Berkurbanlah dengan Hewan yang Terbaik

0
189


Oleh Prof Dr H Ahmad Rofiq
Wakil Ketua MUI Jateng

Hari Raya Idul Adha 1441 H tinggal satu minggu lagi. Bagi hamba-hamba yang dermawan, Idul Adha merupakan momentum yang ditunggu-tunggu,karena membahagiakan hati, fikiran, dan perasaan. Kebahagiaan itu lahir, karena mereka menyadari bahwa rezeki yang berlimpah, adalah bagian dari taqdir dan iradah Allah, karena ada saja yang boleh jadi hidup dalam serba pas-pasan atau bahkan kekurangan.

“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Hakim bin Hizam). Qurban (udlhiyah) menurut ‘Abdurrahman al-Juzairi (Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, juz 1, h. 715-716) disyariatkan pada tahun ke-2 H, seperti dua hari raya, zakat mal dan fitrah. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan: “(1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.(2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar (108): 1-2).

Pada ayat tersebut, redaksi yang digunakan adalah kata kerja perintah (fi’il amar). Artinya, karena Allah sudah melimpahkan karunia kenikmatan yang banyak, maka Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya shalat dan berkurban. Seakan-akan Allah mengaitkan antara karunia nikmat dengan perintah shalat dan kurban.

Dalam kaidah pemahaman Ushul Fiqh ditegaskan “al-Ashlu fi al-amri li l-wujub” artinya “pada dasarnya perintah menunjukkan wajib”. Karena dalam praktiknya, perintah shalat yang boleh dikatakan tanpa biaya saja, banyak yang malas dan meninggalkannya, apalagi ini mengeluarkan sebagian harta, yang boleh jadi bagi orang yang didera “penyakit” bakhil atau kikir, berkurban akan terasa berat. Karena mereka ini, tidak atau kurang memahami filosofi dan makna keberkahan dari Allah.

Para Ulama tidak ada yang mengatakan bahwa berkurban adalah wajib, paling tinggi adalah sunnah muakkad, atau madzhab Syafi’i menyebutnya dengan “sunnatu ‘ainin li l-munfaridi laa li ahli l-baiti waahidí” artinya “sunnah (anjuran) personal pada setiap individu, bukan kepada satu rumah satu” (Ibid.,hlm. 716).

Namun Rasulullah saw dalam menganjurkan umat beliau, menggunakan bahasa yang sarkastik: “Man wajada sa’atan wa lam yudlakhkhi fa laa yaqrubanna mushallaanaa” artinya “barangsiapa menemukan kelonggaran dan tidak berkurban maka sungguh janganlah mendekati tempat shalat kami” (Dishahihkan Hakim).

Tentu ini harus difahami secara cerdas, bahwa Allah memerintahkan shalat dan berkurban adalah bentuk dan ungkapan bersyukur terhadap rezeki yang Allah limpahkan. Sementara orang yang berkelonggaran rezeki namun tidak berkurban, seakan-akan shalatnya tidak berarti atau tidak “ngefek” meminjam Bahasa anak-anak muda.

Riwayatdari Anas bahwa “Rasulullah saw menyembelih dua ekor domba yang warna putihnya lebih banyak daripada warna hitam, aku melihat beliau meletakkan kaki beloau di atas rusuk domba tersebut sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri” (HR. Bukhari, no. 5132). Berkurban adalah wujud dan manifestasi iman dan taqwa kita kepada Allah.

“Daging-daging unta (hewan lainnya) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj (22): 27).

Ini menunjukkan bahwa berkurban, dianjurkan disembelih sendiri, itu yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, juga memilih hewan atau domba yang terbaik. Al-Juzairy menjelaskan, kata amlah artinya putih mulus, ada yang menyebut warna putihnya lebih dominan dan bertanduk dua. Intinya adalah yang terbaik.

Mengapa, karena persembahan hewan kurban adalah manifestasi iman dan taqwa, serta ungkapan rasa syukur kepada Allah, atas berbagai karunia nikmat dan keberkahan-Nya.Berkah adalah bertambah-tambahnya kebaikan.

Selamat merayakan Idul Adha 1441 H dan selamat berbahagia dengan mempersembahkan sembelihan hewan kurban, semoga hidup kita terasa Bahagia di dunia dan dilimpahi keberkahan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Allah a’lam bi sh-shawab. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here