Penghargaan Kebahasaan dan Kesastraan


Oleh Gunoto Saparie
BALAI Bahasa Jawa Tengah (BBJT), yang merupakan unit pelaksana teknis dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun ini kembali memberikan penghargaan kebahasaan dan kesastraan yang diberi nama Prasidatama. Kata Prasidatama itu, menurut Kepala BBJT Ganjar Harimansyah, diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya “menjadi lebih baik”. Seperti artinya, penghargaan ini diberikan untuk memacu lembaga atau penulis, agar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari dan menghasilkan karya-karya yang bermutu.

Kegiatan Penghargaan Prasidatama ini telah dimulai sejak tahun 2013. Awalnya merupakan pemberian penghargaan kepada instansi/lembaga dan para tokoh yang berpengaruh di bidang bahasa dan sastra di Jawa Tengah. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap lembaga dan tokoh yang mempertahankan dan memajukan bahasa dan sastra Indonesia di Jawa Tengah.

Akan tetapi, berbeda dengan sebelumnya, penghargaan untuk kategori kebahasaan tahun ini yang diselenggarakan di Hotel Patra Jasa, Semarang,21 Oktober 2020 lalu, diberikan kepada tiga lembaga, yaitu kepolisian resor, perguruan tinggi, dan rumah sakit di wilayah Provinsi Jawa Tengah, yang dinilai telah menerapkan bahasa negara (Indonesia) di ruang publik dengan baik dan benar. Sedangkan penghargaan untuk kategori kesastraan, sama dengan tahun lalu, diberikan kepada tiga buku sastra terbaik (puisi, cerita pendek, dan novel) karya penulis (dan diterbitkan oleh penerbit) Jawa Tengah.

Untuk kepolisian resor penerima Prasidatama adalah Kepolisian Resor Wonosobo dengan nomine Kepolisian Resor Kebumen dan Kepolisian Resor Sukoharjo. Untuk perguruan tinggi penerimanya Universitas Pekalongan dengan nomine Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara dan Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Sedangkan untuk rumah sakit penerimanya RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang dengan nomine RSUD Prof. Dr. Margono Kabupaten Banyumas dan RSUD Kardinah Kota Tegal.

Untuk antologi puisi penerima Prasidatama adalah Sepasang Amandava karya Achiar M. Permana, dengan nomine Tembang Tengah Musim karya Sus S. Hardjono dan Kota yang Mukimdi Kamar-Kamar karya Setia Naka Andrian. Untuk antologi cerita pendek penerimanya adalah Soetji Lelaki Tua dalam Tiga Peristiwa karya S.N. Ratmana, dengan nomine Ustad Salim Menangis karya Budi Maryono dan Veronica Punya 4 Ayah 4 Ibu karya Gatot Prakosa. Sedangkan untuk novel penerimanya Gandayani karya Saroni Asikin, dengan nomine Dendam karya Gunawan Budi Susanto dan Bau karya Gunoto Saparie.

BBJT membentuk Dewan Juri Penghargaan Prasidatama 2020 ini. Untuk juri penggunaan bahasa di perguruan tinggi terdiri dari Suryo Handono, Erna Rahardian, dan Getmi Arum Puspitasari. Juri penggunaan bahasa di kepolisian resor adalah Sunarti, Sutarsih, dan Dyah Susilawati. Juri penggunaan bahasa di rumah sakit yaitu Agus Sudono, Emma Maemunah, dan Retno Hendrastuti.

Sedangkan juri cerita pendek terdiri dari Handry T.M., Gunawan Budi Susanto, dan Yudiono K.S. Juri novel yaitu Triyanto Triwikromo, Iman Budhi Santosa, dan Sanie B. Koencara. Sementara juri puisi adalah Eko Tunas, Beno Siang Pamungkas, dan Abdul Wachid.
Acung Jempol

Tentu saja kita patut mengacungi jempol langkah BBJT yang memberikan penghargaan kebahasaan dan kesastraan kepada masyarakat, khususnya para pengguna dan apresiator bahasa dan sastra di Jawa Tengah. Apalagi Penghargaan Ptasidatama ini konon akan terus dilakukan di tahun-tahun mendatang. Hal ini karena sebagai instansi yang ditugasi untuk melaksanakan pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, BBJT masih mengemban misi meningkatkan mutu kebahasaan dan kesastraan serta pemakaian dan apresiasinya.

Selain itu lembaga ini juga memiliki misi meningkatkan keterlibatan peran bahasa dan sastra dalam membangun ekosistem pendidikan dan kebudayaan. Termasuk juga misi meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam upaya pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra.

Pemberian penghargaan kebahasaan dan kesastraan itu sangat penting bagi upaya memberikan apresiasi dan motivasi bagi mereka yang telah banyak berkiprah untuk mengembangkan dan membinabahasa dan sastra Indonesia di Jawa Tengah. Mereka yang telah banyak membantu bagi upaya gerakan literasi pengembangan bahasa dan sastra di provinsi ini memang layak diberikan penghargaan.

Memang, banyak sastrawan yang mengatakan bahwa ada penghargaan atau tidak, mereka tetap mencipta karya-karya sastra. Namun, sebenarnya penghargaan itu dapat memacu aktivitas dan kreativitas mereka. Kemampuan dalam menciptakan ide-ide baru yang bermanfaat bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia bisa terangsang dari adanya penghargaan. Bukan hanya bagi penerima Prasidatama, karena kegiatan ini dapat menimbulkan inspirasi karena keteladanan dari para tokoh bahasa dan sastra yang mendapatkan penghargaan tersebut. Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)–Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here