Dodol keranjang mampu bertahan hingga dua bulan. Foto: wing

TEGAL (Jatengdaily.com) -Bagai sayur tanpa garam, mungkin pepatah ini cocok untuk menggambarkan, jika merayakan Tahun Baru Imlek tidak afdol tanpa dodol keranjang.

Adalah Oet Tong Gwat – pengrajin dodol keranjang asal Tegal yang memproduksi sejak tahun 80-an. Dodol keranjang buatan Oey Tong Gwat yang akrab disapa Mindayani Wirdjono (79) masih laris dibeli pelanggan setianya. Usaha kagetan saat Tahun Baru Imlek tersebut diketahui sudah digeluti dirinya sejak tahun 1980.

Saat itu, Mindayani masih tinggal bersama orang tuanya di Komplek Pecinan (Gedung Rakyat) yang kini menjadi Jalan Setia Budi, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Mindayani dalam satu hari mampu memproduksi kue dodol keranjang hingga 30 kilogram.

Jajanan khas yang disajikan saat Imlek dan dipersembahkan untuk para Sinbeng (dewa) itu, dikenal dodol keranjang karena memiliki sebuah folosofi. Dimana pada masanya, dodol disajikan kepada dewa dengan menggunakan anyaman bambu yang menyerupai keranjang, sehingga kini familiar dikenal dengan nama dodol keranjang.

Mindayani sedikit menjelaskan cara membuat dodol keranjang. Dimana kue keranjang itu dibuat dari campuran beras ketan dan gula merah yang diaduk hingga merata. ”Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berupa keranjang-keranjang kecil, dan dikukus dalam panci berukuran besar selama kurang lebih 12 jam,” jelasnya Selasa (14/1/2020).

Sebelum memproduksi dodol keranjang, Mindayani terlebih dahulu menjalani sebuah usaha pembuatan kue, roti, dan jasa pemotongan ayam. Namun, salah seorang karyawannya, Si Wha alias Nyameng memberikan saran kepada dirinya untuk beralih profesi membuat dodol keranjang.

“Awalnya (1980) saya disuruh karyawan membuat dodol keranjang. Karena karyawan saya itu tidak bisa membuat, namun pandai dalam memberikan arahan cara pembuatan,” ujar Mindayani.

Kurang lebih selama enam tahun (1986) memproduksi, karyawannya tersebut meninggal dunia. Hingga akhirnya Mindayani melanjutkan usaha pembuatan dodol keranjang dan dapat bertahan sampai sekarang ini.

Memproduksi dodol harus pintar menjaga mood. Dalam proses pembuatan, pemilik perusahaan atau orang yang membuat kue, dilarang bersedih atau marah-marah. Pasalnya, sesuai kepercayaan, jika saat pembuatan diiringi dengan perasaan sedih, maka hasil kue dodol keranjang tidak akan bagus.

Bahkan, hal tersebut sempat dialami Mindayani ketika suaminya jatuh sakit. Beberapa kilogram adonan yang sudah dikukus, ternyata tidak bisa jadi secara sempurna (rusak, red). Dan berdasarkan pengakuan dia, setelah ditinggal untuk beristirahat selama dua hari, kue tersebut baru bisa masak atau berhasil dikusus.

“Ketika suami saya sakit, saya sempat sedih. Ternyata perasaan saya itu berpengaruh terhadap hasil kue. Namun, setelah saya memutuskan untuk istirahat selama dua hari. Pada hari ke tiganya adonan tersebut kembali dikukus, akhirnya bisa matang. Namun, hasilnya kurang memuaskan,” jelasnya.

Dodol keranjang buatannya dipasok ke sejumlah daerah. Seiring berjalannya waktu, usaha selama kurang lebih 40 tahun itu berkembang semakin pesat. Mindayani, yang juga warga Jalan Blimbing nomor 84 tersebut, kini telah memiliki 20 karyawan. Dari hasil memproduksi kue dodol keranjang dengan merek ‘Sido Makmur’, dia mampu menghidupi delapan anaknya, yang kini dapat dikatakan menjadi orang sukses di Kota Tegal.

“Sekarang ini dalam satu hari saya bisa memproduksi kue keranjang hingga tiga kwintal. Pelangganya tidak hanya dari Tegal saja, melainkan juga datang dari kota-kota besar, seperti Semarang, Pekalongan, Bandung dan Solo,” tegasnya.

Oet Tong Gwat – pengrajin dodol keranjang asal Tegal yang memproduksi sejak tahun 80-an. Foto: wing

Untuk harga per satu kue keranjang (satu seperempat) dijual Rp 5.000. Sedangkan untuk satu dus (10 kg) dijual dengan harga Rp 100.000. Adapun varian rasanya terdiri dari rasa original, pandan dan cokelat.

Menurut dia, biasanya warga keturunan Tionghoa menyantap dodol keranjang setelah melakukan sembahyang, 10 hari setelah Perayaan Tahun Baru Imlek atau Cap Go Meh. Kue tersebut lebih nikmat disantap dalam keadaan keras dan juga digoreng dengan sedikit campuran telur.

Dodol keranjang buatan Mindayani mampu bertahan hingga dua bulan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kue tersebut bisa bertahan sampai satu tahun. Karena berdasarkan cikal bakalnya, dodol keranjang merupakan kue yang dijadikan bekal orang China saat melakukan perjalanan jauh.

“Saya mulai memproduksi sejak awal Januari. Sama seperti perayaan umat Islam, usai diproduksi saya juga membagikan kue dodol keranjang kepada kerabat dan tetangga dekat. Jika umat Islam memberikan ketupat sayur, saya memberikan dodol keranjang,” imbuhnya melempar senyum. wing-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here