in ,

Kedua Kalinya, Kota Solo Tanpa Grebeg Maulud dan Sekaten

Gunungan Grebeg Maulud dalam perayaan Sekaten di Solo pada tahun 2019 lalu. Foto: yanuar

SOLO (Jatengdaily.com) – Untuk kedua kalinya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kota Solo tahun ini tidak dimeriahkan dengan Grebeg Maulud dan pasar malam Sekaten. Kondisi pandemi COVID-19 menjadi alasan pihak Keraton Solo untuk meniadakan prosesi tradisional turun temurun tersebut.

Tahun lalu Sekaten dan Grebeg Maulud juga tidak digelar Keraton Solo. Saat itu juga dalam kondisi pandemi sehingga dikhawatirkan memunculkan kerumunan masyarakat yang ingin menyaksikannya.

Pangageng Parentah Keraton Surakarta KGPH Dipokusumo menyatakan, Grebeg Maulud berpotensi kontak orang banyak dari berbagai daerah kan levelnya berbeda-beda. Meskipun Solo memang sudah level dua, tapi yang datang dari berbagai daerah tidak tahu levelnya.

Dipo mengatakan upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa 19 Oktober ini Keraton Surakarta hanya menggelar acara internal yang dihadiri sekitar 100-an abdi dan sentana serta keluarga. “Kita selenggarakan kegiatan internal saja di Keraton. Kita wilujengan. Ada jamasan pusaka juga,” beber Dipo.

Ttradisi Sekaten di Kota Solo menjadi agenda budaya yang selalu digelar tiap tahun memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama dua pekan digelar pasar malem Sekaten dilanjutkan dengan Gunungan Grebeg Maulud Sekaten sebagai puncaknya.

Gunungan Sekaten berisi bahan makanan dan sayuran ini, merupakan wujud syukur. Sehingga dibagikan kepada masyarakat untuk bisa menikmatinya dan sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun silam.

Dalam perayaan Sekaten, selain Gunungan Grebeg Maulud, prosesi yang ditunggu-tunggu masyarakat adalah dibunyikannya Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Gamelan Sekaten ini biasanya ditabuh selama seminggu hingga saat puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam sepekan gamelan ditabuh nonstop secara bergantian antara Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari. Kedua perangkat gamelan ini ditempatkan di Bangsal Pardogo bagin utara dan selatan

Tradisi tabuhan gamelan Sekaten ini sudah dilakukan sejak zaman dulu. Menabuh gamelan Sekaten merupakan bentuk pelestarian budaya yang dipopulerkan oleh Wali Songo dalam syiar agama. Namun karena pandemi, tahun ini dan tahun lalu seluruh prosesi Sekaten ditiadakan dan hanya digelar internal pihak keraton untuk menghindari kerumunan masyarakat. yds

Written by Jatengdaily.com

Usai Kalahkan Hizbul Wathan 2-1, Persis Fokus Hadapi PSCS

Santri Wajib Pahami Ilmu Agama, Tapi Tak Harus Jadi Kiai atau Da’i