Shalat Idul Adha Harus Patuhi Protokol Kesehatan

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kepala Kanwil Kementerian Agama Jateng H Musta’in Ahmad SH MH mengingatkan agar umat Islam tetap mematuhi protokol kesehatan dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha 1441H maupun penyembelihan hewan kurban.

 ‘’Sudah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Surat Edaran Menteri Agama dan lain-lain yang bisa digunakan sebagai pedoman. Untuk daerah zona merah sebaiknya ikuti petunjuk MUI yaitu tetap melaksanakan shalat Idul Adha di rumah masing-masing sama seperti shalat Idul Fitri yang lalu. Tetapi kalau mau dilaksanakan di masjid atau mushala perhatikan betul protokol kesehatan,’’ tegasnya.

Dia menjelaskan hal itu dalam jamuan makan siang bersama para wartawan di sebuah rumah makan di Jalan Ahmad Yani Semarang, Kamis siang (16/7). Musta’in yang didampingi Kasubag Umum dan Humas Afif Mundzir menggunakan kesempatan itu sebagai media silaturahmi dan berkenalan dengan para insan pers di Jawa Tengah. Sebagai bentuk keterbukaan Kanwil Kemenag Jateng dengan pers, pihaknya akan segera membuka ruang media center agar awak media bisa mengakses informasi terupdate tentang keagamaan di Jateng.

‘’Mari kita sosialisasikan program Kemenag Jateng Majeng,’’ kata mantan Kepala Kantor Kemenag Kota Solo itu.

Menurut A’wan Syuriyah PCNU Kabupaten Karanganyar itu,  Majeng merupakan singkatan dari M yaitu Moderat. ‘’Pengembangan moderasi  beragama dengan memaksimalkan semua potensi yang ada di Kementerian Agama Jawa Tengah,’’ katanya. A artinya Akuntabel, baik dari pimpinan sampai dengan pelaksana dalam pelaksanaan tugas sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. JE maksudnya jernih, antara hati, fikir, ucapan, dan perbuatan yang kita lakukan sama. Dan NG artinya ngayomi. ‘’Mampu memberikan rasa nyaman, perlindungan, sekaligus mampu menyediakan jalan karpet merah bagi semua ASN,’’ katanya.

Silaturahmi dengan Kiai

Usai dilantik Jumat lalu, Musta’in mengaku sudah bersilaturahmi dengan para kiai dan alim ulama di jajaran PWNU Jawa Tengah, PW Muhammadiyah Jateng, Baznas dan akan disambung dengan Majelis Ulama Indonesia.

Sementara itu usai bersilaturahmi dengan PWNU dan Muhammadiyah, Kepala Kanwil Jateng itu mengatakan akan lebih menguatkan sinergi kerja sama dengan semua kekuatan masyarakat untuk menangkal radikalisme yang dari hari ke hari semakin berkembang.

Radikalisme adalah suatu ideologi dan paham yang digerakan oleh sebuah kelompok ataupun organisasi yang menginginkan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara ekstrem dalam tempo yang singkat.

Sebagai upaya menangkal hal tersebut, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah akan menggandeng Ormas Islam untuk mencegah meluasnya paham dan gerakan radikalisme di Indonesia khususnya di Jawa Tengah.

Musta’in Ahmad mengatakan paham dan gerakan radikalisme yang dikembangkan pihak-pihak tertentu itu, telah menyalahgunakan ajaran agama untuk dijadikan legitimasi. ‘’Ini harus dihentikan. Umat Islam di Jateng perlu dibentengi agar tidak mudah terprovokasi, karena itu kami akan menjalin kerja sama dengan ormas Islam, MUI dan FKUB,” tuturnya.

Menurutnya, Kemenag Jateng memiliki penyuluh yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non ASN yang tersebar di seluruh kecamatan, setiap hari mereka berada ditengah-tengah masyarakat untuk memberikan bimbingan dalam menjalankan ajaran agama.

Mereka, lanjutnya, mulai tahun ini disiapkan untuk mensosialisasikan program pencegahan radikalisme dan penguatan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara meski dikemas dengan jargon-jargon agama.

Dia menambahkan semua agama tidak ada yang mengajarkan dan memerintahkan untuk mengembangkan paham dan perilaku radikalisme, terutama agama Islam, karena itulah ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah akan dilibatkan dalam agenda kegiatan ini.

Ormas Islam, tutur Musta’in, memiliki jaringan hingga ke akar rumput, karena itu tepat sekali kalau Kemenag menggandeng Ormas Islam untuk merapatkan barisan di masyarakat agar para radikalis tidak lagi memiliki peiuang untuk menggelar aksinya. st