Lisan Menghapus Dosa

0
123

Oleh Ahmad Rofiq

Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 1111 M) tokoh sufi, faqih, filosuf yang sangat terkenal dengan karya magnum opusnya Ihya’ ‘Ulumiddin membahas secara panjang lebar tentang 14 bahaya lisan, dalam kelompok bahasan ar-rubu’ al-muhlikat (seperempat yang menghancurkan). Bahkan suatu saat, beliau menjelaskan, bahwa yang paling tajam di dunia ini adalah lisan.

Dengan lisan juga, kata Al-Ghazali, seseorang bisa menghapus dosa-dosa yang dilakukan puluhan tahun ketika ia dalam kekafiran, dan melalui pengucapan dua kalimah syahadat, seseorang menjadi beriman. Karena itu, menjadi ironis dan naif, kalau seseorang sudah bersyahadat, beriman, dan sudah menjalankan semua rukun Islam, hanya karena dia sebagai aparatur sipil negara, yang difahami sebaga bagian dari rejim, dengan mudah dituduh oleh kelolmpok yang hoby mengafirkan orang lain, dianggap sebagai kafir.

Saudaraku tentu ingat seorang tokoh yang hafal Al-Qur’an, bahkan sejak kecil dan sehari-hari pekerjaannya mengajar Al-Qur’an, karena itu disebut al-muqri’, yaitu Abdurrhaman bin Muljam al-Murady. Tokoh Khawarij (sempalan) ini menikah dengan Qatham binti Ashbagh at-Tamimy. Rupanya Qatham ini menyimpan dendam kepada Ali, akibat ayah dan saudara laki-lakinya tewas dalam Perang Nahrawan, dan meminta syarat atau semacam “mahar”-nya adalah membunuh Sahabat Ali karrama Allah wajhahu.

Ibnu A’tsam al-Kufi (m.wikishia.net) menyebutkan, bahwa kecintaan Ibnu Muljam kepada Qatham adalah alasan untuk membunuh Ali. Ibnu Muljam di rumah Qatham meminum arak sampai mabuk. Ketika Ali Sayyidina Ali bin Thalib kw, bangun dari ruku’ pada rakaat kedua dan hendak sujud, pedang Ibnu Muljam yang dilumuri racun bersarang di kepala Ali di mihrab Masjid Kufah. Innaa liLlaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Sekarang ini tampaknya, banyak “sosok-sosok baru” Ibnu Muljam yang “dengan mudah mengumbar” mengkafirkan orang lain. Dalam versi lain, mereka mengutip ayat “in al-hukmu illa liLlah” mereka yang semula pendukung sangat setia Sayyidina Ali, merasa sangat kecewa, karena pasukan Ali yang sudah mau memenangi peperangan melawan Muawiyah, tetapi kemudian meminta gencatan senjata, dan diselesaikan melalui tahkim atau arbitrase. Karena “kekalahan” melalui tahkim inilah, semua yang terlibat dalam arbitrase tersebut, termasuk Ali bin Abi Thalib, dianggap kafir dan halal darahnya.

SubhanaLlah. Rasulullah saw menegaskan: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka bertutur katalah yang baik atau hendaknya diam” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim). “Barang siapa diam maka dia selamat” atau “man shamata najaa” (Riwayat At-Tirmidzi). Lisan adalah jendela hati dan juga ilmu. Karena itu orang yang berbicara, adalah sedang mengemukakan isi kepala dan juga hatinya. Dalam bahasa “gaul”-nya, “mulutmu hari maumu”. Akan tetapi ada yang harus dipertimbangkan, Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Tidak ada baiknya dalam diam dari ilmu, seperti halnya tidak ada baiknya dalam bicara karena kebodohan” (Gharaib Al-Furqan, 1/227).

Oleh karena itulah, Rasulullah saw juga menegaskan bahwa “kualitas keberagamaan orang Islam, adalah orang yang orang lain merasa nyaman dari (tutur kata) lisannya dan tangan (kekuasaan)-nya dan orang yang hijrah adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim). Jagalah lisanmu, bertutur katalah yang baik, karena dari tutur katamu itu, akan mampu merubah sejarah perjalanan umat manusia. Akan tetapi jika tutur katamu itu melukai orang lain, seperti tajamnya pedang membabat habis orang lain, maka dampak sakitnya, bisa tidak akan pernah terlupakan seumur hidup.

Karena itulah, kata Al-Ghazali, “yang paling tajam di dunia ini, adalah lisan”. Sudah terlalu banyak kita mendapat pelajaran berharga, karena sabqu l-lisan atau terpelesetnya lisan. Karena tutur kata lisan yang salah, Papua berduka, karena sabqu l-lisan, seorang yang mendapat “ticket” mencalonkan gubernur, dengan rela hati, mengembalikan “ticket” itu. Karena itu, marilah kita ambil pelajaran dari peristiwa “terpelesetnya” lisan yang berdampak sangat serius dan merusak persatuan dan kesatuan. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here