15 Tahun BPRS Bina Finansia, Masih ‘Mencari Jati Diri’

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) 7 Agustus 2021 yang lalu memperingati hari kelahirannya yang ke-15. Bagi BPRS Bina Finansia yang merupakan “metamorfosis” dari BPRS PNM-Binama, perjalanan 15 tahun, ibarat perjalanan hidup manusia, adalah usia yang boleh dikatakan “masih mencari jati diri”.

Hal itu diungkapkan Prof Dr KH Ahmad Rofiq MA, anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) BPRS Bina Finansia. “Dampak pandemi Covid-19, bak badai pasir dan air, menghantam seluruh sendi kehidupan manusia dan bahkan seluruh negara-negara di dunia ini,” katanya.

Negara kita yang hingga satu setengah tahun lebih pandemi merangsek, harus mengambil langkah-langkah yang lebih mengutamakan pada ikhtiar menyelamatkan jiwa manusia. Meskipun harus dilakukan dengan menempuh berbagai langkah dan cara, termasuk menambah utang negara.

Angka kemiskinan juga bertambah dan banyak juga anak-anak yang harus ikhlas dan bersabar untuk merelakan orang tuanya terenggut jiwanya, oleh ganasnya Covid-19. Secara hakikat, urusan nyawa memang menjadi rahasia Allah ‘Azza wa Jalla Sang Pencipta, akan tetapi agama memerintahkan pemeluknya untuk terus berikhtiar semaksimal mungkin.

Yakni, dengan mentaati protokol kesehatan secara ketat, mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas. Pemerintah pun, hingga tulisan ini disiapkan, masih memperpanjang PPKM Level 2,3, dan 4, karena memang masih banyak daerah yang harus menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Menurut Prof Ahmad Rofiq yang menjabat sebagai Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang ini, peringatan hari kelahiran adalah momentum strategis untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

“Atas kerja keras dan kerja sama yang solid jajaran Dewan Komisaris, Direksi, staf, dan karyawan, termasuk di dalamnya Dewan Pengawas Syariah – kebetulan saya diamanati sebagai anggota – untuk mengawal Syariah compliance-nya, BPRS Bina Finansi, alhamdulilah masih mampu menunjukkan kinerja yang baik di tengah gempuran pandemic Covid-19,” jelasnya.

Fakta di lapangan, lanjut Prof Rofiq, banyak mitra atau nasabah yang melakukan usaha, mengajukan restrukturisasi pembayaran angsuran pembiayaan mereka. Islam mengajarkan, agar suatu Lembaga atau seseorang ketika mitra atau nasabahnya mengalami kesulitan, maka seyogyanya dapat memberikan kemudahan untuk menunda pembayaran kewajibannya (QS. Al-Baqarah (2): 280).

Tentu pembaharuan akad melalui restrukturisasi ini, tetap merujuk kepada SOP (Standard Operating Procedure) dan mitigasi risiko, mengingat Bank atau BPRS adalah penerima amanat dari shahibul mal (deposan dan penabung).

Prof Ahmad Rofiq yang menjabat sebagai Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua DPS RSI- Sultan Agung Semarang, dan Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, menegaskan bahwa BPRS Bina Finansia yang dikomandani oleh Bapak Hasan Thoha Putra, M.BA., dan Mas Zainuri sebagai direktur utama, kinerja per-Desember 2020-Juli 2021 menunjukkan posisi aset dari Rp33.739.606.000 naik menjadi Rp33.943.315.000.

Pembaca tentu maklum, ini kelas BPRS. Berbeda dengan Bank Besar lainnya. Pembiayaan naik dari Rp24.419.229.000 menjadi Rp25.501.472.000. Dana Pihak Ketiga (DPK) naik dari Rp27.554.692.000 mengalami sedikit penurunan menjadi Rp24.822.904.000.

Karena pandemi Covid-19 membawa dampak terjadinya pembiayaan yang sedikit bermasalah. Sementara CAR-nya berada di angka 37,41 persen dan NPF sebesar 5,49 persen.

Lebih jauh Prof Ahmad Rofiq yang juga Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, dan Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), manambahkan, jika kita mengambil pelajaran berharga dan memaknai pandemi Covid-19 sebagai ujian massal bahkan secara internasional, maka karakteristik seseorang atau Lembaga justru tampak bagaimana mereka menghadapi situasi sulit, bahkan sistemik, dan mampu mencari terobosan dan solusi.st