Sarat Sejarah, Pengging Bukan Sekadar Venue Padusan

Umbul Pengging yang jadi jujugan padusan bernuansa keraton, karena memang peninggalan Pakubuwono X, Raja Keraton Solo. Foto: yds

SOLO (Jatengdaily.com) – Sejumlah objek wisata pemandian di wilayah Solo sekitarnya, mangayubagya menyambut padusan, atau tradisi mandi menjelang hari pertama puasa Ramadan. Salah satunya Umbul Pengging yang menjadi lokasi wisata padusan langganan masyarakat Boyolali, Solo dan sekitarnya.

Umbul Pengging terletak di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Setiap hari padusan, umbul ini padat pengunjung karena juga selalu ditampilkan hiburan-hiburan. Sabtu (4/5/2019) pihak pengelola umbul juga menggelar pertunjukan musik ciblon.

Musik ciblon sering dimainkan remaja pedesaan saat mandi di sungai sehingga menjadi ciri khas masyarakat setempat. Musik ciblon dihasilkan mereka dengan memainkan air melalui entakan dan pukulan tangan hingga mengeluarkan bunyi yang kompak, mengiringi tembang daerah.

Ada tiga lokasi umbul air di Pengging yang selama ini menjadi objek wisata pemandian. Di antaranya, Umbul Temanten, Umbul Ngabean dan Umbul Sungsang. Sebenarnya umbul Pengging bukanlah sekadar venue objek wisata padusan atau pemandian saja. Namun di kompleks Pengging ini memang merupakan daerah yang sarat sejarah tinggi, khususnya berkaitan dengan berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta.

Pemandian Umbul Pengging dulunya konon merupakan sebuah kompleks pemandian peninggalan Kasunanan Surakarta dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta yaitu Sri Paduka Pakubuwono X. Pada awalnya tempat ini adalah tempat bersantai raja dan keluarganya dan tidak di buka untuk umum. Nuansa keraton ini sangat bisa kita rasakan saat mengunjungi Umbul Ngabean.

Para sejarawan meyakini bahwa Pengging adalah cikal bakal Kerajaan Pajang, kerajaan yang mengambil alih kekuasaan di Jawa setelah Kasultanan Demak runtuh. Semenjak berkembangnya Kesultanan Mataram dan masa-masa selanjutnya, wilayah Pengging kehilangan kepentingannya dan pusat pemerintahannya berangsur-angsur menjadi tempat untuk pelaksanaan ritual bagi keluarga penerus Mataram.

Jejak sejarah masa lalu juga masih ada hingga kini. Di salah satu sudut Pemandian Umbul Pengging ada makam Dyah Ayu Retno Kedhaton, putri Prabu Brawijaya. Lalu, ada makam Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging. Selain itu, ada juga orang penting bernama Handayaningrat, orang yang pernah berada di Kerajaan Mataram.

Kompleks makam RNg Yasadipura yang merupakan pujangga besar Jawa (1729-1802). Foto: yds

Tidak hanya pejabat kerajaan saja yang dimakamkan di Pengging. Pujangga Yasadipura I juga beristirahat terakhir di Pengging dan menjadi salah satu ikon wisata ziarah di tempat ini. Tidak sulit mencapai seluruh lokasi tersebut. Jaraknya masing- masing umbul dan makam para tokoh sejarah berdekatan. Hanya ratusan meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.


Yasadipura seperti diketahui merupakan pujangga besar Keraton Kasunanan Surakarta yang lahir: 1729 dan wafat: 1802. Dia merupakan pujangga yang hidup pada masa awal berdirinya kerajaan tersebut.
Bernama asli Bagus Banjar, Yasadipura merupakan putra Tumenggung Padmanegara bupati Pekalongan. Ayahnya ini masih keturunan Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Yasadipura menjabat sebagai pujangga pada masa pemerintahan Pakubuwana III, dan Pakubuwana IV. Tempat kediamannya disebut dengan nama Yasadipuran, yang kemudian diwariskan kepada putranya, yang bergelar Yasadipura II.

Yasadipura meninggal dunia tahun 1802, yang juga merupakan tahun kelahiran cicitnya, bernama Ranggawarsita. Kelak, Ranggawarsita inilah yang mewarisi kepujanggaan Yasadipuran dari kakeknya, Yasadipura II.

Yasadipura I dianggap sebagai pujangga terbesar Pulau Jawa selama abad ke-18. Ia menghasilkan sejumlah karya sastra yang bernilai tinggi. Melansir wikipedia.org, empat karyanya yang paling monumental berupa saduran dari karya sastra bahasa Jawa Kuno terkenal, yaitu Serat Rama, (saduran dari Kakawin Ramayana), Serat Bratayuda (saduran dari Kakawin Bharatayuddha), Serat Mintaraga (saduran dari Kakawin Arjuna Wiwaha) dan Serat Arjuna Sasrabahu (saduran dari Kakawin Arjuna Wijaya).

Masjid Cipto Mulyo di Pengging didirikan PB X di tahun 1909 M menjadi tempat syiar agama Islam hingga sekarang. Foto: yds

Tak salah memang jika Pengging juga bisa menjadi rujukan wisata sejarah. Peninggalan bersejarah lain di kawasan ini yang masih terawat dengan baik yakni Masjid Cipto Mulyo, yang terletak di Desa Bendan. Masjid Cipto Mulyo didirikan PB X di tahun 1909 M. Pembangunannya diperkirakan hampir bersamaan dengan pendirian Sanggrahan Ngeksipurna, salah satu tempat peristirahatan para kaum bangsawan Keraton Surakarta.

Keberadaan Masjid Cipto Mulyo yang berbatasan langsung dengan makam pujangga RNg Yasadipura, sebagai pelengkap kebhinekaan yang ada di wilayah Pengging. Masjid ini menjadi pusat penyebaran Islam di daerah tersebut hingga sekarang. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here