Islam Menjaga Kebersihan

Oleh Prof Dr Masrukhi MPd

Guru Besar PKn Unnes

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

KETIKA saya akan berangkat ke masjid nabawi di Madinah, setelah tiba beberapa saat yang sebelumnya di hotel tempat kami menginap di Madinah, terbayang pada benak saya, semua jamaah yang ada di masjid itu memakai masker. Tegur sapa antar berbagai bangsa pun akan terhambat karena memakai masker. Hal ini dilakukan untuk menghindari wabah virus corona yang sedang bomming di seantero dunia.

Bayangan ini sah sah saja, mengingat ketika berada di bandara Soekarno Hatta Jakarta untuk terbang ke Madinah, hampir semua orang memakai masker, sejak petugas bandara, petugas tiket, para pelancong yang akan bepergian, pedagang, hampir semuanya. Pun ketika beberapa hari lalu saya ke Malaysia, Singapura, dan Thailand, semua orang bermasker; mencegah tertularnya virus tersebut. Sehingga bandara-bandara itu hanya berisikan orang-orang bermasker, sebuah pemandangan yang tidak seperti biasanya.

Bayangan itu sirna dan tidak terbukti sama sekali, ketika kaki saya mulai menginjakkan pelataran Masjid Nabawi yang megah itu. Semua orang, dari berbagai bangsa, baik kulit hitam, kulit putih, sawo matang, semuanya hampir tidak tidak ada yang memakai masker. Antar sesama jama’ah pun, meski berlainan bangsa, saling bertegur sapa dengan akrab, meskipun dengan bahasa yang kadang sulit dipahami antar sesamanya. Bersalam sapa pada jamaah sebelah ketika selesai salat, merupakan pemandangan yang biasa. Tidak ada kecanggungan dan kekhawatiran sedikit pun di antara mereka akan tertular virus corona.

Akhirnya saya memahami, bukankah seluruh jama’ah dari berbagai bangsa, yang jumlahnya puluhan ribu itu, semuanya sudah berwudlu?. Ya, semuanya sudah dalam keadaan suci dan bersih baik dari hadats besar maupun hadats kecil, siapa pun mereka, apakah jama’ah yang datang dari negara di timur tengah, dari asia, dari eropa, dari amerika. Semuanya pastilah sudah melakukan wudlu, karena syarat untuk melaksanakan salat salah satunya adalah memiliki wudlu, sebagai isyarat bahwa yang bersangkutan suci dari hadats kecil.

Dari sebuah sumber kesehatan ditegaskan bahwa salah satu upaya pencegahan virus corona, adalah dengan membersihkan tangan secara rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung, dan mata, serta setelah memegang instalasi public. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan bakteri-bakteri yang mengendap pada tangan kita ketika dalam keadaan kotor.

Pantas saja ketika semuanya berkumpul di masjid, jamaah dari berbagai bangsa yang berbeda terkadang bersalaman dan berpelukan antar sesamanya, sebagai pertanda bahwa mereka adalah saudara seiman dan seislam. Sampai di sini saya semakin terharu, bukankah salah satu doa orang yang telah selesai melaksanakan wudlu, adalah permohonan kepada Allah swt, untuk dijadikan sebagai hamba yang bertaubat dan hamba yang suci bersih.

Secara lengkap doa ini berbunyi “Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahuu laa syariikalahu , Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu, Allahummaj’alnii minat tawwabiina waj’alnii minal mutatahhiriin (aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri)”. Do’a ini bersumberkan pada hadits rosulullah saw, yang diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzi, dishahihkan al-Albani.

Maka semakin mantap dalam keyakinan saya ketika berjamaah di masjid nabawi yang besar, dengan jama’ah yang jumlahnya ratusan ribu, dan dari berbagai bangsa di muka bumi ini. Mereka semuanya dalam keadaan bersih dan suci. Tidak perlu lagi ada kekhawatiran apalagi ketakutan tertularnya virus corona, yang di belahan bumi lain sedang menjadi hantu yang sangat menakutkan.

Sementara keadaan jamaah di masjid nabawi sendiri setiap sa’at selalu ramai oleh jama’ah. Cuaca dingin saat ini yang mencapai suhu 7 derajat celcius, tidak menyurutkan niat sedikit pun untuk berjamaah di masjid nabawi ini. Tengah malam pun mereka tetap berdesakan untuk mengharapkan ridlo Allah; salat, dzikir, dan berdoa di roudlah.

Ajaran Islam sangat memperhatikan masalah  kebersihan  dan kesucian. Setidaknya perhatian tersebut dapat dilihat dalam tiga hal berikut. Pertama, perintah wudu khususnya ketika hendak melaksanakan salat. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki”. (Q.S. 5: 6).

Dengan demikian setidaknya umat muslim akan membersihkan dirinya lima kali dalam sehari setiap akan melaksanakan salat fardu. Belum lagi ditambah ketika ia akan melaksanakan salat- salat sunah atau ibadah-ibadah lainnya. Kedua, perintah mandi besar setelah haid, nifas, junub, mengeluarkan air mani ataupun ketika meninggal dunia.”Jika kamu junub, maka bersucilah”. (Q.S.5: 6)

Selain itu, banyak pula mandi-mandi yang disunnahkan saat kondisi-kondisi tertentu. Seperti ketika akan salat Jumat, salat hari raya Idulfitri dan Iduladha, dan lain sebagainya. Ketiga, perintah memotong kuku, membersihakan gigi dan menyucikan pakaian, merupakan perintah langsung baik dari Al Qur’an maupun Hadits. Dan pakaian-pakaianmu, maka sucikanlah. (Q.S. 74: 4).

Demikian pula di dalam sebuah hadits, nabi menegaskan “fitrah itu ada lima – (lima hal yang termasuk fitrah), yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku-kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).Bahkan sebuah ayat Al Qur’an menegaskan bahwa “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang

bertaubat dan menyucikan dirinya”. (Q.S. 2: 222).st