Gunungan di Grebeg Sudiro, Simbol Pembauran Jawa-Tionghoa

Gunungan yang dikirab dalam Grebeg Sudiro menyambut Tahun Baru Imlek, Minggu (19/1/2020). Foto: yds

SOLO (Jatengdaily.com) – Ada yang unik dalam perayaan Grebeg Sudiro menyambut Tahun Baru Imlek, di Solo Minggu (19/1/2020) sore. Dalam kirab Grebeg Sudiro tersebut terdapat iring-iringan, Punakawan maupun gunungan yang berisi sayur mayur dan makanan kecil khas orang Tionghoa.

Gunungan sendiri identik dengan perayaan-perayaan hari kebesaran yang digelar Keraton atau masyarakat Jawa. Dan ternyata ini menjadi simbol dari pembauran antara etnis Jawa dan Tionghoa melalui Grebeg Sudiro tersebut, serta hal itu sudah terjalin sejak puluhan tahun silam. Tak berbeda dengan perayaan hari besar Jawa, gunungan setelah dikirab juga jadi rebutan warga yang menyaksikannya.

Akulturasi budaya antara etnis Jawa-Tionghoa di Grebeg Sudiro ini tak terbatas pada gunungan saja. Sejumlah seni tradisi Jawa juga ditampilkan, seperti jaran kepang maupun reog Ponorogo. Tapi tentu tak ketinggalan seni tradisi etnis Tionghoa juga tampil seperti barongsai dan liong.

Ribuan orang pun memadati area kirab mulai dari Pasar Gede menyusuri kawasan Sudiroprajan. Setiap jalur yang dilewati kirab, di situlah pembauran masyarakat tampak kentara. Mereka mulai dari etnis Jawa, Tionghoa bahkan etnis lain bergembira menyaksikannya. Inilah sebenarnya wujud merawat kebhinekaan yang sudah terjalin di Solo sejak lama.

Sudiroprajan sendiri merupakan kawasan di Kelurahan Jebres, Kota Solo yang warganya antara etnis Jawa dan Tionghoa hidup berdampingan. Bahkan bisa dibilang berdempetan, karena banyak rumah mereka yang rapat berdampingan. Banyak di antara mereka juga yang kemudian melakukan perkawinan dua etnis sehingga tercipta generasi baru.

Dari sinilah muncul perayaan Grebeg Sudiro yang dimulai tahun 2007 sebagai simbol akulturasi yang terbina sejak puluan tahun silam. Perayaan ini biasa digelar tiap tahun, umumnya tujuh hari sebelum Hari Imlek. Menyambut perayaan tersebut di kawasan Sudiroprajan terpusat di Pasar Gede, juga dipasang ribuan lampion untuk menambah kemeriahan.

Tahun ini kirab Grebeg Sudiro diikuti 2.000 peserta dari 62 kelompok. Terdiri dari berbagai RW di Kelurahan Sudiroprajan serta dari kelurahan lainnya.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan, Grebeg Sudiro ini bisa jadi contoh kepedulian warga dalam merawat kebhinekaan dan kemajemukan di Kota Solo. Ini juga dinilai selaras dengan program 3WMP (wasis, waras, wareg, mapan, papan) yang selama ini diupayakan pemkot. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here