Peluncuran Kumpulan Puisi ‘Jelaga Rindu’ Karya Abdul Aziz

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie berfoto bersama pada acara Peluncuran Buku Puisi Jelaga Rindu di Pondok Pesantren Monash Institute, Tanjungsari Barat, Ngaliyan, Semarang. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Mokhamad Abdul Aziz boleh dikatakan nama baru dalam dunia perpuisian di Indonesia, khususnya di Semarang. Namun, dalam buku kumpulan puisi terbarunya, Jelaga Rindu, menunjukkan bagaimana Abdul Aziz telah cukup menguasai peralatan puitik dalam menciptakan puisi-puisinya.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie ketika menjadi pembicara pada acara Peluncuran Buku Puisi Jelaga Rindu di Pondok Pesantren Monash Institute, Tanjungsari Barat, Ngaliyan, Semarang, Senin malam, 12 April 2021. Buku setebal 62 halaman itu diterbitkan Fatiha Media, Sukolilo, Pati, tahun 2021.

Gunoto mengatakan, memang tidak semua puisi dalam buku antologi tunggalnya ini berhasil. Sejumlah puisi Aziz menunjukkan kesatuan yang organis antara bentuk dan isi. Namun, sejumlah puisinya yang lain terkesan agak kedodoran, karena tidak mampu menyatukan antara apa yang diungkapkan dengan cara mengungkapkannya.

“Namun, saya sangat senang sebagai anak muda Aziz termasuk penyair yang setia terhadap konvensi puisi. Persajakan, rima, irama, baris, dan bait diperhitungkannya. Banyak penyair muda yang mengabaikan hal itu, sehingga mereka gagal mencipta puisi yang baik,” katanya.

Menurut Gunoto Saparie, makna dalam puisi sering tersirat atau tidak eksplisit. Oleh karena itu, untuk memahami dan menghayatinya, pembaca sering mengalami kesulitan. Bukan tidak mungkin penafsiran pembaca atas puisi sangat berbeda jauh dengan apa yang dimaksudkan penyairnya. Penafsiran pembaca puisi tergantung latar belakang pendidikan, kultural, sosial, bahkan ekonomi masing-masing.

“Dalam lomba baca puisi karena itu sering terjadi penafsiran pembaca dengan penyairnya, dengan jurinya, sering berbeda. Bahkan antara para juri sendiri memiliki penafsiran masing-masing atas puisi yang dibacakan,” tandasnya.

Gunoto berpendapat, meskipun pengertian puisi, seiring dengan perkembangan zaman, berubah-ubah, namun pada intinya puisi itu merupakan karangan yang terikat. Kalau di masa lalu puisi terikat oleh ketentuan bait dan baris, suku kata, rima, dan irama, namun hari-hari ini ketentuan tersebut lebih cair. Namun, substansi puisi sebagai pemadatan seluruh kekuatan bahasa, merupakan hal elementer yang harus dipatuhi para penyair.

“Mokhamad Abdul Aziz bukan hanya menggarap tema rindu antara lelaki dan perempuan saja, namun lebih subtil lagi. Oleh karena itu, tema rindu dalam puisi-puisinya terpecah dalam subtema-subtema yang berkaitan dengan kemanusiaan, ketuhanan, alam, kesepian, kemasyarakatan, dan lain-lain,” katanya.

Dalam kegiatan ini juga diadakan pembacaan dan musikalisasi puisi yang bersumber dari buku kumpulan puisi Aziz. Mereka adalah Nabil Mualif, Zulfa Amila Shaliha, Wildan Maulana, Romadiah, Ma’bad Fathi, Indah Nur Fadilah, Lia Puji Lestari, dan Ahmad Muntaha. st