Jatengdaily.com)–Semangat untuk terus mengembangkan gerakan literasi di kalangan siswa dan guru, dilakukan oleh SMP Islam Terpadu PAPB Semarang. Tak hanya memberikan pentingnya budaya membaca saja, sekolah juga mengajak siswa terlibat dalam penulisan buku.

Di pertengahan tahun 2019 ini, sekolah menerbitkan buku berjudul “Yang Melangit dari Kata: Kumpulan Kata Mutiara SMP IT PAPB Semarang.” Buku setebal 54 halaman tersebut, merupakan hasil keterlibatan sejumlah siswa-siswi, guru dan karyawan SMP IT PAPB Semarang, yang di soft launching saat pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), tekah dilakukan, Senin (15/7/2019).

Kepala Sekolah SMP IT PAPB, H. Ramelan mengatakan awal pembuatan buku tersebut dimulai di saat kegiatan pesantren Ramadan di bulan Mei lalu. Menurutnya momentum tersebut untuk mengumpulkan kata-kata indah yang ditulis para siswa, guru, dan karyawan sekolah.

“Siswa, guru, karyawan yang terlibat di pembuatan buku ini sebanyak 255. Tentunya yang paling banyak adalah siswa siswi kami. Saya juga menulis di sini,” ujarnya, Selasa (16/7/2019).

Ramelan menambahkan, sebelumnya sekolah juga sudah pernah menciptakan sebuah buku berjudul: “Antologi Cerpen: Berdamai dengan Cerita.” Terdapat 15 cerita dari siswa yang menarik untuk kemudian dijadikan buku.

“Ceritanya bagus-bagus. Ada yang judulnya: ‘Ku Rubah Lisan’‘Jasmine’‘Orang Tua yang Terlupakan’‘Kasih Sayang Seorang Ibu’‘Permusuhan jadi Pertemanan’. Jadi kalau anak itu diberikan kebebasan menulis itu, hasilnya luar biasa,” tambahnya.

Sementara itu, Usman Roin, Guru Ekskul Jurnalistik dan Humas Eksternal (Bid. Media) SMP IT PAPB Semarang menambahkan, dalam proses editing buku “Yang Melangit dari Kata: Kumpulan Kata Mutiara SMP IT PAPB Semarang” tersebut, pihaknya melibatkan para siswa yang tergabung dalam OSIS sebagai penyunting. Di sana proses editing tidak melakukan perubahan kata.

“Tapi hanya mengetik kembali dari tulisan tangan ke komputer. Jadi kita nggak mengubah kata yang ditulis anak-anak. Semua pure natural apa adanya,” tambahnya.

Rencananya, buku tersebut akan dijual bagi kalangan intern sekolah. Tak menutup kemungkinan pula, buku bisa dijual untuk kalangan luar sekolah. “Kita jual dengan harga Rp 20.000. Selanjutnya hasil penjualan itu akan kita gunakan untuk merealisasikan penerbitan buku selanjutnya. Begitu seterusnya,” katanya. she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here