Data dalam Genggaman, Dunia dalam Jangkauan

Oleh: Sendi Irawan, SST

Fungsional Statistisi Pertama pada Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sragen

sirawan@bps.go.id , sendi.irawan29@gmail.com

Instagram : @sendi.irawan29

SALAH satu acuan pembangunan adalah data, membangun tanpa data ibarat malam tanpa cahaya. Kenapa penulis mengibaratkan seperti itu, karena data itu seperti cahaya dalam gelap, semula tanpa cahaya kita tidak tahu akan melangkah kemana akan tetapi dengan cahaya kita dapat melangkah dengan pasti. Begitulah sekilas analogi data dalam proses pembangunan dengan cahaya dalam gelapnya malam.

Proses pembangunan tentu tidak terlepas dari para pemangku kepentingan atau para pengambil kebijakan, sehingga ketika sebuah data dirilis maka yang mencari “keberadaan” data tersebut adalah mereka-mereka pemangku kepentingan. Sebut saja data kemiskinan, data pengangguran, data inflasi, data PDRB, data kunjungan wisatawan, data harga, data IPM dan beberapa data lain selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para pengambil kebijakan.

Di era keterbukaan seperti ini data seharusnya lebih mudah diakses, karena pengguna data tidak hanya terbatas di kalangan pemerintahan, tetapi juga dari pihak swasta, perusahaan, profesional, mahasiswa dan pelajar, bahkan hampir seluruh lapisan masyarakat sudah mulai memanfaatkan data, bahkan mengkritisi data yang ada.

Perbedaan data itu biasa dan perbedaan penafsiran data itu juga lumrah, namun yang tidak biasa adalah menjadikan perbedaan data itu sebagai perdebatan yang kolot. Tentu pengguna data mempertanyakan kenapa data dari beberapa dinas itu bisa berbeda, padahal data yang dimaksud adalah satu data yang sama. Hal ini yang perlu diluruskan kepada para pengguna data, bahwa data itu bisa berbeda dikarenakan perbedaan konsep dan definisi tentang data tersebut.

Data yang berbeda bukannya tidak bermakna, tapi semuanya memiliki kegunaan masing-masing tergantung peruntukannya. Sebagai contoh, untuk program bantuan pangan untuk penduduk miskin akan lebih tepat apabila menggunakan data yang memakai konsep penduduk secara de facto, sedangkan untuk pengurusan sekolah atau pilkada akan lebih tepat menggunakan konsep penduduk secara de jure.

Terlepas dari itu semua yang terpenting adalah bagaimana kebenaran akan suatu data itu sendiri. Data yang baik adalah data yang dapat memberikan potret utuh kondisi lapangan yang sebenarnya, bukan yang sewajarnya. Benar belum tentu wajar dan wajar belum tentu benar.

Lalu apakah sekarang ini sudah ada kemudahan dalam mengakses data dan ada kesamaan konsep dan definisi dalam memaknai data? Jawabannya dapat dipastikan “Belum”. Namun secara perlahan melalui sebuah ide, kreatiftas, dan perkembangan teknologi, BPS Kabupaten Sragen yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari suatu lembaga besar bernama Badan Pusat Statistik, telah mencoba membuat sebuah aplikasi android yang dapat memudahkan siapa saja yang akan mencari data dan menggunakan data tanpa harus bersusah payah mendatangi kantor ataupun mengakses website.
Aplikasi tersebut dinamakan Sragen Smart Statistics, aplikasi tersebut dapat diunduh melalui halaman Play Store yang tersedia pada smartphone android. Aplikasi ini dirilis pada tanggal 27 September 2018 dan mengalami pembaruan pada tanggal 5 Desember 2018.

Sragen Smart Statistics ini memuat informasi-informasi tentang data dan indikator statistik Kabupaten Sragen, antara lain jumlah penduduk, kemiskinan, pengangguran, inflasi, IPM dan pertumbuhan ekonomi. Data dan informasi tersebut ditampilkan dalam bentuk angka dan grafik, sehingga akan lebih memudahkan para pengguna data. Beberapa data juga disediakan series datanya untuk melihat keterbandingan data antar waktu. Selain menampilkan data dalam bentuk angka dan grafik, aplikasi tersebut juga memuat tabel statistik, daftar publikasi, artikel menarik dan tentunya konsep dan definisi terkait kegiatan statistik.

Aplikasi tersebut sederhana namun diharapkan dapat lebih memudahkan para pengguna data dalam mengakses data yang dibutuhkan, selain itu aplikasi tersebut juga sekaligus sebagai media BPS Kabupaten Sragen untuk lebih mengenalkan data kepada masyarakat dan memperkenalkan konsep dan definisi statistik yang selama ini mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat sehingga muncul perbedaan dalam menafsirkan sebuah data. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo bahwa “Urusan data pegangannya hanya satu sekarang di BPS”.

Melihat apa yang ada dalam aplikasi tersebut tentunya masih banyak kekurangan, dan masih banyak hal yang sebenarnya bisa ditampilkan dalam aplikasi, salah satu contoh yang bisa diterapkan dalam aplikasi tersebut adalah proses perekrutan petugas mitra, akan lebih baik apabila dapat diinformasikan dalam aplikasi tersebut.

Beberapa hal lain yang mungkin bisa ditampilkan dalam aplikasi tersebut adalah database mitra statistik dan infografis hasil kegiatan statistik. Namun hal ini tentunya akan dikaji lagi oleh tim yang mengelola aplikasi tersebut, dimana tujuan pembaruan tentunya adalah demi kemudahan dan kenyamanan para pengguna data.

Selain aplikasi Sragen Smart Statistics, beberapa kali BPS Kabupaten Sragen juga menampilkan videotron, dan menyebarkan pamflet berisi data statistik, yang tujuannya adalah sama, agar masyarakat lebih mengenal data, memahami data, dan akhirnya masyarakat akan sadar dengan sendirinya akan pentingnya data dalam kehidupan. Data itu tidak hanya terbatas untuk kepentingan pemerintah, tetapi penting juga untuk masyarakat secara umum.

Sebagai contoh yang mudah adalah mendekati pilkada tahun ini, tentu masyarakat harus punya data terkait caleg dan capres yang akan mereka pilih, tanpa data mereka ibarat memilih kucing dalam karung. Contoh lain, masyarakat akan membangun rumah pasti akan mencari data-data tentang harga bahan bangunan, harga tukang dan data model rumah yang akan dibangun.

Membangun rumah, yang untuk satu keluarga saja membutuhkan data apalagi membangun sebuah negara besar seperti Indonesia pasti data itu sangat dibutuhkan. Itulah sedikit gambaran pentingnya data untuk masyarakat.

Semoga dengan mengenal data, memahami data dan mengerti arti pentingnya data, masyarakat, perusahaan, dinas-dinas terkait dapat lebih terbuka dalam memberikan data. Sehingga data yang dihasilkan oleh instansi penyedia data, dalam hal ini Badan Pusat Statistik, dapat sesuai dengan kondisi di lapangan dan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai acuan dalam mengambil kebijakan, agar program yang dihasilkan tepat sasaran.

Sragen Smart Statistics, Data Dalam Genggaman, Dunia Dalam Jangkauan. Jatengdaily.com–st

1 KOMENTAR

  1. Pak Sendy hebat ….👍
    di era yg sekarang ini memanglah sangat diperlukan pentingnya pengetahuan dimasyarakat tentang memahami data dan arti pentingnya data untuk kemajuan bangsa melalui berbagai sosial media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here