SEMARANG (Jatengdaily.com) – Sampai saat ini masih banyak guru Bahasa Indonesia yang kurang kreatif dalam memanfaatkan media pembelajaran sastra. Akibatnya, seperti yang sering dikeluhkan, kegiatan pembelajaran sastra cenderung berlangsung monoton, kering, dan membosankan. Seharusnya guru bisa memanfaatkan media sosial, OHP, LCD, sehingga aktivitas belajar-mengajar bisa menarik dan menyenangkan.
Demikian kesimpulan diskusi ringan pada acara Bianglala Sastra Semarang TV di Ngesrep, Semarang, Minggu malam dengan tema Inovasi Pembelajaran Sastra. Dipandu Ketua Komunitas Kumandang Sastra Driya Widiana Didiek MS, acara kali ini menampilkan narasumber dosen FKIP Unissula Turahmat dan Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie.
Turahmat mengatakan, media sosial sangat dekat dan akrab dengan kalangan milenial. Karena itu para guru seharusnya bisa memanfaatkan media sosial untuk pembelajaran sastra. Misalnya menganjurkan agar para siswa menulis status berbentuk puisi di media sosial. Suasana kelas akan hidup dan dinamis karena ada interaksi atau tanggapan dari teman-temannya, baik berupa like maupun komtentar.
“Penggunaan media pembelajaran yang masih konvensional harus ditinggalkan. Para guru harus mengikuti perkembangan zaman dengan melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran sastra. Masih kurangnya kreativitas guru dalam mengaplikasikan media pembelajaran yang inovatif patut kita prihatinkan,” ujarnya seraya menyayangkan bagaimana kebijakan yang ada sering membuat para guru tidak bisa kreatif karena harus mengikuti kurikulum dan dibebani tugas-tugas administratif.
Gunoto menambahkan, para guru seharusnya termotivasi untuk melakukan terobosan, sehingga pengajaran sastra di sekolah menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Dengan demikian, para siswa termotivasi untuk belajar tentang sastra, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan bersastra, baik membaca atau menulis. Guru juga harus lebih mengedepankan pengenalan langsung terhadap karya sastra, terutama yang kontekstual, dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa.
Guru, lanjut Gunoto, bisa memanfaatkan teknologi mutakhir untuk pembelajaran sastra, misalnya menampilkan video pembacaan puisi melalui LCD, pembacaan cerpen, bahkan tayangan film yang diangkat dari karya sastra. Dengan cara itu, para siswa lebih tertarik, katimbang diberi teori-teori yang harus dihafal, nama angkatan dan sastrawan, dan sebagainya.
“Teori bukannya tidak penting. Namun cara menyampaikan teori bisa dilakukan pada saat mengulas tayangan pembacaan puisi atau pemutaran film,” tandasnya.
Pada kesempatan itu empat mahasiswa FKIP Unissula menampilkan pembacaan puisi. Mereka adalah Lukluun Nisak yang membaca puisi “Ketika Engkau Bersembahyang” karya Emha Ainun Nadjib, Nurkholis membaca “Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail, Dina Zahrotun Ni'mah membaca “Kaum Beragama Negeri Ini” karya KH Ahmad Mustofa Bisri, dan Noviana Putri Utami membaca “Sebuah Jaket Berlumur Darah” karya Taufiq Ismail. Ugl–st
0



